Adam Michael Molon

Penyelidikan mengenai asal usul pandemi COVID-19 harus dilanjutkan, kata Thomas Wright, seorang rekan senior kebijakan luar negeri di lembaga pemikir Brookings Institution yang berbasis di Washington, setelah awal minggu ini badan-badan intelijen Amerika Serikat memberikan sebuah penilaian yang tidak meyakinkan mengenai masalah ini kepada Presiden Joe Biden.

Thomas Wright, rekanan senior di lembaga pemikir Brookings Institution kepada The Epoch Times mengenai penyelidikan asal muasal COVID-19 mengatakan, “Adalah sangat penting untuk memahaminya, mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.”

Thomas Wright, salah satu penulis buku baru “Aftershocks: Pandemic Politics and the End of the Old International Order,” yang ditulisnya bersama dengan Colin Kahl yang sekarang adalah Wakil Menteri Pertahanan AS untuk Kebijakan , mengatakan bahwa ia “tidak terkejut” bahwa laporan terbaru mengenai asal mula pandemi itu adalah tidak meyakinkan, mengingat penundaan dan penolakan rezim Tiongkok untuk bekerja sama.

“Untuk melakukan penyelidikan yang tepat, anda memerlukan kerja sama Tiongkok, dan jelas-jelas Tiongkok menolak nya, jadi hal tersebut membuat penyelidikan yang tepat adalah sangat sulit,” kata Thomas Wright. 

Ia menambahkan bahwa sementara masih ada pertanyaan mengenai apakah pandemi dimulai dengan sebuah kebocoran laboratorium dari Institut Virologi Wuhan atau melalui sebuah pasar basah Wuhan, status Tiongkok sebagai sumber pandemi adalah sudah jelas.

Thomas Wright menegaskan : “Bukti itu adalah luar biasa bahwa [pandemi] berasal dari Tiongkok. Saya berpikir sangat sedikit orang selain pemerintah Tiongkok … akan membantah hal itu dengan cara apapun.” 

Tindakan Komunis Tiongkok ‘Menjadi Bumerang’ Bagi Partai Komunis Tiongkok

Dalam buku Aftershocks: Pandemic Politics and the End of the Old International Order,” Thomas Wright dan Colin Kahl merinci kerahasiaan Partai Komunis Tiongkok terhadap wabah COVID-19, itu setelah kemunculan wabah tersebut di Wuhan, serta upaya Partai Komunis Tiongkok untuk memanfaatkan pandemi sebagai sebuah cara untuk meningkatkan kebangkitan dan kekuatan Partai Komunis Tiongkok di mata internasional, berhadapan dengan negara-negara lain.

Thomas Wright dan Colin Kahl mencatat bahwa reaksi pertama Partai Komunis Tiongkok terhadap COVID-19 adalah ketakutan dan penindasan informasi terkait, menulis bahwa “seorang pejabat Kedutaan Besar Amerika Serikat” memberitahu kami bahwa mereka belum pernah melihat pejabat Tiongkok bersikap ‘tidak percaya diri, ketakutan, dan gugup’ saat mereka berada [di awal pandemi] … Beijing menyadari jika berita mengenai tanggapan awalnya yang gagal itu bocor, maka hal itu dapat merusak Partai Komunis Tiongkok. Jadi Xi [Jinping] bertekad untuk bertindak cepat melawan suara siapa pun dengan pendapat yang berbeda di Tiongkok yang mempertanyakan narasi resmi.”

“Tidak diragukan lagi [pejabat-pejabat Tiongkok] …sangat khawatir pada Januari 2020,Kekhawatiran itu membuat rezim Tiongkok menjadi lebih bersifat menindas dan tertutup mengenai pandemi,” kata Thomas Wright. 

Terlepas dari tindakan penindasan Partai Komunis Tiongkok–—yang memungkinkan penyebaran COVID-19 di seluruh dunia dan menghalangi pertahanan yang efektif melawan pandemi—–negara-negara lain, terutama di Eropa, pada awalnya menunjukkan niat baik melalui pemberian bantuan yang signifikan untuk Tiongkok. Beberapa bulan kemudian ketika pandemi melanda Eropa, Komunis Tiongkok membalas budi melalui pendekatan transaksional untuk bantuan yang juga dimanfaatkan sebagai sebuah acara propaganda untuk rezim Tiongkok.

Thomas Wright dan Colin Kahl mencatat dalam buku mereka, bahwa Uni Eropa diam-diam mengirim bantuan kemanusiaan ke Tiongkok pada awal pandemi, dengan perhatian khusus diberikan untuk menghindari rasa malu bagi Komunis Tiongkok. Thomas Wright dan Colin Kahl menulis bahwa Presiden Prancis Emmanuel Macron memberitahu seorang ajudan bahwa pemerintah Tiongkok akan mengingat sikap niat baik ini.

Namun, pada saat Eropa sendiri sedang berjuang melawan pandemi, “Tiongkok tampaknya membalas dan mulai mengirim bantuan—–namun pihak berwenang Tiongkok bersikeras bahwa kedatangannya disambut dengan beberapa keriuhan dan deklarasi-deklarasi publik mengenai dukungan dari negara-negara penerima, membuat semuanya tampak secara eksplisit transaksional,” kata buku tersebut.

“Dalam satu kasus, Italia menyumbangkan tiga puluh ton peralatan ke Tiongkok, yang Tiongkok kemudian membalas–—dan kemudian menuntut pemerintah Italia untuk sumbangan tersebut.”

Thomas Wright, yang lahir dan besar di Dublin, Irlandia, mengatakan bahwa tindakan Partai Komunis Tiongkok yang sinis, sehubungan dengan bantuan terkait-pandemi adalah “semacam mengejutkan” untuk negara-negara Eropa.

“Hal tersebut menjadi bumerang bagi negara-negara Eropa,” kata Thomas Wright, merujuk pada rezim Tiongkok. “Kebencian yang berkembang biak itu, dan negara-negara lain melihat apa yang mereka lakukan. Khususnya di Eropa, hal itu mengakibatkan sebuah perubahan sikap yang besar dan bahkan perubahan kebijakan terhadap Tiongkok.”

Perubahan kebijakan Eropa yang dikutip oleh Thomas Wright dan Colin Kahl, mencakup langkah untuk mencegah perusahaan Tiongkok atau aktor yang didukung Tiongkok untuk mengeksploitasi pasar Eropa dan membeli aset Eropa dengan harga rendah, mendorong perusahaan telekomunikasi Tiongkok Huawei keluar dari infrastruktur 5G Eropa, dan melakukan hubungan yang bervariasi secara  internasional untuk mengurangi ketergantungan ekonomi Uni Eropa pada Tiongkok.

“[Orang-orang Eropa] mulai berbicara lebih percaya diri mengenai ketegasan Tiongkok, terutama tindakan keras Tiongkok terhadap para pengunjuk rasa mahasiswa di Hong Kong dan penindasan massal Tiongkok terhadap populasi Muslim Uighur di Xinjiang,” tuis para penulis.

Sorotan mengenai Kesuksesan Taiwan

Meskipun umumnya kritis terhadap mantan Presiden Donald Trump di buku tersebut, Thomas Wright dan Colin Kahl memuji Operasi Berkecepatan Ekstrem di masa pemerintahan Presiden Donald Trump, yang  diluncurkan pada bulan Mei 2020, yang menghasilkan produksi vaksin COVID-19  dalam waktu kurang dari satu tahun. Mereka juga mencatat, “Bertentangan dengan catatan yang paling sering diberikan, beberapa pejabat senior di masa pemerintahan Presiden Donald Trump, sudah curiga terhadap Tiongkok, menyadari besarnya apa yang terjadi di Wuhan lebih cepat daripada pemerintah lain kecuali Taiwan.”

Thomas Wright, yang hadir di Taiwan selama pemilihan kepresidenan Taiwan pada Januari 2020, menunjuk Taiwan yang demokratis,  memiliki kurang dari 900 kasus kematian akibat COVID-19 hingga saat ini, sebagai sebuah model tatalaksana pandemi yang sukses, dengan mengatakan bahwa Taiwan memanfaatkan pelajaran dari pengalamannya terhadap wabah SARS pada tahun 2003 yang juga berasal dari Tiongkok.

“Sungguh luar biasa apa yang dilakukan Taiwan sejak awal,” kata Thomas Wright.

Para penulis mencatat bahwa, Taiwan adalah badan pertama yang memperingatkan Organisasi Kesehatan Dunia terhadap sebuah “pneumonia atipikal” dari Wuhan pada tanggal 31 Desember 2019. “Sayangnya, tidak ada yang memperhatikan terhadap peringatan Taipei,” demikian pernyataan buku tersebut.

Para penulis juga meminta Taiwan untuk diterima sebagai pengamat Organisasi Kesehatan Dunia -WHO- sebuah status yang dimiliki Taiwan dari tahun 2009 hingga 2016, hingga akhirnya diblokir oleh Beijing pada 2017 setelah terpilihnya Presiden Tsai Ing-wen, yang dikenal bersikap keras terhadap Tiongkok.

Thomas Wright menganggap “penting” bahwa Taiwan diizinkan untuk berpartisipasi dalam Organisasi Kesehatan Dunia sebagai pengamat, “karena, jelas-jelas, pandemi tidak menghormati perbatasan-perbatasan.”

“Taiwan adalah bagian dari dunia … dan Taiwan dipengaruhi oleh ancaman-ancaman transnasional ini, tetapi Taiwan juga memiliki banyak hal untuk ditawarkan,” tambah Thomas Wright.

Masyarakat Bebas ‘Secara Tidak Terpisahkan Mengancam’ Partai Komunis Tiongkok

Thomas Wright lebih lanjut membahas perjuangan komprehensif yang berkelanjutan antara Amerika Serikat dan komunis Tiongkok.

“Ada dua gagasan yang sangat berbeda mengenai cara dunia harus diatur, Tiongkok, pemerintah Tiongkok pada dasarnya ingin dunia aman untuk Partai Komunis Tiongkok dan untuk rezim Tiongkok.” kata Thomas Wright. 

Sebaliknya, Amerika Serikat dan sekutunya “menginginkan sebuah dunia yang aman untuk demokrasi dan masyarakat bebas,” kata Thomas Wright, menggambarkan visi ini “secara tidak terpisahkan mengancam” rezim Tiongkok.

Sementara dunia menjadi semakin nasionalistis, dengan kesepakatan yang lebih sedikit mengenai “bagaimana mengatasi tren transnasional,” kata Thomas Wright, Amerika Serikat dapat membuat upaya untuk “bekerja dengan negara-negara dan demokrasi yang berpikiran sama.”

Di Amerika Serikat, menghadapi ancaman yang ditimbulkan oleh totaliter Tiongkok adalah salah satu dari sedikit masalah bipartisan dalam politik, kata Thomas Wright.

“Saya pikir ada kesamaan yang bermakna dalam beberapa hal, khususnya hubungan-hubungan jangka panjang dengan Tiongkok, Kami telah berhasil di sejumlah area di sekitar kebijakan Tiongkok,” tambah Thomas Wright.

Thomas Wright yakin bahwa Amerika Serikat akan terus memperkuat tindakan-tindakannya dalam melawan rezim Tiongkok. Ia berpikir negara mana pun, terutama Tiongkok, yang menganggap Amerika Serikat sedang mengalami kemunduran adalah membuat sebuah kesalahan. 

Thomas Wright, menambahkan bahwa Amerika Serikat memiliki ‘kekuatan yang kekal. “Saya tidak berpikir pemerintah Tiongkok akan berhasil mencapai tujuannya,” pungkasnya.  (Vv)

Share

Video Popular