Zachary Stieber

Sebuah perusahaan bioteknologi yang berbasis di Maryland, Amerika Serikat pada Rabu 8 September  mengumumkan peluncuran sebuah uji klinis yang akan memeriksa kemanjuran dan keamanan sebuah vaksin kombinasi flu/COVID-19

Penelitian fase 1/2 tahap awal akan memeriksa sebuah kombinasi musiman calon vaksin influenza dari Novavax dan sebuah calon vaksin COVID-19  yang dibuat perusahaan tersebut, yang keduanya tidak diberi wewenang atau disetujui untuk digunakan di Amerika Serikat.

Sekitar 640 orang dewasa sehat berusia antara 50 tahun hingga 70 tahun, akan berpartisipasi dalam uji coba tersebut, yang akan berlangsung di Australia. Hanya orang-orang yang sebelumnya telah terinfeksi dengan  virus Komunis Tiongkok, yang menyebabkan COVID-19, atau orang-orang menerima vaksinasi dengan  sebuah vaksin COVID-19 yang resmi setidaknya delapan minggu, sebelum pendaftaran akan dipertimbangkan.

Hasil-hasil diperkirakan selama paruh pertama tahun 2022.

Dr. Gregory M. Glenn, presiden penelitian dan pengembangan di Novavax, dalam sebuah pernyataan mengatakan, Penelitian ini adalah yang pertama untuk mengevaluasi potensi vaksin untuk menginduksi sebuah respons imun yang kuat, ditambah dengan ajuvan Matrix-M pihaknya, melawan dua penyakit yang mengancam jiwa secara bersamaan.

Menurut dia, kombinasi dari dua vaksin ini,  masing-masing telah mengirim  secara  hasil-hasil yang luar biasa dengan profil keamanan dan tolerabilitas yang baik, dapat menghasilkan efisiensi yang lebih besar untuk sistem perawatan kesehatan dan mencapai tingkat perlindungan terhadap COVID-19 dan influenza yang tinggi dengan sebuah rejimen tunggal.”

Temuan sebelumnya menunjukkan kombinasi suntikan tersebut dapat menjadi “strategi imunisasi yang layak,” kata Novavax. 

Uji coba praklinis terhadap vaksin kombo itu menunjukkan hasil yang baik, kata para ilmuwan Novavax dalam sebuah penelitian yang belum ditinjau oleh rekan sejawat.

NanoFlu, vaksin flu milik Novavax, telah dipelajari selama bertahun-tahun tetapi tidak pernah disahkan atau disetujui. Pengerjaan vaksin COVID-19 itu dimulai tahun lalu, tetapi Novavax masih belum mengajukan otorisasi penggunaan darurat di Amerika Serikat, meskipun Novavax mengajukan otorisasi penggunaan darurat di India dan Filipina bulan lalu.

Novavax menerima 1,6 miliar dolar AS dari pemerintahan Donald Trump untuk mengembangkan vaksin COVID-19.

Sebuah uji coba fase 3 untuk vaksin COVID-19 menunjukkan, perlindungan 100 persen terhadap penyakit sedang dan penyakit berat serta kemanjuran 90,4 persen secara keseluruhan, menurut sebuah rilis dari Novavax pada Juni.

Vaksin tersebut berada di kelas subunit, artinya tidak mengandung komponen virus Komunis Tiongkok atau COVID-19 yang hidup. Subunit malah mengandung komponen, atau antigen, dari patogen yang diyakini paling baik memicu sistem kekebalan.

Dua vaksin COVID-19 yang paling banyak digunakan di Amerika Serikat didasarkan pada teknologi messenger RNA. Jenis vaksin baru itu juga tidak mengandung virus  Komunis Tiongkok. 

Sebaliknya, messenger RNA digunakan untuk mengajar sel-sel cara membuat sebuah protein yang memicu sebuah respons imun.

Yang ketiga, dari Johnson & Johnson, adalah sebuah vaksin berbasis-adenovirus yang  menggunakan sebuah virus umum yang dikombinasikan dengan sebuah gen dari   protein lonjakan virus  Komunis Tiongkok untuk merangsang sistem kekebalan tubuh.

Jika vaksin COVID-19 Novavax akhirnya mendapatkan otorisasi, maka hal itu  akan menawarkan sebuah pilihan kepada orang-orang “yang tidak nyaman dengan strategi vaksin genetik,” kata Dr. Robert Malone, seorang penemu vaksin, kepada The Epoch Times dalam sebuah  wawancara baru-baru ini. (Vv)

Share
Tag: Kategori: SAINS SAINS NEWS

Video Popular