Emily Allison


Serial khusus Epoch TV membahas tema “The Dark Origins of Communism”  atau “Asal Mula Kegelapan Komunisme,” Episode 1 berjudul  “War on the Human Spirit” atau  “Perang terhadap Roh Manusia,” Joshua Philipp, jurnalis investigasi untuk The Epoch Times, menawarkan sebuah pandangan yang cemerlang dan membuka mata mengenai asal-usul komunisme dan hasil mengerikan yang mengikutinya.


Joshua Philipp mulai membicarakan keinginan akan kedamaian, kemakmuran, dan kebahagiaan, yang merupakan keinginan alami dalam kodrat manusia. Namun, keinginan untuk kebaikan dapat dieksploitasi, digunakan oleh orang-orang yang melakukan kejahatan. 


Komunisme mengiklankan dirinya dengan menjanjikan sebuah surga buatan manusia di bumi, tetapi seperti yang terlihat sepanjang sejarah, apa yang disampaikan ideologi ini adalah sebuah neraka yang hidup.


Lihat Episode The Dark Origins of Communism


Buku Harvard University Press berjudul “The Black Book of Communism” atau “Buku Hitam Komunisme” mengaitkan lebih dari 100 juta kematian di seluruh dunia dengan ideologi komunis, tetapi dalam penelitian terbaru, angka itu bahkan lebih tinggi. 


Di setiap negara di mana komunisme memperoleh kekuasaan, otoritarianisme dan kematian mengikuti di belakangnya. Karl Marx dan Friedrich Engels mengatakan dalam Manifesto Komunis mereka sebuah ideologi perjuangan, yang, dengan kata-kata mereka sendiri, “menghapus semua agama dan semua moralitas.”


Hancurkan Iman dan Kehancuran Enginering


Para pemimpin pemikiran komunis ini yakin bahwa pembangunan terjadi sebagai sebuah hasil perjuangan dan  hidup tidak lebih dari materi. Jika hidup adalah tidak lebih dari materi, maka hidup menjadi dapat dihabiskan, untuk dimanipulasi dan digunakan untuk apa yang disebut kebaikan yang lebih besar, yang bertentangan dengan apa yang dianggap baik oleh orang-orang normal. 


Joshua Philipp menunjukkan bahwa kebanyakan orang tidak melihat kelaparan, kematian, dan penindasan dengan baik, namun para pemimpin komunis merayakan kelaparan, kematian, dan penindasan sebagai sebuah kesuksesan.

Misalnya, sebuah kelaparan buatan manusia melanda Rusia pada tahun 1921, sebagai akibat rezim komunis menyita alat-alat petani dan menangkap siapa saja yang menentang pemerintah. Akibatnya, 5-10 juta orang yang tidak berdosa, keluarga-keluarga dan anak-anak diperkirakan tewas. Para petani yang seharusnya dibantu oleh komunisme malah dibantai di bawah kekuasaannya. 


Lenin  sangat gembira dengan kejadian ini, mengatakan bahwa kelaparan akan memiliki banyak hasil yang positif. “Kelaparan akan menghancurkan kesetiaan, tidak hanya pada Tzar, tetapi juga pada Tuhan.”


Setelah kematian Lenin pada tahun 1924, pemerintahan Stalin selama 29 tahun membuat Rusia semakin berdarah, di mana lebih banyak kelaparan dan penderitaan yang terjadi. Di Ukraina, 7–10 juta orang terbunuh, menurut perkiraan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang diterbitkan pada bulan November 2003. Di Kazakhstan, sekitar 1,5 juta orang kelaparan. Film dokumenter ini menampilkan foto-foto yang tragis dan mengerikan dari keluarga-keluarga yang kelaparan dan gerbong-gerbong kematian penuh dengan anak-anak.


Stalin, yang membunuh sekitar 60–66 juta orang tidak berdosa, menghitung kematian ini sebagai keberhasilan. Kematian di bawah pemerintahan Mao Zedong, penguasa komunis di Tiongkok dari tahun 1949 hingga 1976, mungkin bahkan lebih tinggi. 


Lompatan Jauh ke Depan, sebuah kampanye ekonomi dan sosial yang dipimpin oleh Mao Zedong dari tahun 1958 hingga 1962, menciptakan kelaparan buatan manusia lainnya yang menewaskan sekitar 45 juta orang hanya dalam waktu 4 tahun. 


Kisah pribadi dari orang-orang yang tinggal di bawah pemerintahan Stalin maupun Mao mengungkapkan orang-orang beralih ke kanibalisme. Orang-orang dipaksa untuk mati atau mengkhianati moralnya sendiri hanya demi untuk bertahan hidup.


Psikologi Tabula Rasa


Joshua Philipp berbicara mengenai efek psikologis pada orang-orang yang harus mengkhianati moralitasnya sendiri. Kebencian diri dan rasa bersalah yang mengikuti mengarah ke kerentanan mental, yang mengakibatkan orang-orang berpikir bahwa mungkin hidup sebenarnya hanyalah materi dan oleh karena itu moral-moral tidak memiliki bobot apa pun. Setelah proses pemikiran ini tercipta, orang-orang rentan terhadap keyakinan bahwa mungkin ideologi komunis adalah benar. 


“Apa rentetan yang konstan dari  eksekusi publik, penderitaan, trauma, dan kegilaan yang dilakukan yang tujuannya untuk membuat orang-orang begitu ketakutan, kaget, atau apatis dan mati rasa sehingga tidak ada orang yang dapat berpikir jernih lagi,” jelas Joshua Filipus.


Tujuan utama komunisme adalah menghapus moral yang sudah ada sebelumnya, sehingga pemerintah dapat menggantikan moral tersebut dengan kode etik pemerintah itu sendiri, yaitu mematuhi Partai Komunis dengan mengorbankan kemanusiaan. 


Komunis membuat masyarakat percaya bahwa moralitas, iman, dan etika adalah salah, tetapi kelaparan, penindasan, dan perjuangan adalah  benar, ketika masyarakat melayani Partai Komunis. 


Contoh-contoh kemerosotan moralitas di bawah komunisme adalah merajalela dalam Revolusi Kebudayaan Mao Zedong, yang melihat anak-anak memukuli orang tuanya sendiri, keluarga-keluarga saling mengkhianati, dan siswa-siswa yang teradikalisasi melecehkan para pendidik yang dipercayai para siswa. Guru, tuan tanah, dan kaum intelektual masyarakat diburu, dipermalukan di depan umum, dan seringkali lebih buruk.


Ideologi Buntu


Film dokumenter itu menunjukkan bahwa Mao Zedong membunuh sekitar 50–70 juta orang. Meskipun kematian belum sepenuhnya dihitung di mana-mana, perkiraan seluruh kematian di Kamboja, Afrika, Vietnam, Afghanistan, Eropa Timur, dan Amerika Latin mencapai lebih dari 7 juta, untuk menyebutkan beberapa tempat yang tersentuh komunisme. 


“Komunisme menjanjikan sebuah dunia tanpa penderitaan, namun dalam  eksekusinya, komunisme melakukan hal yang sebaliknya,” kata Joshua Philipp.


Film dokumenter ini menyelidiki apakah niat komunisme adalah baik tetapi hanya sesat, atau jika niat komunisme adalah buruk sejak awal? Karl Marx, pendiri dan pemimpin Marxisme dan ideologi komunis, menulis banyak mengenai balas dendam di tahun-tahun awal hidupnya, serta kebenciannya pada Tuhan dan komitmennya untuk menghancurkan Tuhan dan yang lainnya bersama-Nya. 


Dalam tulisannya, Karl Marx sering berbicara mengenai “pangeran kegelapan” dan berjanji pada Setan. Satu hal adalah jelas: Karl Marx memiliki sebuah perasaan gelap yang mendalam terhadap kematian, kehancuran, dan balas dendam. Hal itu adalah cocok dengan manifesto Karl Marx yang menghasilkan hal itu.


Komunisme memanfaatkan keinginan manusia untuk sebuah tujuan yang lebih tinggi. Komunisme menghancurkan agama, dan malah menempatkan dirinya di pucuk pimpinan. 


Dalam sebuah negara komunis yang ideal, pemerintah mengendalikan segalanya–—publik dan swasta. Semua orang direndahkan menjadi materi, seperti roda-roda penggerak dalam sebuah mesin. Komunisme adalah sebuah  kepercayaan yang dibangun di atas kehancuran kepercayaan. Pertama, komunis-komunis harus menghancurkan iman. 


Selanjutnya, komunis harus merekayasa penghancuran, dan dengan melakukan itu, komunis-komunis membuat sebuah tabula rasa di masyarakat untuk diisi dengan komunisme, yang selalu adalah sebuah kebuntuan. 


Joshua Philipp menyimpulkan, “Ini adalah sebuah ideologi buntu yang dibangun di atas perjuangan, kebencian, dan penghancuran.” (Vv)

Share

Video Popular