oleh Zheng Gusheng

Seiring terus menurunnya reputasi pemerintah komunis Tiongkok di dunia internasional, inisiatif ‘One Belt One Road’ (OBOR) yang mereka promosikan terus mengalami kemunduran. Menurut media Prancis, bahwa Republik Demokratik Kongo di Afrika baru-baru ini, menutup 6 perusahaan pertambangan asal daratan Tiongkok. Padahal negara ini baru saja bergabung dengan inisiatif OBOR sejak bulan Januari tahun ini

Agence France-Presse mengutip sumber-sumber lokal pada 21 Agustus melaporkan bahwa gubernur Provinsi South Kivu di Republik Demokratik Kongo, memerintahkan penutupan 6 perusahaan pertambangan yang beroperasi di wilayah Mwenga. Keenam perusahaan ini semuanya milik Tiongkok atau memiliki hubungan kerja sama dengan pemerintah komunis Tiongkok.

Perintah eksekutif mencantumkan keenam perusahaan tersebut dan memerintahkan karyawan lokal dan asing dari perusahaan-perusahaan ini untuk segera keluar dari wilayah. Sampai komite ad hoc menyelesaikan penyelidikannya, maka semua peralatan penambangannya akan disegel.

Republik Demokratik Kongo terkenal karena kaya akan sumber daya mineralnya. Perusahaan pertambangan Tiongkok dituding melakukan penambangan ilegal di dalam negeri dan merusak lingkungan.

Pada tahun 2017, mereka juga tertangkap media asing melalui foto karena mempekerjakan anak di bawah umur. Dokumen tata tertib administrasi menyatakan bahwa dipandang perlu untuk melakukan pemulihan ketertiban di bidang pertambangan semi industri, menjaga kepentingan penduduk setempat, melindungi lingkungan, dan menghormati hak asasi manusia. Bahkan juga disebutkan bahwa ketertelusuran produksi juga harus diwujudkan.

Menurut laporan tersebut, ada banyak penambang independen dan pesaing di wilayah Mwenga. Pemerintah setempat menutup tambang-tambang tersebut untuk meredakan konflik antara penduduk setempat dengan perusahaan tambang Tiongkok.

Pada 6 Januari tahun ini, Menteri Luar Negeri komunis Tiongkok Wang Yi di ibu kota Kinshasa telah menandatangani nota kesepahaman untuk bersama-sama mempromosikan proyek OBOR. Media partai mengklaim bahwa Kongo telah menjadi mitra ke-45 OBOR di Afrika. Negara juga diuntungkan dari perjanjian ini, karena pemerintah komunis Tiongkok menghapus pinjamannya yang besar dan menambahkan lebih banyak dukungan keuangan.

Proyek OBOR komunis Tiongkok telah dipertanyakan dan sering dituduh mengekspor korupsi, merusak lingkungan, dan memperbudak tenaga kerja. Jebakan utang yang dibuat oleh proyek-proyek itu, juga diyakini merusak kedaulatan negara-negara di sepanjang jalur OBOR. (sin)

Share

Video Popular