Zachary Stieber dan Enrico Trigoso

Ribuan orang  menentang mandat wajib vaksin COVID-19 yang diberlakukan di New York City, Amerika Serikat, dalam aksinya pada Senin 13 September waktu setempat. 

Massa yang diperkirakan berjumlah ribuan orang, berkumpul di Foley Square di wilayah Manhattan dan kemudian bergerak melintasi Jembatan Brooklyn.

Pesan mereka: mandat vaksin City untuk pegawai Departemen Pendidikan melanggar kebebasan mereka.

“Anda harus memiliki hak untuk memilih apa pun yang Anda lakukan dengan tubuh Anda,” kata Ricardo Alexander, seorang guru matematika dan fisika dari sebuah sekolah umum pada rapat umum tersebut.

Para pengunjuk rasa berkumpul untuk menentang mandat vaksin COVID-19 yang baru di New York City pada 13 September 2021. (Enrico Trigoso/The Epoch Times)

Alexander dan sesama pendidik   lainnya bergabung dengan pengacara hak sipil, Bill Pepitone, kandidat konservatif walikota New York City, dan Rita Palma, pendiri My Kids, My Choice. 

Pepitone mengingatkan kembali serangan teror 11 September 2001. Ia mencoba menghubungkan peristiwa itu dengan apa yang sedang berlangsung sekarang.

“Teroris mencoba mengambil kebebasan kita melalui ketakutan dan intimidasi. Kita melawan. Sekarang pejabat terpilih kita … mencoba untuk mengambil kebebasan kita melalui ketakutan dan intimidasi. Dua puluh tahun kemudian, kita berkata, ‘tidak,’” katanya kepada massa.

Michael Kane, seorang guru di New York City yang membantu mengorganisir aksi protes dengan kelompok Teachers for Choice, kepada The Epoch Times dalam sebuah wawancara baru-baru ini. Ia mengatakan bahwa dirinya melihat mandat tersebut sebagai tindakan pemerintah yang melampaui batas dan ilegal.

“Kami tidak anti-vaksin. Kami hanya pro-choice,” ujarnya.

Del Bigtree berbicara di Foley Square, Manhattan, New York, pada 13 September 2021. (Enrico Trigoso/The Epoch Times)

Salah seorang pembicara unggulan adalah Del Bigtree, host podcast The High Wire. Dia mengatakan kepada The Epoch Times: 

“Ini adalah kerumunan terbesar yang pernah kami lihat. Ini akan mulai terjadi di seluruh bangsa ini. Pemerintah Amerika Serikat perlu melakukan ini agar kita menang, ini menekan kita untuk menjadi warga negara dan pejuang kemerdekaan yang kita butuhkan untuk menjaga kecemerlangan negara ini,” ujarnya. 

Rekaman video menunjukkan massa kemudian bergerak melintasi Jembatan Brooklyn sementara mereka meneriakkan nama “Biden,” merujuk pada Presiden Joe Biden, yang baru-baru ini mengumumkan beberapa mandat vaksin.

Seorang perawat memprotes mandat vaksin di Foley Square, Manhattan, New York, pada 13 September 2021. (Enrico Trigoso/The Epoch Times)

Semua pendidik di Kota New York, harus memberikan bukti bahwa mereka menerima setidaknya satu dosis vaksin COVID-19 mulai 27 September di bawah mandat vaksin New York City.

Mereka yang tidak mematuhinya, awalnya diberitahukan bahwa mereka akan dipecat. Seorang arbiter, bagaimanapun, memutuskan minggu lalu bahwa guru yang diberikan pengecualian agama atau medis harus dipertahankan dan ditugaskan untuk pekerjaan non-kelas.

Sebanyak 148.000 jiwa bekerja untuk Departemen Pendidikan new York City. Keputusan itu merupakan kemenangan bagi United Federation of Teachers, sebuah serikat guru, tetapi Kane mengatakan tidak cukup. 

Teachers for Choice berencana segera mengajukan tuntutan hukum  atas nama guru dan pekerja kota lainnya di pengadilan federal terhadap mandat vaksin dan lainnya yang serupa. (asr)

Share

Video Popular