Andrew Thornebrooke

Perusahaan teknologi Amerika Serikat terus-menerus membangun laboratorium penelitian kecerdasan buatan di daratan Tiongkok, terlepas dari kemampuan Komunis Tiongkok untuk memilih setiap penelitian yang dilakukan Komunis Tiongkok untuk tujuannya sendiri, militer dan sebaliknya, demikian para ahli memperingatkan

Para ahli yakin bahwa satu-satunya cara untuk memastikan sebuah penghentian pertumbuhan kemampuan kecerdasan buatan Partai Komunis Tiongkok adalah untuk menerapkan sebuah larangan transfer-transfer teknologi ke Tiongkok dari Amerika Serikat.

Menurut sebuah penelitian tahun 2020  oleh sebuah lembaga pemikir di  Universitas Georgetown, lebih dari 10 persen dari semua laboratorium penelitian kecerdasan buatan dimiliki dan dioperasikan oleh Facebook, Google, IBM, dan Microsoft sekarang berlokasi di Tiongkok. Dan, jumlah itu terus bertambah.

Perusahaan Amerika Serikat juga terus-menerus menghadapi gangguan tidak terkendali terhadap kekayaan intelektual Amerika Serikat oleh Partai Komunis Tiongkok. Baik kerentanan penelitian perusahaan di daratan Tiongkok dan campur tangan para pejabat Partai Komunis Tiongkok, dapat menghadirkan sebuah ancaman besar bagi keamanan internasional, menurut para ahli.

Menolak Partai Komunis Tiongkok di Tiongkok Adalah ˜Hampir Mustahil’

Bisnis asing menghadapi risiko yang signifikan karena  beroperasi di Tiongkok, menurut Casey Fleming, CEO Black Ops Partners, firma penasihat strategis.

Segala sesuatu yang terjadi di Tiongkok 100 persen di bawah kendali Partai Komunis Tiongkok, kata Casey Fleming kepada The Epoch Times. “Tidak ada yang namanya ‘berbisnis di Tiongkok’ tanpa diarahkan oleh Partai Komunis Tiongkok.”

Casey Fleming yakin bahwa adalah tidak mungkin bagi perusahaan Amerika Serikat untuk melakukan penelitian kecerdasan buatan di Tiongkok tanpa penelitian itu dicuri atau dipilih oleh Partai Komunis Tiongkok atau Tentara Pembebasan Rakyat, nama resmi militer rezim Tiongkok.

Menurut Casey Fleming, keadaan itu adalah akibat dari strategi fusi militer-sipil Partai Komunis Tiongkok, yang berupaya menghilangkan semua hambatan antara bidang sipil dan militer berkaitan dengan penelitian dan pengembangan teknologi baru.

Ketika Partai Komunis Tiongkok melihat kecerdasan buatan sipil anda, Partai Komunis Tiongkok secara khusus melihatnya terlebih dahulu dan terutama untuk aplikasi militer dan yang kedua menuju aplikasi komersial, kata Casey Fleming. Dengan Partai Komunis Tiongkok, sipil dan militer menyatu. Mereka adalah satu dalam persamaan.”

Fusi itu adalah salah satu alasan mengapa para ahli memperingatkan mengenai aplikasi militer potensial dari program luar angkasa Tiongkok. Dalam sebuah nada yang serupa, Partai Komunis Tiongkok telah membuat integrasi penuh kecerdasan buatan ke dalam semua aspek kehidupan, sebuah fokus utama untuk strategi militernya melawan Amerika Serikat dan berencana menjadi pemimpin kecerdasan buatan dunia pada tahun 2030.

Robert Bunker, direktur penelitian dan analisis di C/O Futures, sebuah perusahaan konsultan, dengan cara yang sama mengatakan bahwa “hampir tidak mungkin untuk sebuah perusahaan teknologi Amerika Serikat untuk beroperasi di Tiongkok dan tidak membantu Tentara Pembebasan Rakyat dalam mengembangkan penelitian kecerdasan buatannya dan kemampuan-kemampuan membuat prototipe.

Partai Komunis Tiongkok telah menyusup ke semua perusahaan teknologi tinggi Tiongkok melalui para pejabat politik dan intelijen–pada kenyataannya, perusahaan itu tidak dapat beroperasi tanpa kerja sama yang erat dengan pemerintah pusat, kata Robert Bunker mengatakan kepada The Epoch Times melalui sebuah email.

Dengan demikian, Casey Fleming dan Robert Bunker mempertimbangkan ancaman yang dihadapi oleh perusahaan yang melakukan penelitian kecerdasan buatan di Tiongkok, juga menjadi sebuah ancaman potensial bagi keamanan internasional.

Ancaman itu terwujud awal tahun ini, ketika rezim Tiongkok menetapkan data sebagai sebuah faktor produksi nasional, yang memungkinkan Partai Komunis Tiongkok untuk memanfaatkan hukum komunis untuk secara paksa mengumpulkan data yang dikembangkan atau disimpan di Tiongkok.

Yang segera terjadi adalah, sebuah tindakan keras peraturan terhadap perusahaan teknologi yang dianggap Partai Komunis Tiongkok mengumpulkan terlalu banyak kekayaan dan data, banyak di antara perusahaan teknologi itu sarat dengan investasi Amerika Serikat. Tindakan keras itu mengakibatkan hilangnya nilai sekitar 400 miliar dolar AS.

Semua Mengenai Yuan

Mengingat ancaman yang terlibat dalam kolaborasi teknologi dengan Beijing, beberapa orang mungkin bertanya-tanya mengapa perusahaan Amerika Serikat terus-menerus mengucurkan uang dan sumber daya untuk  mengembangkan laboratorium kecerdasan buatan di Tiongkok.

Menurut Robert Bunker, jawabannya adalah sederhana.

Ini bermuara pada keserakahan perusahaan Amerika Serikat, kata Robert Bunker. Kemampuan kecerdasan buatan yang sedang dikembangkan dibayar mahal karena hasilnya dicaplok Partai Komunis Tiongkok. 

Untuk itu, Partai Komunis Tiongkok secara langsung menginvestasikan sekitar  65 miliar dolar AS di bidang  teknologi kecerdasan buatan tahun lalu, dan para diplomat Tiongkok secara aktif mencari bisnis- Amerika Serikat untuk memikat bisnis Amerika Serikat ke Tiongkok Daratan.

Menurut Casey Fleming, perusahaan teknologi Amerika Serikat mengalami suatu kesulitan untuk menolak janji palsu Partai Komunis Tiongkok, semua janji palsu kecuali menjamin akses ke sebagian besar pasar Tiongkok yang belum dimanfaatkan dari 1,3 miliar orang. Namun, perusahaan itu tidak mendapatkan kesepakatan yang mereka tanda tangani.

Setiap perusahaan yang melakukan bisnis di Tiongkok sedang dimainkan, kata Casey Fleming. Berapa lama anda dapat bertahan ketika Partai Komunis Tiongkok mencuri kekayaan intelektual anda dan jual produk anda berdasarkan kekayaan intelektual anda ke para pelanggan dengan harga 45 sen dolar?

Menurut media milik Partai Komunis Tiongkok, lebih dari seperempat dari seluruh  perusahaan rintisan Silicon Valley bergantung pada investasi Tiongkok pada tahun 2016. Meskipun jumlah tersebut sejak itu berkurang, sebagian besar kerusakan terus-menerus dirasakan, karena investasi yang ditawarkan perusahaan yang didukung Partai Komunis Tiongkok kesempatan untuk mendapatkan akses awal ke kekayaan intelektual Amerika Serikat.

Unit Inovasi Pertahanan Pentagon menyebut upaya tersebut sebagai bagian sebuah strategi transfer teknologi, selain itu mencatat bahwa hal tersebut memungkinkan Partai Komunis Tiongkok dan Tentara Pembebasan Rakyat untuk secara efektif membeli teknologi mutakhir pada saat yang sama di mana militer Amerika Serikat mengakuisisi teknologi mutakhir itu.

Yang memperparah masalah ini adalah Undang-Undang Keamanan Nasional Partai Komunis Tiongkok tahun 2015, yang mengharuskan semua sistem informasi di Tiongkok dibuat “aman dan  dapat dikendalikan. Para analis mengatakan bahwa hal ini memberi Partai Komunis Tiongkok kekuatan untuk memaksa perusahaan untuk menyerahkan kekayaan intelektual yang tidak ternilai, seperti kode sumber dan kunci-kunci enkripsi. Serentetan aturan keamanan dunia maya yang baru diperkenalkan dalam beberapa tahun terakhir telah semakin memperketat kendali data di Tiongkok.

Sebagai akibat dari tindakan keras Beijing terhadap data, perusahaan besar, termasuk IBM, segera mengizinkan Partai Komunis Tiongkok untuk meninjau kode sumbernya.

Perusahaan lain, seperti Tesla, menghindari pengawasan oleh pihak-pihak berwenang Tiongkok untuk sementara waktu dengan cara menyimpan data di luar negeri, sebuah praktik yang baru-baru ini dilarang oleh Partai Komunis Tiongkok.

Dalam sebuah skenario seperti itu, Robert Bunker mengatakan bahwa perusahaan teknologi yang beroperasi di Tiongkok secara efektif beroperasi sebagai perpanjangan dari Tentara Pembebasan Rakyat.

Jika Big Tech Amerika Serikat ingin melakukan bisnis di Tiongkok, dan Big Tech Amerika Serikat melakukannya untuk keuntungan para pemegang saham, maka Big Tech Amerika Serikat tidak punya pilihan selain beroperasi di bawah Partai Komunis Tiongkok yang  mendikte yang terkait kembali ke Xi Jinping dan kroni-kroninya kata Robert Bunker. Moto Google adalah ‘Jangan jahat’  dan moto Alphabet adalah ‘Lakukan hal yang benar’ cukup terlupakan dalam kondisi semacam itu.

Menghentikan Arus

Robert Bunker, Casey Fleming, dan Kementerian Pertahanan AS, setuju bahwa ada sebuah ancaman yang jelas ditimbulkan terhadap tatanan internasional oleh paksaan ekonomi Partai Komunis Tiongkok dan oleh keinginan perusahaan global yang berkelanjutan untuk mengembangkan fasilitas penelitian di Tiongkok, terlepas dari campur tangan Partai Komunis Tiongkok.

Bagi para ahli, ancaman terbesar, dengan tegas, adalah kenyataan bahwa Amerika Serikat saat ini tidak memantau, membatasi, atau melarang investasi ventura asing, atau pun transfer, teknologi-teknologi tahap awal dengan aplikasi militer potensial, termasuk kecerdasan buatan.

Casey Fleming yakin bahwa Amerika Serikat perlu menyesuaikan hukum-hukumnya dengan lebih baik, yang sesuai dengan sebuah pemahaman bahwa Amerika Serikat terlibat dalam sebuah perang dengan Partai Komunis Tiongkok–”sebuah bentuk perang hibrida non-konvensional, di mana Partai Komunis Tiongkok  bertekad untuk mengabaikan semua aturan dengan mengorbankan tatanan internasional.

“Ini perang,” kata Casey Fleming. Masalahnya adalah bahwa ini adalah sebuah perang di mana kita sebagai orang-orang Barat tidak mengerti. Kita hanya berpikir mengenai seragam,pasukan, kapal, senjata, pesawat, dan bom.

 Perang hibrida tanpa terbatas itu bertujuan untuk memadukan kemampuan politik, kemampuan ekonomi,  dan kemampuan dunia maya Partai Komunis Tiongkok untuk melakukan semua kerusakan sebuah perang kinetik tanpa mempertaruhkan akibat apa pun.

Perang semacam itu akan terus-menerus berlanjut, sampai Amerika Serikat menghentikan aliran teknologi baru satu-arah ke Beijing dari Lembah Silicon, menurut Casey Fleming.

Teknologi tersebut harus dikategorikan sebagai perangkat lunak keamanan nasional atau teknologi, dan oleh karena itu dihalangi dari distribusi ke permusuhan negara-bangsa, kata Casey Fleming. Klasifikasi tersebut tidak ada sekarang, untuk sebagian besar.”

Aturan AS belum mengejar teknologi, untuk itu, Presiden Donald Trump saat itu menandatangani sebuah perintah eksekutif pada tahun 2020 untuk membantu memandu pengembangan federal mengenai penggunaan kecerdasan buatan. Upaya lain oleh pemerintahan Donald Trump untuk membatasi transfer kecerdasan buatan ke Tiongkok adalah tumpul, namun, dan pada akhirnya hanya membatasi ekspor kecerdasan buatan ke Tiongkok yang berurusan dengan perangkat lunak pencitraan geospasial.

Saat ini adalah tidak jelas bagaimana pemerintahan Joe Biden akan menanggapi situasi tersebut. Namun, bagi Robert Bunker, jawabannya adalah jelas: Hentikan arus tersebut.

Pemerintah Amerika Serikat membutuhkan melindungi teknologi-tinggi dan larangan transfer teknologi kritis  antara perusahaan Amerika Serikat dengan perusahaan Tiongkok sebagai permulaan, kata Robert Bunker.

Perusahaan Amerika Serikat secara langsung bertanggung jawab untuk menyediakan rezim Partai Komunis Tiongkok,  dengan kemampuan startup kecerdasan buatan militer Partai Komunis Tiongkok awalnya. Hal ini sudah menghantui AS dalam konfrontasi kekuatan besar yang meningkat antara otoritarianisme Tiongkok dengan kelangsungan demokrasi liberal Amerika Serikat.” (Vv)

Andrew Thornebrooke adalah reporter lepas yang meliput isu-isu terkait Tiongkok dengan fokus pada pertahanan dan keamanan. Dia memegang gelar MA dalam sejarah militer dari Universitas Norwich dan penulis buletin Quixote Hyperdrive

Share

Video Popular