Luo Tingting

Pada 1 September adalah hari pertama masuk sekolah tatap muka di daratan Tiongkok. Upacara pembukaan SMP No 3 Wuhan disiarkan secara langsung. Ketika siaran berlangsung, seorang siswa berseragam biru yang berdiri di barisan depan tiba-tiba jatuh pingsan. 

Siaran langsung menunjukkan bahwa seorang reporter pria yang sedang mewawancarai guru, melihat siswa pingsan dan segera melambaikan tangannya ke fotografer untuk menyesuaikan lensa dan tidak mengambil gambar. Anak itu jatuh ke lapangan. Sedangkan pelajar di sekitarnya tidak berani melangkah maju untuk membantunya, hanya seorang siswa perempuan yang mengangkat tangannya untuk memberi isyarat kepada guru. Butuh waktu hampir satu menit sebelum dua guru perempuan melangkah maju untuk memeriksa keadaan. 

Video itu diungkap di Internet daratan Tiongkok, menuai kritik dari kalangan netizen: “Apakah pelajaran pertama sekolah adalah tidak menyelamatkan!”. 

Netizen lainnya menyebutkan : “Wawancara wartawan adalah peristiwa besar, alat peraga tidak cukup. Mereka melihat siswa sebagai alat peraga.”

Akun Weibo V “Pion Ksatria Kesedihan” berkomentar dengan menuliskan : “Wartawan melihatnya, mengangkat tangannya untuk memberi isyarat ke kamera untuk menghindari, dan melanjutkan wawancara dengan tenang. Anak-anak tidak berani meninggalkan tempat duduk mereka tanpa izin, karena mereka akan dimarahi.  Tidak mengangkat tangan mereka dan mendapatkan izin guru. Untuk menunjukkan Disiplin sekolah, bukan masalah besar bagi semua staf untuk berjemur di bawah sinar matahari,  pingsan di bawah sinar matahari sepertinya bukan masalah besar. — Selamat sekolah dimulai, anak-anak, kelas pertama, mengajarkan “aturan”.”

Pada malam itu, Biro Pendidikan Distrik Hanyang Wuhan melaporkan bahwa siswa yang pingsan kemudian dibawa ke rumah sakit oleh kepala sekolah. Setelah istirahat sejenak, pelajar itu  kembali normal, dan kelas berlangsung seperti biasanya  pada hari itu. 

Dalam sebuah wawancara dengan Beijing News pada 2 September, Yang, seorang anggota staf Biro Pendidikan Distrik Hanyang, Wuhan, mengatakan bahwa siswa yang pingsan adalah siswa baru kelas tujuh, dan antara siswa tidak akrab satu sama lain. Sedangkan Siswa yang pingsan itu berada di baris depan dan wali kelas berada di ujung barisan. Ketika wali kelas melihat keadaan, wali kelas segera melangkah maju dan membela si wartawan. Ia mengatakan dirinya mungkin tidak bereaksi pada saat itu.

Namun demikian, pembelaan itu mendapat lebih banyak kritik dari kalangan netizen: “jika Anda yang jatuh. Semua reporter memberi isyarat untuk menyesuaikan posisi kamera. Orang tak berguna.” 

Netizen lainnya juga menuliskan : “Sungguh mengerikan. Ketika ada yang pingsan, reporter meminta fotografer untuk segera menyesuaikan posisi, bukan untuk menyelamatkan orang. Ketika para siswa melihat teman sekelasnya, mereka pada dasarnya tidak meminta bantuan. Sibuk untuk menutupi skandal. Ini adalah kegagalan pendidikan, ini adalah etos sosial,  tidak ada yang mengerti nyawa paling berharga dari segalanya.” (hui)

Share

Video Popular