NTD

Pada 10 Agustus, milisi Afghanistan Taliban berhasil merebut 2 kota lagi di Afghanistan, sehingga sudah ada 8 ibu kota provinsi telah diduduki mereka. Bahkan salah satunya hanya berjarak 200 kilometer dari ibu kota Kabul. Puluhan ribu penduduk Afghanistan meninggalkan kampung halaman mereka untuk menyelamatkan diri. Pejabat Uni Eropa mengatakan bahwa Taliban saat ini menguasai 65% wilayah Afghanistan, dan sudah menjadi ancaman bagi 11 ibu kota provinsi

Hanya dalam beberapa jam pertempuran, milisi Taliban telah berhasil menduduki Kota Farah, ibukota Provinsi Farah, dan Kota Pul-e-Khumri, ibukota provinsi Baghlan.

Sejak 6 Agustus, 6 kota lainnya yang telah jatuh ke tangan Taliban semuanya terletak di bagian utara dari Afghanistan. Target Taliban berikutnya adalah Kota Mazar-i-Sharif, kota terbesar di utara.

Bagian utara Afghanistan selama ini merupakan daerah yang anti-Taliban. Jika sampai Kota Mazar-i-Sharif yang berpopulasi sekitar 500.000 orang ini jatuh ke tangan milisi Taliban, maka pemerintah akan sepenuhnya kehilangan kontrolnya terhadap wilayah utara Afghanistan.

Puluhan ribu penduduk melakukan eksodus

Serangan agresif Taliban di wilayah utara dari Afghanistan, telah memaksa ribuan orang penduduk meninggalkan rumah mereka menuju Kota Kabul dan kota-kota lainnya yang dianggap relatif aman.

Banyak keluarga melarikan diri dari kota-kota yang baru diduduki Taliban, karena takut akan mengalami perlakukan brutal dari Taliban. Menurut penuturan Rahima, seorang pengungsi yang berada dalam tenda yang didirikan di sebuah taman di Ibukota Kabul bersama ratusan keluarga lainnya, bahwa militan Taliban memukuli penduduk dan merampok hartanya.

Rahima juga mengatakan : “Jika sebuah keluarga memiliki wanita muda atau janda, mereka (Taliban) akan secara paksa membawa mereka pergi. Kami melarikan diri untuk melindungi harga diri kami”.

Seorang penduduk Kota Kunduz yang diduduki oleh Taliban akhir pekan lalu, mengatakan bahwa bisnis di pusat kota telah berangsur pulih karena para militan lebih memusatkan perhatian mereka pada pasukan pemerintah yang mundur ke wilayah bandara. Tapi kita bisa melihat rasa ketakutan yang terpantul di mata pemilik toko-toko itu.

Penduduk lain yang tinggal di dekat bandara mengatakan bahwa pertempuran sengit telah berlangsung selama beberapa hari. Seorang penduduk bernama Haseeb mengatakan : “Taliban bersembunyi di rumah-rumah penduduk di daerah itu, dan pasukan pemerintah mengebom mereka”. 

Pembelotan panglima perang memperburuk situasi

Selama Taliban melakukan penyerangan terhadap sejumlah kota dan wilayah di Afghanistan, seorang panglima perang lokal pro-pemerintah memberontak dan menyerah pada 9 Agustus, sehingga milisi Taliban dapat menduduki Kota Aibak, ibu kota Provinsi Shamangan dengan mudah. Kejadian tersebut memicu efek domino yang kemudian diikuti oleh kekuatan kunci lainnya.

Mantan duta besar Afghanistan untuk Inggris, Ahmad Wali Massoud yang merupakan saudara dari komandan milisi legendaris Ahmad Shah Massoud yang dibunuh oleh Al-Qaeda pada tahun 2001, mengatakan bahwa  pasukan Afghanistan sama sekali tidak termotivasi untuk mengorbankan jiwa raga mereka demi mempertahankan pemerintah dan politisinya yang korup.

Ahmad Wali Massoud mengatakan : “Mereka tidak berjuang untuk (Presiden) Ashraf Ghani. Mereka bahkan tidak diperlakukan dengan baik, jadi buat apa mereka berjuang mati-matian. Mereka sangat baik dengan Taliban, itulah sebabnya mereka sering saling berpaling atau pergi meninggalkan medan tempur”.

Meskipun banyak komandan tingkat rendah yang menyerah kepada Taliban sebelumnya, mantan Senator Shamangan yang merupakan panglima perang penting dari partai Jamiat-e-Islami, Asif Azimi juga ikut membelot.Sebagian besar anggota dari partai Jamiat-e-Islami adalah etnis minoritas Tajik di Afghanistan. Sebelumnya dipimpin oleh Ahmad Shah Massoud. Sebelum Amerika Serikat mengirim pasukan ke Afghanistan untuk memerangi terorisme pada tahun 2001, Jamiat-e-Islami adalah pemimpin “Aliansi Utara” anti-Taliban. Saat ini, bahkan Asif Azimi telah membelot, dimana efek dominonya akan melemahkan kekuatan pasukan pemerintah.

Dalam sebuah wawancara telepon Asif Azimi menjelaskan bahwa, Jamiat-e-Islami lahir pada 1980-an untuk memberontak melawan rezim yang didukung oleh Uni Soviet. Pada tahun 2001, kerja sama dengan Amerika Serikat dalam perang melawan terorisme telah berjalan menyimpang. Sehingga “Saat ini, kita akan mendukung kekuatan mana pun yang bertempur melawan pemerintah ini”, katanya.

Kekalahan berturut-turut di medan perang telah menempatkan Presiden Afghanistan Ashraf Ghani dalam situasi tekanan yang lebih besar untuk mundur dari jabatannya. Seorang petinggi pemerintah memperingatkan bahwa kecuali semua kekuatan politik anti-Taliban dapat bersatu dan berjuang bersama, jika tidak, Kabul akan jatuh ke tangan Taliban dalam beberapa minggu mendatang.

Pemerintahan Biden mendesak para pemimpin semua partai di Afghanistan untuk berjuang demi negara sendiri

Perang yang disebabkan oleh konflik internal Afghanistan selama bertahun-tahun, telah memanas tajam sejak bulan Mei tahun ini. Meskipun ada pertumpahan darah, Presiden AS Biden tidak berniat memperpanjang batas waktu penarikan pasukan AS pada 31 Agustus. Sebaliknya, ia mendesak para pemimpin semua pihak di Afghanistan untuk bersatu dan berjuang demi negara sendiri.

Biden mengatakan kepada media di Washington bahwa, setelah 20 tahun berperang, saya tidak menyesali keputusan untuk menarik pasukan AS dari Afghanistan.

Pada saat yang sama, Zalmay Khalilzad, negosiator AS di Afghanistan yang saat ini berada di Qatar, mencoba membujuk Taliban untuk menerima perjanjian gencatan senjata.

Pernyataan AS menyebutkan : Taliban telah mempercepat laju operasi militer mereka sehingga mengakibatkan sejumlah korban di pihak sipil dalam konflik bersenjata antara kedua belah pihak, serta pelanggaran hak asasi manusia. Hal ini telah menimbulkan keprihatinan besar masyarakat. Negosiasi damai adalah satu-satunya cara untuk mengakhiri perang. 

Uni Eropa : 11 ibukota provinsi terancam

Seorang pejabat senior Uni Eropa mengatakan pada 10 Agustus bahwa, Taliban saat ini menguasai 65% wilayah Afghanistan dan menjadi ancaman bagi 11 ibukota provinsi. Mereka berusaha merebut ibu kota nasional Kabul dari Aliansi Utara yang anti-Taliban.

Banyak negara anggota UE yang terganggu oleh perang di Afghanistan, khawatir bahwa krisis imigrasi Eropa pada tahun 2015 dan 2016 akan berulang. Pada saat itu, lebih dari 1 juta orang memasuki Eropa dari negara di Timur Tengah yang sedang bergejolak, kemudian menjadi tantangan berat bagi keamanan nasional dan sistem kesejahteraan di Eropa.

Austria, Denmark, Belgia, Belanda, Yunani dan Jerman mengeluarkan surat pernyataan bersama yang memperingatkan, Komisi Eropa (European Commission) bahwa meskipun pejuang Taliban telah membuat kemajuan yang signifikan dalam menyerang kota-kota di Afghanistan, tetapi pemulangan warga Afghanistan yang telah ditolak suakanya di negara lain tidak boleh dihentikan.

Surat itu menyatakan : Menghentikan repatriasi akan mengirim pesan salah dan dapat menginspirasi lebih banyak warga Afghanistan untuk meninggalkan rumah mereka dan datang ke Uni Eropa.

Komisi Eropa menyatakan bahwa pihaknya telah menerima surat termaksud dan akan memberikan tanggapan jika sudah siap. (sin)

 

Share

Video Popular