oleh Ye Zeyu

Otoritas rumah sakit mewajibkan semua karyawan untuk divaksinasi mulai 1 September. Kecuali bagi mereka yang memiliki surat keterangan dokter, karyawan yang tidak bersedia divaksinasi wajib secara teratur memberikan hasil pengujian asam nukleat dengan biaya sendiri. Pada 28 Agustus, seorang karyawan wanita Kowloon Hospital dilarikan ke rumah sakit karena penyakit jantung akut dan meninggal pada keesokan harinya. 3 hari sebelum kematian ia telah disuntik dengan vaksin Sinovac. 

Seorang juru bicara Kowloon Hospital dan United Christian Hospital menyatakan bahwa karyawati yang meninggal tersebut, benar telah menerima suntikan vaksin Sinovac dosis pertama di stasiun penyuntikan yang berada dalam rumah sakit tempatnya bekerja, pada 26 Agustus. Tidak terjadi hal-hal lain selama dalam waktu observasi usai vaksinasi. 

Pada 28 Agustus, dia dilarikan ke Unit Gawat Darurat United Christian Hospital karena nyeri dada akut. Dia awalnya didiagnosis menderita penyakit jantung akut. Setelah diselamatkan, dia dikirim ke Unit Perawatan Jantung Intensif untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut, tetapi selama itu kondisi pasien terus memburuk hingga meninggal dunia pada keesokan harinya.

Staf medis menyampaikan belasungkawa kepada anggota keluarga karyawati tersebut. Pihak Kowloon Hospital juga merasa kehilangan dengan kematian karyawatinya dan berjanji akan memberi santunan kepada anggota keluarga yang ditinggalkan.

Juru bicara tersebut menunjukkan bahwa, kasus tersebut telah dilimpahkan ke pihak berwenang untuk ditindaklanjuti.  Pihak rumah sakit melaporkan kasus tersebut kepada Kementerian Kesehatan sesuai dengan mekanismenya.

Otoritas Rumah Sakit mengumumkan bahwa demi lebih melindungi keselamatan karyawan dan pasien, mulai 1 September dan seterusnya, kecuali mereka yang telah divaksinasi atau memiliki sertifikat medis, maka karyawan lain yang tidak bersedia divaksin wajib melakukan pengujian asam nukleat di luar waktu jam kerja dengan biaya sendiri setiap dua minggu.

Otoritas rumah sakit menyatakan bahwa pihaknya telah mendorong karyawan untuk divaksinasi. Mulai 1 September, jika ada karyawan yang belum menerima vaksin, biaya tes dapat dikembalikan jika mereka dapat memberikan sertifikat yang dikeluarkan oleh praktisi medis barat yang terdaftar.

Kementerian Kesehatan setempat pada 1 September malam mengumumkan bahwa, tercatat hingga 31 Agustus, terdapat total 38 kasus kematian dalam waktu 2 minggu setelah vaksinasi. 

Komite ahli menyimpulkan bahwa 19 kasus kematian itu tidak terkait langsung dengan vaksinasi, dan menduga bahwa 19 kasus sisanya juga tidak terkait dengan vaksinasi. 

Komite ahli masih yakin bahwa vaksinasi adalah aman, sejauh ini mereka tidak menemukan adanya fenomena abnormal, dan berjanji akan terus memantau situasi serta mengumpulkan data untuk evaluasi. (sin)

Share

Video Popular