Jeff Carlson dan Hans Mahncke

Pada  Mei 2021, Presiden AS Joe Biden memberi waktu 90 hari kepada Komunitas Intelijen AS untuk menulis sebuah laporan mengenai asal-usul COVID-19. Versi yang tidak lagi bersifat rahasia dari penilaian tersebut kini telah dirilis

Laporan tersebut hanya sepanjang 493 kata dan anehnya mengabaikan yang  informasi yang telah tersedia, bukannya memilih untuk fokus pada dan memperkuat pertanyaan yang sebagian besar, tidak dapat diketahui.

Secara khusus, Komunitas Intelijen di AS mengklaim bahwa untuk mencapai sebuah penilaian yang pasti, pihaknya memerlukan “sampel klinis atau sebuah pemahaman yang sempurna dari data epidemiologi dari kasus paling awal.”

Pendekatan yang bergantung pada Tiongkok ini sejalan dengan sebuah tanggapan terbaru dari Dr. Anthony Fauci, Direktur  National Institute of Allergy and Infectious Diseases (NIAID) atau Institut Alergi dan Penyakit Menular Nasional. 

Ketika akhirnya pada bulan Juni tahun ini, Dr. Anthony Fauci mengakui bahwa virus tersebut mungkin berasal dari sebuah laboratorium di Wuhan, ia juga mengatakan bahwa sampel klinis dari kasus paling awal diperlukan.

Pada saat yang sama, sementara Komunitas Intelijen mengklaim bahwa kerjasama Tiongkok diperlukan untuk menentukan asal-usul COVID-19, Komunitas Intelijen mengakui bahwa Tiongkok telah menolak untuk bekerja sama dengan semua penyelidikan yang benar.

Dr. Anthony Fauci dan Komunitas Intelijen, sama-sama mengerti bahwa jika ada informasi yang membantu Partai Komunis Tiongkok, maka informasi itu akan dirilis secara langsung.

Laporan tersebut, tidak ditandatangani tetapi dikeluarkan di bawah kop surat Direktur Intelijen Nasional, tampaknya terstruktur dengan sebuah cara yang dirancang untuk menghindari kekecewaan Tiongkok. Lebih penting lagi, laporan tersebut secara efektif melindungi Tiongkok, secara berulang kali memberi bobot pada kurangnya pengetahuan sebelumnya mengenai wabah yang merupakan tanggung jawab para pejabat Tiongkok. Laporan tersebut mengabaikan bahwa, jika pandemi disebabkan oleh sebuah  kecelakaan laboratorium, tidak ada pejabat yang mengetahui sebelumnya.

Komunitas Intelijen juga tampaknya mencampuradukkan sebab dan akibat, dengan mengklaim bahwa kegagalan Tiongkok untuk bekerja sama dengan sebuah penyelidikan dimotivasi oleh “frustrasi”, di mana komunitas internasional “menggunakan masalah ini untuk memberikan tekanan politik pada Tiongkok.”

Khususnya, Komunitas Intelijen telah menunjukkan kurangnya minat dalam jumlah data  berlebihan yang telah tersedia dan tidak memerlukan bantuan  Komunis Tiongkok. Mungkin fakta paling jelas yang menunjukkan sebuah kebocoran laboratorium adalah bahwa Wuhan  setidaknya berjarak 1.609 km dari habitat-habitat kelelawar alami—–sebuah titik yang bahkan tidak disebutkan di laporan Komunitas Intelijen itu.

Selain itu, Wuhan adalah satu-satunya lokasi di Tiongkok tempat eksperimen virus kelelawar berlangsung. Faktanya, Wuhan memiliki setidaknya tiga laboratorium yang melakukan pekerjaan semacam itu–—Institut Virologi Wuhan, Laboratorium Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Wuhan, dan Pusat Penelitian Binatang Universitas Wuhan.

Direktur Institut Virologi Wuhan, Shi Zhengli, sendiri mengaku  bahwa ia tidak pernah memperkirakan virus jenis ini akan muncul di Wuhan. Ketika virus-virus muncul secara alami di masa lalu, virus itu muncul di bagian selatan Tiongkok. Yang juga diabaikan oleh laporan Komunitas Intelijen itu adalah jenis penelitian yang sedang dilakukan di Institut Virologi Wuhan setidaknya sejak tahun 2007, yang telah didokumentasikan dengan baik. 

Makalah penelitian memberikan bukti langsung mengenai semakin banyaknya eksperimen manfaat-fungsi yang canggih–—sebuah proses di mana virus dengan sengaja dibuat menjadi lebih ganas untuk memprediksi penyakit yang muncul –— sedang dilakukan oleh laboratorium Institut Virologi Wuhan pada tahun menjelang pandemi, yang mencakup sejumlah eksperimen yang dirancang khusus untuk membuat Coronavirus menjadi lebih mudah menular ke manusia.

Beberapa eksperimen manfaat-fungsi ini juga dirinci dalam sebuah  artikel tanggal 9 November 2015 di jurnal Nature mengenai eksperimen-eksperimen yang sedang dilakukan di laboratorium Wuhan dengan menggunakan “virus-virus chimera” pada tikus.

Khususnya, pada tahun 2014,  National Institute of Allergy and Infectious Diseases  yang dipimpin Dr. Anthony Fauci memberikan hibah sebesar  3,7 juta dolar AS kepada EcoHealth Alliance yang berbasis di New York, yang dipimpin oleh Peter Daszak. 

Menurut Francis Collins, Direktur Institut Kesehatan Nasional AS, beberapa bagian dari dana hibah tersebut “pergi ke Wuhan” sebagai bagian “sebuah subkontrak dari EcoHealth Alliance.”

Share

Video Popular