Erabaru.net. Seorang teman sebut saja bernama Dapeng memberitahu Hua Zi, seorang apoteker bahwa semalam dirinya mengalami gangguan tidur karena hal-hal yang kurang menyenangkan. Sehingga bolak-balik badan di atas ranjang tetapi tak kunjung tidur. Ketika hampir tertidur keinginan untuk buang air kecil muncul, dan rasa kantuknya malahan hilang setelah kembali dari toilet. Alhasil, dia jadi kurang tidur malam itu, entah karena insomnia yang menyebabkan buang air kecil berlebihan yang membuatnya susah tidur? Muncul pikiran apakah terjadi gangguan pada ginjalnya ?

Hua Zi mengatakan bahwa bukan karena gangguan pada ginjal, tetapi karena insomnia, karena timbulnya kekacauan sekresi hormon yang mengatur diuresis.

1. Produksi urine manusia

 

Darah manusia bersirkulasi secara konstan, dan ketika mengalir melalui ginjal, akan disaring oleh glomerulus untuk membentuk crude urine. Crude urine selain tidak mengandung sel darah dan protein makromolekul, sisa komponen lainnya sama dengan plasma. Di dalamnya masih terdapat banyak zat yang berguna bagi tubuh manusia. Oleh karena itu, ketika crude urine mengalir melalui tubulus ginjal, sebagian besar kandungan air, garam anorganik, dan semua glukosa akan diserap kembali ke dalam darah.

Ketika tubuh manusia beristirahat di malam hari, otak akan mengeluarkan hormon antidiuretik (ADH) yang akan meningkatkan kapasitas reabsorpsi tubulus ginjal dan membuat urine terkonsentrasi, sehingga mengurangi frekuensi buang air kecil dan menghindari penurunan kualitas tidur. Oleh karena itu, urine pagi berwarna lebih gelap dan lebih berbusa, karena urine yang diproduksi waktu tidur lebih pekat.

2. Jumlah urine akan meningkat saat insomnia

Hormon antidiuretik (ADH) disekresikan oleh kelenjar hipofisis posterior di otak dan diatur oleh saraf otonom. Insomnia yang dialami manusia kebanyakan disebabkan oleh kecemasan, ketegangan, dan depresi, yang merangsang saraf otonom dan mengurangi sekresi ADH, Akibatnya, fungsi reabsorbsi tubulus ginjal melemah, dan konsentrasi urine tidak mencukupi, maka frekuensi buang air kecil akan meningkat.

Dengan meningkatnya rasa ingin buang air kecil maka gangguan insomnia akan bertambah parah dan memperburuk kecemasan. Jadi seperti lingkaran setan. Karena selama insomnia, jumlah urine dikendalikan oleh otak. Namun, seringnya ingin buang air kecil pada beberapa orang juga disebabkan karena ada infeksi di sistem kemih, atau penurunan fungsi ginjal, atau hiperplasia prostat pada pria, jika demikian maka sebaiknya segera pergi ke dokter untuk perawatan.

3. Mengobati insomnia dengan bersantai

Kecemasan yang tidak berlarut-larut justru dapat meningkatkan kewaspadaan seseorang, membuat orang lebih termotivasi. Ini sama halnya seperti ketika kita menghadapi tekanan dari pekerjaan atau studi, kecemasan tingkat sedang akan membuat orang lebih fokus dan bekerja lebih keras untuk memecahkan masalah. Namun, ketika gangguan tidur disebabkan oleh kecemasan atau depresi jangka panjang, maka perawatan tepat waktu diperlukan demi memperbaiki kualitas tidur.

Cara sederhana untuk membuat orang tertidur adalah dengan mengatur irama pernapasan. Ketika seseorang terjaga, durasi tarik napas (inhalasi) dan buang napas (ekspirasi) perlu dibuat seimbang, tetapi saat orang tertidur, durasi inhalasi lebih panjang dan pada ekspirasi. Kita juga dapat meniru keadaan pernapasan ini dengan memberitahu otak kita bahwa “tubuh sedang tidur”, yang dapat membantu kita tertidur.

Saat mengatur pernapasan, kita juga harus mengendurkan pikiran dan suasana hati, jangan memikirkan hal lain. Atau melalui mendengarkan suara ombak, angin, hujan, gelombang listrik agar lebih fokus dan membantu tertidur. Jika insomnia sudah berlanjut selama lebih dari sebulan dan disertai dengan meningkatnya rasa ingin buang air kecil dan kecemasan, maka dapat dipastikan bahwa orang yang bersangkutan menderita depresi.

Depresi perlu ditangani oleh psikolog. Di bawah bimbingan dokter, gunakan obat tidur untuk membantu pasien tertidur. Jika bangun tidur tidak merasakan cemas dan berada dalam kondisi pikiran yang baik, maka orang tersebut hanya mengalami gangguan insomnia. Namun, jika bangun tidur masih tidak ada energi, itu mungkin tanda-tanda mengalami depresi, dan yang bersangkutan perlu menjalani psikoterapi atau menggunakan obat antidepresan untuk meredakan insomnia.

Singkatnya, ketika seseorang menderita insomnia, karena regulasi saraf otonom yang abnormal, sekresi hormon antidiuretik (ADH) berkurang, reabsorpsi tubulus ginjal menurun, dan urine tidak cukup terkonsentrasi, maka gejala sering ingin buang air kecil akan muncul. Maka segera mengatur emosi, tetap optimis, dan berusahalah meningkatkan kualitas tidur, dengan demikian insomnia bukan masalah besar. Tetapi diingatkan agar jangan anggap enteng terhadap rasa ingin pipis yang disebabkan oleh penyakit pada sistem kemih.(sin/yn)

Sumber: aboluowan

Video Rekomendasi:

Share
Kategori: NEWS SEHAT

Video Popular