Li Lan – NTD

Pesawat militer terakhir yang meninggalkan Kabul, pada akhirnya Amerika Serikat menyudahi perang 20 tahun di Afghanistan. Jadi, apakah misi kontra-terorisme AS akan berakhir?  Itu terjadi pada sore  30 Agustus. 

Mantan Duta Besar AS untuk Afghanistan Ryan Crocker mengatakan, hal ini sangat melegakan. Baru setelah serangan bunuh diri di Kabul minggu lalu, ia menyadari bahwa Marinir dan tentara AS berada di garis depan,  tidak ada seorang pun di di depan mereka untuk melakukan tugas skrining. Jadi, melihat pesawat terakhir pergi sungguh melegakan.”

Reporter investigasi Washington Post, Craig Whitlock mengatakan  hal ini adalah evakuasi yang mengkhawatirkan dan berisiko. Banyak hal bisa salah. Sungguh menakjubkan ketika militer AS dapat menyelesaikan misi evakuasi.”

Setelah al-Qaeda melancarkan serangan teroris 11 September, Taliban yang menguasai Afghanistan pada saat itu menolak untuk menyerahkan pemimpin teroris Bin Laden. 

Presiden AS George W. Bush saat itu, memulai perang di Afghanistan. Koalisi pimpinan AS memasuki Afghanistan dan melenyapkan Al-Qaeda dalam beberapa bulan. Lalu, mengusir rezim Taliban. Pada 8 Juli 2021, ketika Presiden AS Joe Biden mengumumkan pada 31 Agustus adalah tanggal terakhir penarikan pasukan AS dari Afghanistan, situasi di Afghanistan dengan cepat berubah secara dramatis. Kini Taliban mengambil alih Kabul.

Ryan Crocker mengatakan, Kunci berikutnya adalah Taliban. Taliban memiliki hubungan dengan Al Qaeda. Jika Taliban kembali, AS  memiliki alasan untuk percaya bahwa Al Qaeda akan kembali bersama mereka.  Kembalinya Taliban digambarkan sebagai kemenangan besar bagi kaum radikal. Ini bersifat transnasional. Jadi kita memasuki tahap yang sangat berbahaya, ia khawatir AS akan menemukan bahwa perang belum berakhir.”

Adapun mengapa Amerika Serikat terlibat dalam perang di Afghanistan selama 20 tahun dan pelajaran apa yang harus dipelajari, mantan duta besar AS untuk NATO, Letnan Jenderal Douglas Lute, percaya bahwa upaya Amerika Serikat untuk membangun sistem demokrasi di Afghanistan untuk mencegah terulangnya terorisme telah gagal. Tampaknya hanya mengekspor manifestasi sistem demokrasi tanpa meninggalkan nilai-nilai demokrasi, maka tidak akan berhasil.

Craig Whitlock, percaya bahwa Amerika Serikat harus merenungkan strategi anti-terorisme apa yang harus dirumuskannya.

Perang selama 20 tahun di Afghanistan mengakibatkan terbunuhnya lebih dari 2.300 tentara Amerika dan sedikitnya 110.000 orang Afghanistan. Menurut sebuah studi oleh Craig Whitlock tentang kontrak Departemen Pertahanan AS, sekitar 19 miliar dolar AS atau Rp 271 triliun dana pembayar pajak AS jatuh ke tangan Taliban dan sekutu mereka. (hui)

 

Share

Video Popular