oleh Li Lan

Pada Sabtu 11 September adalah 20 tahun Insiden 11 September. Dengan penarikan seluruh pasukan AS dari Afghanistan, anti-terorisme global menghadapi masalah baru. 

Seorang penyintas 11 September Jay Jonas, wakil direktur Pemadam Kebakaran Kota New York mengatakan : “Seorang petugas pemadam kebakaran melihat ke atas dan berkata, Hari ini mungkin menjadi hari terakhir hidup kita. Kita saling berjabatan tangan dan saling mendoakan keberuntungan”.

Pada tahun 2001, Jay Jonas adalah kapten Divisi Daerah Pecinan dari Pemadam Kebakaran Kota New York. Pada 11 September, ketika pesawat pertama menabrak Menara Utara World Trade Center, setelah membagi anggota ke dalam beberapa regu, mereka langsung berangkat menuju tempat kejadian untuk melakukan penyelamatan.

Penyintas 11 September 11 Jay Jonas menceritakan : “Ketika pesawat kedua menabrak Menara Selatan, semua orang yang berada di sekitar saya, semua tewas kecuali diri saya”.

Sedangkan 20 tahun silam, Tom Canavan yang berhasil keluar dari reruntuhan World Trade Center mengacungkan jempolnya di depan kamera, bersyukur dirinya masih hidup. Ketika serangan teroris terjadi, dia sedang mengadakan rapat di lantai 47 Menara Utara World Trade Center.

Tom Canavan mengatakan : “Kami sedang duduk di sana. Tiba-tiba, terdengar suara seperti mesin vacuum raksasa yang sedang bekerja, kemudian disusul suatu ledakan besar. Setelah itu saya tidak lagi bisa melihat tangan saya sendiri. Saya membuka mata dan berpikir, kegelapan dan keheningan yang luar biasa mengelilingi diri saya, saya sudah mati”.

Hari ini, Tom Canavan dengan tato Menara Kembar World Trade Center di lengan kanannya dengan gelar Survivor datang kembali ke lokasi WTC untuk meratapi 4 orang rekannya yang tidak terselamatkan.

Pada 11 September 2001, anggota organisasi teroris Al Qaeda membajak pesawat sipil dan menabrak World Trade Center di New York dan Gedung Pentagon di Washington, DC, menciptakan insiden 11 September yang mengejutkan dunia. Korban tewas langsung dari serangan teroris itu hampir 3.000 orang.

Pada Jumat, 10 September Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken dalam acara peringatan 11 September yang diselenggarakan oleh Kementerian Luar Negeri menyatakan bahwa sebagai seorang diplomat, ia harus melakukan yang terbaik untuk melindungi keamanan dan kepentingan Amerika Serikat dan melindungi nilai-nilai Amerika. 

“Ribuan diplomat AS bertugas di Afghanistan, Irak dan tempat-tempat lain untuk mendukung perang melawan Al Qaeda dan organisasi teroris lainnya. Hampir setiap bagian dari departemen dimobilisasi dalam beberapa cara untuk mencegah terulangnya insiden 11 September”, kata Blinken.

Pada peringatan 20 tahun serangan teroris 11 September, Kota New York merupakan tuan rumah yang menyelenggarakan berbagai kegiatan dan upacara peringatan. Namun, karena ledakan yang dilakukan oleh organisasi teroris ISIS di Kabul, ibu kota Afghanistan, yang mengakibatkan kematian ratusan orang, termasuk 13 orang tentara AS, Departemen Kepolisian Kota New York terpaksa menerjunkan seluruh pasukan kontra-terorisme untuk menjamin kelancaran kegiatan ini. (sin)

Share

Video Popular