oleh Zhang Ting

Harga gas alam cair mengalami lonjakan yang belum pernah terjadi sebelumnya, hal ini memicu pergunjingan tentang apakah era gas alam murah sudah berakhir ? Harga gas alam cair yang tinggi akan berdampak pada ekonomi global, dan mengancam pemulihan ekonomi akibat pandemi, dan memukul perusahaan termasuk produsen keramik di daratan Tiongkok

Menurut laporan Bloomberg pada 4 September, bahwa di sebagian besar pasar utama, biaya bahan bakar telah mencapai rekor tertinggi musiman dan diperkirakan masih akan naik, hal mana dapat mengancam pemulihan industri dari pandemi akibat virus komunis Tiongkok atau COVID-19 dan mengancam pertumbuhan ekonomi.

Sebagian besar dalam 10 tahun terakhir, sumber daya gas alam yang digunakan untuk pembangkit listrik dan pemanas cukup berlimpah dengan harganya yang murah. 

Namun, situasi ini tiba-tiba berakhir tahun ini karena situasi permintaan jauh melebihi pasokan barunya.

Lonjakan harga gas alam cair memberikan dampak langsung

Analisis Bloomberg menunjukkan bahwa musim dingin yang akan datang, mungkin akan  memberikan pelajaran yang menyakitkan bagi dunia, yaitu dampak luas dari gas alam terhadap perekonomian. Harga yang tidak terjangkau dapat membatasi pengeluaran rumah tangga dan mengikis upah mereka melalui inflasi, mendesak para bankir untuk mengambil kebijakan dari beberapa pilihan yang sulit.

Lebih buruk lagi, kekurangan pasokan dapat membuat sejumlah besar industri menganggur, bahkan menyebabkan pemadaman listrik di negara-negara berkembang, yang dapat menyebabkan kerusuhan sosial.

“Energi adalah fondasi ekonomi”. kata Bruce Robertson, seorang analis di Institute for Energy Economics and Financial Analysis. Dia mengatakan “Harga energi yang tinggi berdampak pada rantai pasokan”, dan dapat melemahkan pemulihan ekonomi yang baru saja dimulai.

Ketika permintaan mulai pulih dari situasi pandemi Covid-19 yang terburuk, tetapi bertabrakan dengan kendala pasokan, biaya energi di seluruh dunia jadi naik. Minyak telah mengalami rebound jangka panjang sejak akhir tahun 2020, dan pada bulan Juli ditutup di level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir, yakni USD. 75,- per barel.

Harga gas alam cair sudah mulai naik pada awal musim panas di belahan bumi utara. Pada saat itu, semakin jelas terlihat bahwa Eropa tidak memiliki persediaan yang cukup untuk mengisi kembali tempat penyimpanan gas alam yang akan mulai digunakan pada musim dingin sebagaimana biasanya. Rusia yang merupakan pemasok terbesar di benua Eropa telah membatasi ekspor gas alam cair lewat pipa karena berbagai alasan, termasuk permintaan domestik yang kuat dan produksi yang terganggu.

Alfred Stern, CEO produsen minyak dan gas Austria ‘OMV AG. Consumers’ mengatakan : “Selama musim panas ini kami memang menunda-nunda penyimpanan” (karena harga), Tren harga gas alam cair “tampaknya akan tergantung pada seberapa dinginnya musim dingin tahun ini”.

Pengaruhnya akan meluas sampai ke Asia dan Amerika Serikat

Di Eropa, harga gas alam cair telah melebihi harga minyak, tetapi efek ini tidak terbatas hanya di Eropa. Meskipun pembatasan pasokan Rusia tidak secara langsung berpengaruh terhadap konsumen di Asia, tetapi konsumen di Asia terpaksa harus bersaing dengan konsumen Eropa dalam transportasi laut gas alam, mendesak para konsumen Asia untuk membayar harga transportasi yang lebih tinggi untuk memastikan pengiriman.

“Harga gas alam cair yang mahal sekarang menjadi masalah bagi Eropa”, kata Francesco Starace, CEO dari perusahaan utilitas Italia ‘Enel SpA’. Dalam sebuah wawancara dengan Bloomberg pada Jumat 3 September, ia mengatakan : “Itu (harga gas alam cair yang tinggi) juga dapat menjadi masalah bagi Asia”.

Pasar gas alam cair merupakan jalur penghubung bagi Eropa, Asia dan Amerika Serikat. Dengan mendorong ekspor gas alam cair yang lebih besar, harga tinggi di Eropa dan Asia juga dapat tercermin di pasar domestik AS. Harga gas alam cair berjangka New York telah meningkat sebanyak 80% tahun ini, ke level tertinggi sejak tahun 2018, meskipun masih jauh di bawah pasar utama lainnya di seluruh dunia.

Bloomberg melaporkan bulan lalu, bahwa harga gas alam Eropa telah melonjak lebih dari 10 kali dari posisi terendah historisnya pada bulan Mei 2020, sementara harga gas alam cair Asia telah meningkat sekitar 6 kali dalam setahun terakhir. Bahkan di Amerika Serikat, revolusi serpih secara signifikan telah meningkatkan produksi bahan bakar, dan harganya telah naik ke level tertinggi dalam 10 tahun.

Lonjakan harga energi memaksa banyak pabrik keramik Tiongkok untuk memangkas produksi

Di seluruh dunia, konsekuensi yang dihadapi ekonomi dari kenaikan harga gas alam menjadi semakin jelas. Dari salinan email yang dikirim ke pelanggan yang ditunjukkan kepada Bloomberg, terlihat bahwa produsen gula terbesar Prancis ‘Tereos SCA’ pada bulan lalu telah memperingatkan bahwa harga bahan bakar memengaruhi pemrosesan gula di Eropa dan secara langsung meningkatkan biaya produksi.

Pascal Leroy, wakil presiden senior yang bertanggung jawab atas bahan-bahan inti di perusahaan pemrosesan makanan ‘Roquette Freres SAS’ di Prancis utara mengatakan, bahwa harga energi yang tinggi menciptakan tekanan inflasi terhadap semua biaya lain yang pada gilirannya akan diteruskan ke pelanggan.

Komunis Tiongkok adalah importir gas alam cair terbesar di dunia. Menurut laporan media lokal, bahwa karena tingginya harga energi ini di provinsi Guangdong dan Jiangxi, banyak pabrik keramik terpaksa memangkas produksi mereka. Menurut Chief Operating Officer Shakeel Ahmad, lonjakan biaya utilitas telah menghancurkan bisnis perusahaan ‘Mughal Steels’ Pakistan.

Shakeel Ahmad mengatakan bahwa masalah yang dihadapi perusahaan adalah mereka harus mengonsumsi gas alam sebelum menerima tagihan yang tinggi. Dalam situasi seperti ini, “Bagaimana saya bisa kembali ke pelanggan untuk mengatakan ‘Saya perlu menambahkan biaya ekstra (atas kenaikan energi) ke baja yang sudah saya jual kepada kalian’ ?”

JPMorgan Chase pada pekan ini mengatakan bahwa Purchasing Managers’ Index (indeks manajer manufaktur) global bulan Agustus, telah turun ke level terendah dalam 6 bulan terakhir.

Leonid Mikhelson, CEO produsen LNG Rusia ‘Novatek PJSC’ mengatakan bahwa harga gas alam cair saat ini di Asia “benar-benar tidak normal”.

Nina Fahy, seorang analis gas alam cair di perusahaan ‘Energy Aspects Ltd.’ mengatakan bahwa, industri di AS belum mengalami pukulan besar dari kenaikan biaya gas alam. Karena, harga jual produk di banyak industri padat energi seperti baja dan petrokimia sudah mengalami lonjakan.

Krisis gas alam dapat menyebar ke ranah politik

Para analisis Bloomberg berpendapat, bahwa krisis harga energi yang dialami terutama oleh industri berat di Eropa dan Asia yang terjadi pada saat ini akan segera merembet ke bidang politik dan ekonomi makro.

Jika rumah tangga dan bisnis melihat tagihan utilitas mereka meningkat, mereka mungkin berusaha menuntut kenaikan upah atau menaikkan harga barang yang mereka jual, sehingga memperburuk tekanan inflasi yang telah dihasilkan oleh rantai pasokan yang ketat.

Kenaikan harga bahan-bahan pokok yang berlangsung terus-menerus dapat menimbulkan konsekuensi-konsekuensi sosial. Analis ‘Grup Eurasia’ menyebutkan dalam sebuah laporan pada 31 Agustus : Bagi banyak ekonomi pasar berkembang, kenaikan sedikit saja harga bahan bakar atau energi eceran sudah dapat menyebabkan kesulitan ekonomi dan keresahan masyarakat. (sin)

Share

Video Popular