Erabaru.net. Gadis berusia 14 tahun Quan Hongchan pada Kamis (5/8/2021) memenangkan medali emas loncat indah nomor menara 10 meter putri Olimpiade Tokyo 2020 dengan nilai tertinggi 466.20. Ia  memecahkan rekor dunia.

Dalam sebuah wawancara usai pertandingan, ia mengatakan secara tulus keinginan hatinya untuk menghasilkan uang. Ia pin segera pulang untuk biaya ibunya yang sedang sakit. Selama wawancara itu, ia lebih banyak berdiam sampai-sampai lupa menyampaikan rasa terima kasih kepada negara dan pelatih yang membimbingnya.

Meskipun medali emas yang diraih oleh Quan Hongchan telah menjadi topik bahasan terpanas di Internet daratan Tiongkok, tetapi bobot perhatian masyarakat dan netizen tidak terletak pada nilai tambahnya terhadap keseluruhan prestasi olahraga Tiongkok di Olimpiade Tokyo.

Para netizen justru lebih berprihatin terhadap kemiskinan, latihan keras dan keterus-terangan seorang Quan Hongchan, yang membuat banyak orang meneteskan air mata. Tentu saja hal ini menjadi ganjalan buat pemerintah komunis Tiongkok yang ingin selalu disanjung.

 Menurut laporan media daratan Tiongkok, Quan Hongchan menghadiri konferensi pers setelah memenangkan medali emas.  

Ketika dihadapkan dengan wartawan yang mengajukan pertanyaan tentang rahasia menyelam untuk mendapatkan nilai penuh, Quan Hongchan dengan tenang mengatakan : “Lewat latihan”, “Latihan sendiri pelan-pelan, donk”.

Kemudian Quan Hongchan mengatakan : “Ibu saya sakit, tetapi saya tidak tahu cara membaca huruf (nama penyakit)-nya, tidak tahu penyakit apa yang diderita, setelah itu saya benar-benar ingin menghasilkan uang, lalu segera pulang untuk biaya pengobatannya. perlu menghasilkan banyak uang agar ia cepat sembuh ……”, ujarnya sambil tersedu-sedu.

Medali emas berat ini telah membuat masyarakat Tiongkok beralih fokus menuju keluarganya yang miskin.

Quan Hongchan lahir di sebuah desa dekat Kota Zhanjiang, Provinsi Guangdong dengan pendapatan per kapita tahunan penduduk sebesar hanya RMB 11.000,- (setara Rp.25 juta). Keluarganya masih tergolong rumah tangga berpenghasilan rendah (pendapatan lebih rendah dari standar hidup minimum setempat).

Orangtua Quan Hongchan memiliki 5 orang anak dan dia menempati urutan ketiga. Ayahnya adalah seorang petani dan ibunya dalam kondisi kesehatan yang buruk. Setelah kecelakaan lalu lintas pada tahun 2017, dia terpaksa beberapa kali dirawat di rumah sakit. Akhirnya tabungan keluarganya habis untuk biaya pengobatan.

Di usia 7 tahun, Quan Hongchan terpilih oleh pihak sekolahan untuk ikut berlatih loncat indah karena ia memiliki bentuk tubuh yang baik, memiliki lompatan berdiri tertinggi, dan memiliki daya lompat yang baik. Quan Hongchan yang tidak suka belajar, saat itu berpikir bahwa dirinya tidak perlu pergi ke sekolah lagi setelah memilih berlatih loncat indah.

Zhanjiang dapat dijuluki sebagai kota loncat indah Tiongkok karena banyak atlet Olimpiade terkenal telah berlatih di Zhanjiang. Banyak keluarga lokal yang miskin berharap anak-anak mereka juga dapat berprestasi dalam loncat indah di masa depan. Adik lelaki dan perempuan Quan Hongchan juga berlatih loncat indah.

Quan Hongchan dalam wawancara terdahulu, pernah mengatakan bahwa dirinya sejak kecil belum pernah ke taman hiburan, kebun binatang, ingin bisa bermain mesin cakar, tetapi tidak punya uang. 

Saat liburan ia ingin juga untuk pergi bermain dengan teman-temannya, tetapi apa boleh buat kecuali berdiam di rumah. Sebelum Olimpiade, Quan Hongchan sudah pernah mengatakan bahwa dia ingin mendapatkan uang untuk merawat ibunya yang sakit.

Kemiskinan mendorong Quan Hongchan untuk mengkonsentrasikan dirinya terhadap olahraga loncat indah yang ia geluti. Pelatih mengatakan bahwa dia berlatih setiap hari, dan dia harus melompat total lebih dari 400 kali di darat dan di air. “Semua hasil ia peroleh melalui latihan keras”, katanya.

Karena kerja kerasnya, di usianya yang 11 tahun Quan Hongchan telah diikutsertakan dalam tim loncat indah Provinsi Guangdong dan terpilih sebagai tim nasional pada usia 13 tahun. Dia mengalahkan banyak pemain terkenal untuk lolos ke Olimpiade Tokyo dan berhasil memenangkan medali emas.

Namun, ketika media resmi partai komunis Tiongkok melaporkan Quan Hongchan, mereka dengan sengaja tidak melaporkan penderitaan hidup keluarga dan dirinya, mengabaikan kurangnya waktu untuk belajar (sehingga tidak dapat menyebutkan nama penyakit ibunya), dan mengabaikan ketekunannya dalam berlatih loncat indah, hanya melaporkan kehebatannya saat badannya menyentuh permukaan air yang nyaris tidak menimbulkan percikan. Juga mengabaikan kesulitan yang harus dia tanggung demi mencapai prestasi tersebut.

Media resmi komunis Tiongkok ingin menggambarkan Quan Hongchan sebagai seorang anak gadis imut yang lucu dan polos yang lahir dan dibesarkan pada era komunis Tiongkok. Tetapi bagaimanapun juga, mereka tidak dapat menutupinya kepolosan yang disampaikan oleh Quan Hongchan justru membuat banyak orang berpikir lebih mendalam, membuat semakin banyak orang merasakan kebohongan pemerintah. Di balik kepolosan dan kemurnian Quan Hongchan itulah dunia nyata yang ia hadapi.

Meskipun seorang Quan Hongchan “beruntung” karena mampu menahan percikan air seminimal mungkin sehingga menggondol medali emas pada loncat indah di nomor menara 10 meter Olimpiade Tokyo, tetapi banyak atlet lain yang tidak memiliki “keberuntungan” yang sama.

Setelah Quan Hongchan memenangkan emas, keluarga tersebut diharapkan dapat keluar dari kemiskinan dan memasuki kehidupan yang lebih baik. Selain dikabarkan bahwa perusahaan dan organisasi lokal berjanji akan memberikan hadiah uang sedikitnya mulai dari RMB. 500.000,-  juga hadiah satu rumah tinggal, satu bangunan toko, dan uang tunai sebesar RMB. 500.000. 

Semoga saja Quan Hongchan yang namanya langsung melejit “dalam semalam”, dapat menarik lebih banyak produsen atau perusahaan besar untuk memanfaatkan kepopulerannya sebagai iklan bagi kepentingan bisnis mereka, yang tentunya menghasilkan uang bagi Quang Hongchan yang masih berusia 14 tahun. (sin)

Sumber : Epochtimes.com

Share

Video Popular