Erabaru.net. Studi terbaru mengkonfirmasi bahwa bangkai anak singa yang masih tampak utuh ditemukan di lapisan tanah es Siberia pada tahun 2018 yang riwayatnya dapat ditelusuri kembali ke 28.000 tahun yang lalu. Para ahli mengatakan bahwa anak singa gua ini adalah bangkai hewan zaman es yang paling awet yang pernah ditemukan sejauh ini.

Anak singa yang dijuluki “Sparta” ini merupakan singa gua jenis betina, termasuk spesies kucing besar yang sudah punah, badannya berukuran sedikit lebih besar dari singa Afrika modern dengan anggota badannya yang lebih gemuk. Spesies purba ini berkeliaran di tundra yang keras di Belahan Bumi Utara selama Zaman Es.

Bangkai anak singa ini pertama kali ditemukan pada tahun 2018 di Sungai Semyuelyakh, di Timur Jauh Rusia oleh Boris Berezhnev, seorang pemburu mamut berlisensi. Studi terbaru ini mengisyaratkan berapa lama sejarahnya.

Salah satu penulis penelitian, Profesor Love Dalen dari Stockholm Paleogenetics Center, Swedia menyatakan dalam siaran pers bahwa “Sparta” mungkin merupakan hewan zaman es yang paling awet yang tersimpan hingga saat ini, kecuali bulunya yang sedikit berkerut. badan lainnya hampir tidak mengalami kerusakan, cakarnya masih cukup tajam, dan dia bahkan mempertahankan janggutnya.

Selain itu, hanya berjarak 15 meter dari tanah ditemukannya “Sparta”, Boris Berezhnev pada tahun 2017 juga menemukan bangkai anak singa lainnya. Para peneliti awalnya berpendapat bahwa mereka seharusnya memiliki hubungan darah. Namun, setelah diperiksa dengan metode penanggalan radiokarbon baru-baru ini, diketahui bahwa anak singa kedua yang dijuluki “Boris” ini hidup di sekitar 43.000 tahun yang lampau, yang lahir sekitar 15.000 tahun sebelum “Sparta”.

Love Dalen mengatakan bahwa “Boris” adalah singa gua jantan, meskipun bangkainya lebih rusak, tetapi masih terawat dengan baik dan tampaknya seperti tertidur.

Tim peneliti menunjukkan bahwa, dilihat dari perkembangan gigi mereka, “Sparta” berusia kurang dari dua bulan ketika mati, sedangkan “Boris” baru berusia satu hingga dua bulan ketika mati.

Profesor Dalen mengatakan bahwa, mengingat bangkai mereka masih utuh, mereka mungkin terkubur pada saat baru mati, kemungkinan besar mati karena tanah longsor atau jatuh ke dalam retakan di lapisan es.

Para peneliti juga menemukan bahwa bulu dari kedua anak singa gua tersebut sangat mirip dengan anak singa Afrika, tetapi akar berbulu halus lebih panjang dan lebih tebal, yang lebih kondusif untuk menahan hawa dingin, dan gigi berkembang lebih awal dari Singa Afrika, menunjukkan bahwa di lingkungan yang dingin, agar anak singa bisa tumbuh dan berkembang lebih cepat, mereka harus mulai makan daging sejak masih kecil.

Selain itu, bulu “Sparta” berwarna abu-abu hingga coklat muda, sedangkan bulu “Boris” berwarna kuning keabu-abuan muda. Para peneliti memperkirakan bahwa itu berarti warna bulu singa gua dapat menjadi lebih terang seiring pertumbuhan dan telah beradaptasi dengan lingkungan yang tertutup salju di wilayah utara yang dekat dengan kutub.

Penelitian ini diterbitkan dalam jurnal ‘Quaternary’ pada awal bulan ini.(sin/yn)

Sumber: epochtimes

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular