Luo Ya 

Pihak pejabat resmi di Kota  Xiamen, Provinsi Fujian, Tiongkok  mengumumkan telah menghentikan vaksinasi pada (14/9/2021). Tanpa menjelaskan alasannya. Kini, situasi epidemi Xiamen sejak  12 September sudah dikonfirmasi oleh pejabat, hanya ada 1 kasus. Akan tetapi, pada  14 September telah terakumulasi menjadi 35 kasus.

Penghentian vaksinasi tanpa alasan menyebabkan warga menebak-nebak. Mereka khawatir tentang masalah menonaktifkan kualitas vaksin. Netizen daratan Tiongkok di medsos Weibo ada yang menulis dengan nada tidak puas yang berbunyi :  “selamanya tidak pernah mengatakan alasannya.” Lainnya juga meninggalkan pesan yang berbunyi : “Berita ini tidak pernah mengatakan alasannya!”

Ada juga netizen mempertanyakan, “Bukankah dikatakan dapat mencegah kasus serius? Kenapa berubah lagi?”

Ada juga yang mengatakan, “Vaksin tidak memiliki efek kekebalan tubuh, lalu untuk apa divaksinasi?”

Netizens bahkan percaya bahwa vaksin memengaruhi deteksi asam nukleat akurasi positif.

Warga setempat, Shen Shen  kepada Epoch Times mengatakan bahwa, ia tidak percaya sepenuhnya dengan vaksin, menolak untuk divaksinasi, apalagi dia sendiri memiliki riwayat tekanan darah tinggi, gula darah tinggi, dan pemerintah daerah tidak berani memaksa. 

Ia berkata : “Masyarakat setempat juga membuat banner” tidak terkecuali semua harus vaksinasi pada kenyataannya, saya adalah salah satu yang tidak divaksinasi.”

Dia juga mengatakan bahwa epidemi Xiamen ini sangat serius, kini mereka telah menghentikan vaksinasi dan seharusnya mengetahui alasannya. 

Warga itu berkata : “Dalam beberapa hari terakhir ini, saya melihat banyak video di Internet, tiba-tiba ada yang jatuh ke tanah setelah vaksin, ada yang infark serebral, serangan jantung, stroke, yang merupakan masalah aliran darah.”

Xiamen segera menghentikan vaksinasi. (internet screenshot)

Gelombang epidemi di Xiamen, terdapat lebih dari 30 kasus dalam dua hari. Warga menduga  berkaitan dengan vaksinasi, jika virus tidak benar-benar dilemahkan,  disuntik ke tubuh dan berubah menjadi virus, jika kekebalan tubuh rendah akan menjadi terinfeksi, dan dapat menular ke orang lain.”

Warga itu  menekankan :  “Jangan berpuas diri dalam menghadapi epidemi yang kejam, harus tahu asal usul epidemi , tetapi  membiarkan semua orang mengetahuinya secara ilmiah, menolak untuk dipaksa vaksin. Kami juga harus belajar untuk menolong dan melindungi diri sendiri. Tetap jaga kesehatan, jangan pergi ketempat yang ramai, seharusnya tidak akan begitu mudah untuk terinfeksi. “

Wartawan Epoch Times menanyakan kepada Kantor Pusat Pengendalian dan Penyakit (CDC) setempat alasan  menghentikan vaksinasi. Pihak CDC hanya berdalih berhenti untuk sementara waktu dan setelah epidemi mereda akan terus dilanjutkan.  Wartawan kemudian bertanya apakan ada hubungan vaksin dengan meledaknya epidemi, dan apakah akurasi deteksi asam nukleat  karena vaksin. Akan tetapi,  tidak menanggapinya. Pejabat itu hanya mengatakan kepada wartawan tentang vaksinasi untuk pencegahan penularan epidemi .

Si wartawan juga menyebutkan, jalur khusus untuk  telepon selalu dalam keadaan sibuk dan tidak dapat tersambung .

Sama halnya pada 8 Juni lalui, ketika epidemi terjadi di Shenzhen dan Guangzhou, Longhua District, Shenzhen, juga secara tiba-tiba mengumumkan bahwa vaksinasi dihentikan. Sedangkan kapan akan diteruskan, maka harus menunggu pengumuman lebih lanjut. Pada saat itu juga menimbulkan kritikan dari warga. 

Pada 5 Juni lalu , Qianjiang, Provinsi Hubei, baru-baru ini menemukan bahwa empat orang yang melakukan tes asam nukleat hasilnya adalah positif rendah. Sedangkan para ahli telah menilai bahwa staf medis “overflow” saat vaksinasi kepada warga, sehingga kemungkinan menyebabkan penularan.

Menurut laporan itu, yang disebut “spill” adalah “percikan”,  saat menonaktifkan vaksin, karena vaksin mengandung virus, toksisitasnya bisa berkurang, dan tidak ada kemampuan replikasi, tetapi bisa menular .

Dalam kasus “menonaktifkan vaksin” itu sendiri, Dr. Lin Xiaoxu, seorang Mantan Perwira Angkatan Darat AS dan Ahli Mikrobiologi kepada Epoch Times mengatakan, hal ini juga merupakan tantangan besar dalam mendeteksi virus yang aktif dalam vaksin. Dalam hal tidak ada lebih dari 100% inaktivasi, beberapa virus dalam tubuh tersisa akan kembali brevite. Oleh karena itu, proses itu sendiri membutuhkan persyaratan  tinggi,  perlu melewati beberapa prosedur. Jika proses ini tidak dijamin, bahaya vaksin ini relatif besar.

Sebelumnya, Virologi dan epidemiologi dari Taiwan, Dr. Ho, Mei-Shang juga mengatakan bahwa ada fenomena ADE atau antibody Dependent Enhancement, berdasarkan pada pengembangan “vaksin tidak aktif penuh virus”, yang merupakan bagian dari vaksinasi, dan respon imun autologus akan menyebabkan penyakit semakin parah. Oleh karena itu, vaksin ini tidak akan dikembangkan di Taiwan, dan tidak akan menggunakan jenis vaksin ini.

Pada  4 September,  situs Komite Kesehatan daratan Tiongkok mengklaim,  bahwa di daratan Tiongkok orang yang divaksinasi telah mencapai lebih dari 2,1 miliar dosis. Laporan itu berarti bahwa 1 milyar penduduk telah menyelesaikan 2 dosis vaksinasi. (hui)

Share

Video Popular