Pakar think tank AS baru-baru ini menerbitkan sebuah buku baru, yang mengungkap kisah dalam dari tekanan Komunis Tiongkok terhadap para pakar WHO untuk memalsukan sumber virus. Buku berjudul Aftershocks: Pandemic Politics and the End of the Old International Order,mengatakan bahwa ketika tim investigasi WHO merilis laporan keterlacakan virus di bawah tekanan Komunis Tiongkok, para ahli senior WHO pun terkejut

NTD

Menurut sebuah laporan oleh Voice of America, sebuah buku baru berjudul Aftershocks: Pandemic Politics and the End of the Old International Order,yang baru-baru ini diterbitkan di Amerika Serikat mengungkapkan kisah dalam. Ini juga mengungkapkan hubungan sebenarnya antara WHO dan Komunis Tiongkok, dan mengapa para ahli WHO telah berulang kali mendukung Komunis Tiongkok tentang masalah kebocoran laboratorium.

Penulis buku tersebut adalah Thomas Wright, seorang sarjana dari Brookings Institution, sebuah lembaga think tank Amerika, dan Colin Kahl, wakil menteri pertahanan wanita pertama dalam pemerintahan Biden.

Laporan itu mengatakan bahwa Washington Post menerbitkan sebuah artikel pada 19 Agustus, mengutip rincian dalam buku itu. 

Menurut pakar WHO Ben Embarek, sebelum tim investigasi WHO pergi ke Tiongkok untuk menyelidiki sumber virus Komunis Tiongkok, pihaknya melakukan negosiasi dengan pihak Tiongkok. Namun pihak Tiongkok sama sekali tidak ingin mengangkat isu kebocoran laboratorium, dan juga mengusulkan “tidak ada investigasi keterlacakan. Dalam kondisi tersebut memungkinkan tim investigasi WHO pergi ke Wuhan untuk menyelidiki.

Pada Februari tahun ini, seorang ilmuwan WHO yang berpartisipasi dalam investigasi keterlacakan virus Wuhan mengumumkan klaim bahwa, virus itu berasal dari kebocoran laboratorium adalah “sangat tidak mungkin”, dan tidak perlu penyelidikan lebih lanjut. Hal itu kembali ditegaskan saat laporan investigasi dirilis pada Maret lalu.

Buku itu mengatakan bahwa para pemimpin senior dalam WHO terkejut ketika mereka mendengar pernyataan ini.

Salah satu dari mereka mengatakan kepada penulis buku bahwa ketika dia pertama kali mendengar pernyataan tim investigasi, “kita semua jatuh dari kursi kita.”

The Voice of America melaporkan bahwa, dalam masalah ketertelusuran virus, kerja sama antara WHO dan Komunis Tiongkok telah banyak dikritik oleh masyarakat internasional, bahkan orang menyebut Direktur Jenderal WHO Tedros sebagai “Sekretaris Tedros.” Fotonya berjabat tangan dengan Xi Jinping dalam posisi berlari, tampaknya dengan jelas merekam citra WHO yang menyambut kekuatan Komunis Tiongkok.

Namun, setelah laporan ketertelusuran virus WHO diterbitkan, laporan itu dikritik secara luas oleh dunia luar karena kurangnya transparansi. 

Tedros juga segera mengubah sikapnya terhadap Komunis Tiongkok, mengatakan bahwa dia “tidak mengesampingkan virus yang bocor dari laboratorium Wuhan di Tiongkok.” 

Dia juga mengatakan kepada utusan khusus Komunis Tiongkok di Jenewa bahwa “bahkan jika Tiongkok (Komunis Tiongkok) tidak suka itu,” tetapi dia harus mengatakan yang sebenarnya.

Sejak itu, hubungan antara WHO dan Komunis Tiongkok juga telah turun ke titik beku.

Komunis Tiongkok secara resmi mengkritik WHO pada bulan lalu karena mempolitisasi masalah keterlacakan virus dan menolak untuk menerima penyelidikan ketertelusuran virus lagi.

WHO mengeluarkan pernyataan, menolak tuduhan bahwa “penyelidikan ketertelusuran dipolitisasi.” Dan, memutuskan untuk memulai tahap kedua dari studi ketertelusuran, tetapi Komunis Tiongkok menolak untuk memberikan data yang relevan tentang kasus terkonfirmasi paling awal.

Di sisi lain, Presiden AS Joe Biden juga memerintahkan pada Mei tahun ini, bahwa komunitas intelijen AS akan melakukan penyelidikan terpisah terhadap sumber virus Komunis Tiongkok dan menghasilkan laporan investigasi dalam waktu 90 hari. Menurut rencana yang dijadwalkan, Biden akan menerima laporan investigasi pada akhir Agustus.

Wabah virus  juga dikenal sebagai pneumonia Wuhan atau COVID-19, pertama kali terdeteksi di Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok pada Desember 2019. 

Dengan cepat menyebar ke banyak negara di seluruh dunia di bawah perlindungan otoritas Komunis Tiongkok, dan virus terus bermutasi. Per 19 Agustus 2021, ada 185 negara dan wilayah di seluruh dunia dengan epidemi, dan lebih dari 209 juta orang telah didiagnosis, di mana lebih dari 4,398.000 orang  telah meninggal dunia. (hui)

Share

Video Popular