oleh Zhang Yujie

Ekonom daratan Tiongkok Wei Jianing secara terbuka menyatakan bahwa faktor penggerak pertumbuhan ekonomi Tiongkok dalam 40 tahun terakhir yakni tenaga kerja, modal dan teknologi sedang berubah. Bonus tersebut telah menjadi nol atau bahkan negatif. 

Wei Jianing adalah seorang anggota Pusat Penelitian Keuangan dari Dewan Penasihat Negara. Ia dalam pidatonya di ‘Forum ke-7 Ekonomi Makro Tiongkok’ yang diselenggarakan pada 31 Agustus tahun ini mengatakan : “Bonus pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang didapat selama beberapa dekade terakhir sudah menjadi nol atau bahkan negatif”.  Oleh karenanya, “Ekonomi Tiongkok tidak akan tumbuh jika tidak memiliki inovasi. Tetapi pertanyaannya adalah kepada siapa inovasi itu bergantung ? Badan utama yang mampu menggerakkan inovasi sekarang adalah badan usaha milik swasta.”

Saat menjelaskan soal bonus pertumbuhan ekonomi ia mengatakan : “Dalam hal tenaga kerja, dividen demografi sedang menghilang. Dalam hal modal, dilihat dari periode waktu yang lebih lama, terdapat kecenderungan penurunan kemampuan menabung. Karena berbagai alasan, termasuk semakin sulit untuk menarik investasi asing. Pada tingkat elemen teknis, produk-produk tiruan sekarang sedang menghadapi tantangan dari perlindungan kekayaan intelektual, dan sulit untuk secara terus menerus memperkenalkan teknologi dalam skala besar di masa mendatang”.

Pertama, yang disinggung oleh Wei Jianing adalah soal hilangnya dividen domografi Tiongkok yang belakangan ini telah menarik perhatian banyak kalangan. Wall Street Journal pada 28 Agustus melaporkan bahwa, industri komunis Tiongkok sedang menghadapi kekurangan tenaga kerja, yang mencerminkan terjadinya perubahan demografi jangka panjang, termasuk angkatan kerja yang terus menyusut.

Dividen demografi mengacu pada peningkatan proporsi penduduk yang bekerja dalam total penduduk yang mendorong pertumbuhan ekonomi. Menurut data kependudukan resmi komunis Tiongkok saja, proporsi angkatan kerja mereka dalam total populasi telah menurun dari 70% menjadi 63% dalam sepuluh tahun terakhir yakni 2010 hingga 2020, dan angka tersebut dalam 5 tahun ke depan diperkirakan masih akan berkurang sebanyak 35 juta.

Luo Zhiheng, kolumnis ‘Sina Finance’ dalam artikelnya yang membahas soal ekonomi makro Tiongkok pada 6 September juga menyebutkan bahwa, ketika dividen demografi menurun dan tingkat penuaan populasi meningkat, maka yang muncul adalah ketatnya struktural tenaga kerja dan situasi dimana modal relatif menjadi berlebihan.

Gao Gao, Wakil Sekjen Komisi Pembangunan dan Reformasi komunis Tiongkok mengakui pada 30 Agustus bahwa, kontradiksi pada struktur ketenagakerjaan di daratan Tiongkok terutama terjadi dengan fenomena yang muncul secara bersamaan, antara ‘kesulitan tenaga kerja dalam mencari pekerjaan’ dan ‘kesulitan perusahaan dalam merekrut tenaga kerja’. Bahkan, mungkin akan bertambah serius di kemudian hari.

Masalah tingkat tabungan yang dikemukakan Wei Jianing pada 31 Agustus, ‘The Paper’ pada akhir bulan April tahun ini telah melaporkan bahwa dari tahun 2008 hingga 2019, tingkat tabungan daratan turun dari 52,2% menjadi 44,6%.

Selain itu, Wei Jianing mengatakan ketika pidatonya merujuk isu investasi asing : “Karena berbagai alasan, semakin sulit untuk menarik investasi asing”. Informasi publik menunjukkan bahwa sejak perang dagang dengan AS meletus, ditambah  munculnya epidemi  Virus komunis Tiongkok (COVID-19), perusahaan multinasional terus hengkang dari daratan Tiongkok, Seperti iPhone, Samsung, Panasonic, Wal-Mart dan banyak perusahaan terkenal lainnya.

Ketika mengacu pada masalah teknis, Wei Jianing mengatakan : “Produk tiruan (Tiongkok) sedang menghadapi tantangan dari perlindungan kekayaan intelektual, dan tidak mungkin untuk secara terus menerus memperkenalkan teknologi dalam skala besar di masa mendatang”. 

Dalam beberapa tahun terakhir, dari administrasi Trump sampai Biden sekarang, pemerintah AS tidak segan-segan untuk menjatuhkan sanksi kepada rezim komunis Tiongkok yang memanfaatkan perusahaan untuk mencuri rahasia dagang dan hak kekayaan intelektual milik Amerika Serikat. Sebagai contoh, Trump menjatuhkan sanksi kepada puluhan perusahaan Tiongkok yang berlatar belakang militer komunis Tiongkok. Kemudian pada awal  Juni tahun ini, pemerintahan Biden menambahkan jumlah perusahaan yang masuk daftar hitam itu sehingga totalnya menjadi 59 perusahaan.

‘Wall Street Journal’ dalam artikelnya yang diterbitkan pada Agustus dan September tahun ini juga menyebutkan : Pemulihan ekonomi Tiongkok sedang kehilangan momentum. Indikator aktivitas di bidang industri, konsumsi, dan investasi Tiongkok pada bulan Juli semuanya menunjukkan pelambatan pertumbuhan yang berada di bawah perkiraan. 

Bahkan, lebih buruk dari situasi pada Juni. PMI (Purchasing Manager Index) yang mencerminkan pertumbuhan ekonomi yang dilaporkan pemerintah komunis Tiongkok pada bulan Agustus, kembali membuktikan sedang terjadi pelambatan pertumbuhan ekonomi negara komunis itu. (sin)

 

Share

Video Popular