oleh Xu Jian

Pembawa acara TV Afghanistan wanita bernama Beheshta Arghand beberapa waktu lalu telah melakukan wawancara “kelas sejarah” dengan pejabat senior dari Taliban dalam acara televisi yang dibawakannya. Tidak lama kemudian ia melarikan diri dari Afghanistan dan mengungkapkan isi wawancara tersebut yang dinilainya sebagai sebuah pertunjukan dari Taliban dengan tujuan untuk mendapatkan dukungan internasional

Media Inggris ‘The Guardian’ melaporkan pada 2 September, 17 Agustus, pembawa acara TV swasta TOLO bernama Beheshta Arghand dalam ruang wawancara studio dengan seorang pejabat senior Taliban, telah “membuat sejarah” dari sebuah program, karena Taliban sebelumnya melarang kaum perempuan tampil di layar televisi.

Beheshta Arghand yang berusia 24 tahun, kini telah melarikan diri ke Qatar. Dia mengungkapkan bagaimana militan Taliban mengusir wanita dari dunia pers. 

“Taliban tidak menerima (staf) kaum perempuan, ketika sekelompok orang tidak memperlakukan Anda sebagai manusia, maka sangatlah sulit”, ujarnya.

Dengan mengingat-ingat kejadian saat itu, Beheshta Arghand mengatakan bahwa ketika dia sedang bekerja hari itu, tiba-tiba seorang pejabat Taliban muncul tanpa diundang di studionya dan meminta saya untuk melakukan wawancara. Beheshta sampai panik dan dengan cepat membenahi jilbabnya. “Saya kaget dan bingung melihat mereka datang (ke stasiun TV) …”

Wawancara Taliban dengan Beheshta Arghand tak lain hanyalah sebagai sarana propaganda, dan berita tersebut menjadi berita utama di seluruh dunia. Taliban seakan telah menciptakan penampilan yang lebih santui, lembut dan mengklaim menghormati hak-hak perempuan.

Namun Beheshta Arghand mengatakan bahwa di luar kamera, apa yang Taliban janjikan lewat wawancara TV itu segera runtuh. Sekitar seminggu kemudian, hidupnya berubah menjadi mimpi buruk. Taliban memerintahkan TOLO News untuk membuat semua wanita memakai jilbab, kecuali wajah, seluruh kepala harus tertutup rapat. Taliban juga menangguhkan pekerjaan pembawa berita wanita yang bertugas di stasiun lain.

Dia mengatakan bahwa Taliban meminta media untuk tidak membicarakan tentang berita politik seperti pengambilalihan kekuasaan oleh Taliban. “Jika tidak diizinkan untuk mengajukan pertanyaan, bagaimana bisa menjadi reporter ?” keluhnya.

Meskipun Taliban menjamin kebebasan media dan mengatakan bahwa kaum perempuan akan memiliki kesempatan untuk menerima pendidikan dan pekerjaan, tetapi Beheshta mengatakan bahwa banyak rekan perempuannya telah meninggalkan negara itu. 

Berkat bantuan Malala Yousafzai, seorang pembela hak asasi manusia Pakistan yang memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian. Beheshta berhasil melarikan diri dari Afghanistan bersama keluarganya.

“Saya menelepon Malala dan bertanya apakah dia bisa melakukan sesuatu untuk saya”, tanya Beheshta Arghand. Dalam renungan tentang masa lalu ia mengatakan bahwa dirinya  sangat mencintai Afghanistan dan karirnya di media. Dia memilih karir ini meskipun mendapat pertentangan dari keluarganya.

“Ketika saya duduk dalam pesawat (yang membawanya lari dari Afghanistan), saya berkata kepada diri sendiri bahwa saya tidak punya apa-apa lagi sekarang,” ujarnya.  (sin)

Share

Video Popular