Anders Corr

Kunjungan  pemerintahan Joe Biden baru-baru ini ke Tiongkok telah menyoroti kegagalan Washington untuk memperbaiki masalah perubahan iklim.

Sebagian besar ilmuwan mengatakan emisi gas rumah kaca menyebabkan pemanasan global yang tidak dapat diubah, dan jika kita tidak melakukan perubahan-perubahan dengan cepat, seperti membakar lebih sedikit bahan bakar fosil, maka bencana iklim yang tidak dapat diubah akan terjadi. 

Tiongkok sejauh ini adalah penghasil emisi terbesar di dunia, tetapi Tiongkok tidak menunjukkan minat untuk mundur meskipun ada permintaan hina dari tsar iklim Amerika Serikat, John Kerry.

Joe Biden terpilih dengan janji untuk membuat perubahan yang perlu untuk menghindari kebuntuan itu. Tetapi Joe Biden gagal, dan karena dua alasan utama. Pertama, pemerintahan Joe Biden mendorong negara-negara OPEC untuk memompa lebih banyak minyak, yang akan menurunkan harga global minyak dan meningkatkan konsumsi minyak. Semakin banyak konsumsi minyak, maka menghasilkan lebih banyak emisi.

Kedua, Presiden Joe Biden membuat konsesi-konsesi iklim sepihak yang mengurangi produksi minyak Amerika Serikat, yang akan membuat Beijing lolos. Tiongkok mengeluarkan sekitar dua kali lipat gas rumah kaca Amerika Serikat. 

Setelah menyerahkan semua daya tawar Amerika Serikat, rezim Tiongkok akan semakin diberdayakan untuk memaksa secara ekonomi yang melemahkan konsesi emisi di negara-negara lain. Amerika Serikat kemudian akan terlalu lemah untuk memaksa Tiongkok untuk mengurangi emisi.

Jadi, efek utama dari apa yang disebut lingkungan hidup oleh Joe Biden adalah memadamkan daya saing ekonomi Amerika Serikat, yang kita butuhkan untuk memudahkan Beijing untuk melakukan pengelolaan lingkungan yang bertanggung jawab, belum disebutkan untuk melindungi dunia dari militerisme dan pemerintahan totaliter Partai Komunis Tiongkok. 

Oleh karena itu, Joe Biden tidak hanya melakukan terlalu sedikit untuk menghentikan perubahan iklim, Joe Biden memperburuk perubahan iklim dengan membiarkan Xi Jinping meningkat kekuasaannya. Para pendukung lingkungan hidup Joe Biden seharusnya marah, tetapi ternyata mereka tidak marah. 

Jadi, joe Biden menanggapi kesan palsu para pendukung lingkungan hidupnya bahwa jika Amerika Serikat memimpin melalui pengurangan emisi sepihak, dunia akan mengikuti. Hal ini tidak akan terjadi.

Rusia, Iran, Arab Saudi, dan Irak, dengan penuh semangat akan mengisi pasar energi mana pun di mana Amerika Serikat, dari kebaikan hati kita, meninggalkan pasar energi tersebut. Partai Komunis Tiongkok, putus asa akan pertumbuhan ekonomi yang membenarkan dan dalam persaingan militer dengan Amerika Serikat, akan terus dengan emisinya, mengabaikan komitmen masa lalu untuk mencapai puncak karbon pada tahun 2030, dan netralitas per tahun 2060.

Untuk memahami alasannya, pertimbangkan fakta ini: Partai Komunis Tiongkok berencana untuk berlomba dengan Amerika Serikat di bidang ekonomi, sampai Tiongkok mengalahkan Amerika Serikat. Keyakinan Amerika Serikat pada demokrasi, dan totalitarianisme Partai Komunis Tiongkok yang haus kekuasaan, berada di sebuah jalur tabrakan. Hanya satu akan bertahan.

Komitmen Partai Komunis Tiongkok terhadap pengurangan emisi adalah omong kosong, dan seperti banyak perjanjian yang dibuat Partai Komunis Tiongkok, adalah memalukan apa yang telah ditulis Partai Komunis Tiongkok. Pencabutan janji berulang kali oleh rezim Tiongkok termasuk sebuah kegagalan untuk mendukung Perjanjian Paris tahun 2015. Tiongkok telah mendanai hampir 70 persen pembangunan pembangkit listrik tenaga batu bara dunia selama dekade terakhir, di 152 negara, melalui Inisiatif Belt and Road (juga disebut One Belt, One Road). Membangun pembangkit listrik adalah bagus untuk ekonomi Tiongkok, sehingga rezim Tiongkok ingin melanjutkannya.

Namun demikian, Amerika Serikat terus kembali ke Tiongkok,, dengan bodohnya mencari keterikatan dan kerjasama, hanya untuk mendapatkan harapan Amerika Serikat pupus, lagi dan lagi. Semakin kita mencari kerja sama, maka semakin kita terlihat lemah, dan semakin Xi Jinping menyadari keleluasaan yang ia miliki.

Kekuatan Partai Komunis Tiongkok yang menghancurkan melawan Joe Biden dipajang untuk dilihat semua orang selama kunjungan empat hari yang memalukan oleh John Kerry ke Tianjin, Tiongkok, dari 31 Agustus hingga 3 September. Kunjungan tersebut merupakan sebuah kesempatan bagi para pejabat Tiongkok, termasuk anggota politbiro Yang Jiechi melalui sebuah panggilan video, untuk kuliah umum John Kerry mengenai kurangnya kerja sama Amerika Serikat dengan Tiongkok, yang dikatakan oleh Yang Jiechi perlu diperbaiki jika Amerika Serikat berharap untuk setiap kerja sama iklim yang nyata sebagai imbalannya.

Pada  1 September, Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi memberitahu John Kerry bahwa “kerjasama perubahan iklim tidak dapat dipisahkan dari keseluruhan situasi hubungan-hubungan Tiongkok-Amerika Serikat.”

Oleh karena itu, Beijing menyangkal bahwa Tiongkok sendiri membutuhkan kerjasama iklim, yang merupakan sebuah bentuk kegilaan yang menyerempet bahaya yang membawa dunia ke ambang bencana iklim, seolah-olah Partai Komunis Tiongkok sama sekali tidak keberatan untuk terjun tebing iklim. 

Tujuan rezim Tiongkok adalah menggunakan taktik menakut-nakuti lingkungan hidup untuk memaksa Amerika Serikat dan sekutunya ke dalam konsesi yang lebih sepihak, dan dalam proses tersebut, untuk mendapatkan persetujuan dendam Amerika Serikat terhadap  pemekaran wilayah dan pelanggaran hak asasi manusia oleh rezim Tiongkok.

Lebih khusus lagi, tuntutan Partai Komunis Tiongkok adalah sebuah akhir untuk tiga pertahanan demokrasi Amerika Serikat. 

Pertama, Partai Komunis Tiongkok menginginkan diakhirinya sanksi terhadap para pejabat Tiongkok, yang telah melakukan genosida terhadap orang-orang Uyghur dan mencabut hak-hak rakyat Hong Kong. Kedua, Partai Komunis Tiongkok menginginkan Amerika Serikat untuk memudahkan kontra-spionase terhadap mata-mata Tiongkok. Dan ketiga, Partai Komunis Tiongkok ingin Amerika Serikat meninggalkan pertahanan Taiwan dan pada dasarnya menyerahkan demokrasi Taiwan sesuai dengan keinginan rezim Tiongkok.

Konsesi pada salah satu poin ini adalah tidak masuk akal, dan sebuah sinyal kepada dunia bahwa Amerika Serikat telah kalah dalam pertahanan demokrasi globalnya.

Pendekatan iklim Partai Komunis Tiongkok yang nyerempet bahaya bertumpu pada ancaman bahwa Amerika Serikat akan gelisah akibat perubahan iklim yang disebabkan oleh pertumbuhan industri Tiongkok. 

Amerika Serikat akan tersedak kabut asapnya sendiri karena konsumerisme yang melewati batas dan tidak bermoral, yang telah lama memanfaatkan tenaga kerja yang murah dan standar-standar lingkungan hidup yang rendah dapat ditemukan di Tiongkok. Standar lingkungan hidup yang rendah itu memangkas beberapa sen dari harga paket-paket Amazon kami, tetapi kerugian  kekuatan industri Amerika Serikat dan pekerjaan-pekerjaan di daerah yang penting. Hal-hal tersebut menghancurkan pertahanan ekonomi Amerika Serikat melawan praktek-praktek perdagangan predator rezim Tiongkok.

Partai Komunis Tiongkok “berharap Amerika Serikat cukup berkepala dingin untuk menukar prioritas keamanannya untuk janji-janji prioritas keamanan iklim yang tidak dapat dilaksanakan,” tulis dewan redaksi Wall Street Journal, yang kritis terhadap negosiasi iklim oleh John Kerry.

Pembingkaian kunjungan John Kerry ke Tiongkok menggambarkan posisi Amerika Serikat yang lemah. Pada 2 September, John Kerry difoto di Tianjin, jauh dari Beijing pusat kekuasaan di Tiongkok. John Kerry duduk sendirian di samping sebuah meja sederhana dengan sebuah bendera Amerika Serikat yang sederhana di depan sebuah layar lipat yang kecil dengan lukisan burung merak ala Tiongkok. Layar tersebut dikerdilkan oleh sebuah dinding besar yang terbuat dari panel murah. Sebuah piring berwarna biru mencolok tertera nama Kerry dalam huruf Inggris yang kecil, dengan huruf Tiongkok yang lebih besar di bagian atas.

Setelah diceramahi seperti anak sekolah, John Kerry menghibur dirinya sendiri dengan para wartawan, mengatakan bahwa sebagian besar pertemuannya berada pada sebuah tingkat yang sangat rinci dengan Xie Zhenhua. Tetapi, Xie Zhenhua adalah seorang negosiator tingkat rendah Tiongkok, sedangkan John Kerry memegang sebuah posisi setingkat kabinet. Jadi sudah di meja perundingan, Tiongkok memaksa sebuah konsesi kepada pemerintahan Joe Biden. Sebagai mitra negosiasi yang lebih senior, John  Kerry kemungkinan akan mengungkapkan garis bawah Amerika Serikat di Tianjin, sedangkan Xie Zhenhua harus memeriksa semua  proposal melalui berlapis-lapis birokrasi, sehingga melindungi Xi Jinping bergerak ke garis bawah.

Rezim Tiongkok mengungguli Amerika Serikat mengenai negosiasi iklim, di Afghanistan, di Hong Kong, dan di Perserikatan Bangsa-Bangsa, disebutkan beberapa tempat saja. Amerika Serikat harus kembali ke jalurnya, dan secara cepat, atau tidak akan ada jalan kembali dari tebing tempat negosiasi terjun, sendirian, meninggalkan Beijing untuk menguasai dunia yang penuh asap ini. (Vv)

Anders Corr memiliki gelar sarjana/master dalam ilmu politik dari Universitas Yale (2001) dan gelar doktor dalam bidang pemerintahan dari Universitas Harvard (2008). Dia adalah kepala sekolah di Corr Analytics Inc., penerbit Journal of Political Risk, dan telah melakukan penelitian ekstensif di Amerika Utara, Eropa, dan Asia. Dia menulis “The Concentration of Power” (akan terbit pada 2021) dan “No Trespassing,” dan mengedit “Great Powers, Grand Strategies.”

 

Share

Video Popular