Tom Ozimek

CEO Pfizer Albert Bourla mengatakan pada Selasa (24/8/2021) bahwa cepat atau lambat di masa depan, sebuah strain COVID-19 yang kebal terhadap vaksin cenderung muncul.

“Setiap kali varian itu muncul di dunia, para ilmuwan kami akan berhasil mengatasinya,” kata Albert Bourla kepada Fox News dalam sebuah wawancara. 

Ia juga mengatakan, “Para ilmuwan kami sedang meneliti untuk melihat apakah varian ini dapat lolos dari perlindungan vaksin kami. Kami belum mengidentifikasi apa pun, tetapi kami yakin bahwa suatu hari cenderung akan muncul salah satu dari varian ini dapat lolos dari perlindungan vaksin kami.”

Ini bukan pertama kalinya Albert Bourla membuat perkiraan yang tidak menyenangkan. Ia membahas masalah ini dalam sebuah wawancara yang luas dengan Fortune pada bulan Februari, sekitar waktu ketika perhatian semakin beralih ke mutasi-mutasi virus Komunis Tiongkok yang baru, patogen yang menyebabkan COVID-19.

Menanggapi pertanyaan mengenai efektivitas vaksin Pfizer terhadap varian yang muncul, Albert Bourla mengatakan ia “cukup yakin” vaksin Pfizer dapat menetralisir mutasi-mutasi baru dan mengutip hasil-hasil laboratorium yang menggembirakan. Pada saat yang sama, ia mengatakan bahwa “pertanyaan mendasar” adalah seberapa besar kemungkinan  akhirnya muncul satu strain Coronavirus yang kebal terhadap vaksin.

“Secara teoritis, ini adalah sebuah skenario yang sangat mungkin. Jika anda melindungi sebuah bagian yang sangat besar dari populasi, dan jika ada sebuah strain yang muncul yang dapat menggunakan kumpulan populasi ini untuk mereplikasi, sementara strain saat ini tidak dapat menggunakan kumpulan populasi ini untuk mereplikasi, jelas-jelas strain ini akan menyalip strain yang asli. Jadi hal tersebut bukanlah sebuah kepastian, tetapi sekarang, saya yakin, sebuah kecenderungan skenario,” kata Albert Bourla.

Saat itu, Albert Bourla mengatakan kepada Fortune bahwa teknologi mRNA, yang digunakan di vaksin Pfizer-BioNTech memungkinkan pengembangan sebuah versi baru yang cepat mampu menciptakan sebuah imunogenisitas yang berbeda yang dapat menutupi mutasi-mutasi baru. 

Albert Bourla  memperkirakan bahwa sebuah vaksin semacam itu dapat dikembangkan dalam waktu sekitar dua bulan, tetapi mencatat hal ini akan tergantung pada beberapa faktor termasuk kerangka peraturan.

Dalam wawancara Albert Bourla dengan Fox News, ia memperluas hal ini, dengan mengatakan bahwa, Pfizer memiliki sebuah proses yang memungkinkan Pfizer mengembangkan sebuah vaksin yang spesifik terhadap varian dalam waktu 95 hari setelah mengidentifikasi sebuah mutasi baru.

Pernyataan Albert Bourla muncul pada hari yang sama di mana Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit melaporkan data baru yang menjelaskan lebih banyak mengenai efektivitas vaksin terhadap varian Delta. 

Berdasarkan sebuah penelitian terhadap 4.217 peserta yang telah menerima vaksinasi lengkap –— 65 persen di antaranya menerima suntikan Pfizer, 33 persen menerima vaksin Moderna, dan 2 persen persen menerima vaksin Jonson&Johnson–—laporan Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit menemukan efektivitas yang lebih rendah atau 66 persen, selama periode Delta yang menonjol dibandingkan dengan bulan-bulan dominasi Delta sebelumnya atau 91 persen.

Sehari sebelumnya, FDA atau Badan Pengawas Obat dan Makanan AS, memberikan persetujuan penuh terhadap peraturan untuk vaksin COVID-19 Pfizer kepada orang-yang orang berusia 16 tahun ke atas, menjadikannya suntikan vaksin yang pertama yang membuatnya melampaui tahap penggunaan darurat saja. (Vv)

Share

Video Popular