NTD

Sebelum milisi Taliban menduduki Ibukota Kabul dan bersiap untuk mengambil alih pemerintahan pada Minggu, 15 Agustus. Hampir 600 orang tentara pemerintah Afghanistan telah lebih dahulu melarikan diri ke Uzbekistan dengan menggunakan 22 pesawat militer dan 24  helikopter pada 14 Agustus.  Namun, salah satu pesawat bertabrakan dengan pesawat tempur Uzbekistan yang mengawal, dan keduanya jatuh.

Pemerintah Afghanistan runtuh pada 15 Agustus, dan milisi Taliban menguasai ibukota Kabul. Malam itu, sebuah pesawat militer Afghanistan jatuh dalam sebuah kecelakaan di Provinsi Surxondaryo yang terletak di selatan Uzbekistan, yang berbatasan dengan Afghanistan.

Media Uzbekistan melaporkan pada 16 Agustus bahwa 2 orang tentara Afghanistan dalam pesawat militer terluka parah dan dibawa ke rumah sakit di Termez, ibukota Provinsi Surxondaryo untuk mendapat perawatan.Pihak berwenang Uzbekistan menyatakan bahwa pesawat militer Afghanistan dan Uzbekistan bertabrakan di udara, dan pilotnya telah terlontar keluar dari dalam pesawat. Hal ini tidak sesuai dengan pernyataan yang diberikan oleh Kementerian Pertahanan Nasional sebelumnya yang mengatakan bahwa pada saat itu pesawat militer Afghanistan ditembak jatuh oleh pasukan pertahanan udara karena memasuki wilayah udara Uzbekistan.

Pesawat militer Afghanistan melarikan diri

Kantor Kejaksaan Agung Uzbekistan menyatakan dalam sebuah pernyataan bahwa total 585 orang tentara Afghanistan melarikan diri ke Uzbekistan dengan 22 pesawat militer dan 24 helikopter. Selain itu ada 158 orang militer yang melintasi perbatasan Uzbekistan dengan berjalan kaki pada 15 Agustus.Tidak jelas di mana tentara dan pesawat Afganistan ini sekarang berada, ketika mereka pertama kali tiba, mereka dipaksa mendarat di Termez, ibu kota Provinsi Surxondaryo.

Selain pesawat militer tersebut yang melarikan diri ke Uzbekistan, dua pesawat militer Afghanistan yang membawa lebih dari 100 tentara diizinkan mendarat bandara Bokhtar, sebuah kota di Tajikistan pada 16 Agustus.

Agence France-Presse melaporkan bahwa departemen informasi Kementerian Luar Negeri Tajikistan mengatakan kepada Interfax dan RIA : Setelah menerima panggilan darurat, maka pemerintah Tajikistan memutuskan untuk membiarkan tentara Afghanistan mendarat di bandara sesuai dengan kewajiban internasional.

Setelah jatuhnya Kabul, Presiden Afghanistan Ashraf Ghani melarikan diri pada hari Minggu dengan mengklaim untuk menghindari pertumpahan darah. Belum diketahui di mana keberadaannya sekarang. Beberapa pemimpin termasuk Ketua Majelis Nasional tiba di Pakistan pada hari Senin, mengatakan bahwa mereka akan tinggal di sana sampai hari Rabu. Selain itu, lebih dari 200 orang warga Afghanistan termasuk anggota parlemen dan menteri, tiba di ibu kota India, New Delhi.

Afghanistan dengan cepat jatuh ke tangan Taliban. Pada 16 Agustus, Joe Biden yang semula merencanakan tinggal di Camp David, tempat liburan presiden, terpaksa mengubah jadwalnya dan memilih kembali ke Washington pada sore harinya untuk berpidato di Gedung Putih.

Presiden Joe Biden membela keputusan untuk menarik pasukan, menyebutkan bahwa tentara Amerika Serikat tidak semestinya berperang melawan musuh yang tidak ingin diperangi oleh tentara Afghanistan, dan menyalahkan jatuhnya Afghanistan pada penyerahan para pemimpin dan tentaranya sendiri.

Joe Biden mengatakan bahwa bahkan jika militer AS tinggal selama satu tahun, 5 tahun, atau bahkan 20 tahun lagu di Afghanistan, situasinya tidak akan berbeda. Namun, komunis Tiongkok dan Rusia yang akan senang melihat Amerika Serikat terus menyuntikkan ratusan juta dolar dan upayanya untuk mencoba dengan tanpa batas menstabilkan situasi di Afghanistan. (SIN)

Share

Video Popular