oleh Chen Juncun

Lantaran virus komunis Tiongkok (COVID-19) yang terus menyebar dan menyebabkan kematian banyak orang di dunia, banyak negara menggunakan vaksin untuk mengatasinya. Meskipun hingga saat ini vaksin masih memiliki beberapa kekurangan, seperti cara penyimpanan vaksin tidak mudah serta produksinya terbatas.  Bahkan tidak sedikit orang yang takut disuntik, pingsan pada suntikan pertama, atau efek samping lainnya.

Untuk itu, para ilmuwan Amerika Serikat sedang mengembangkan sayuran yang dapat “membawa” vaksin, dengan harapan orang yang mengonsumsinya sama dengan sudah mendapatkan vaksinasi.

Menurut situs web University of California, Riverside bahwa para ilmuwan di kampus tersebut, sedang mengembangkan vaksin nabati, dengan harapan sel-sel tumbuhan bisa menjadi perantara pembawa urutan gen vaksin messenger RNA (mRNA).

Mereka berharap masyarakat bisa menanam sayuran ini di pekarangan rumah masing-masing. Setelah dikonsumsi, masyarakat dapat memperoleh efek perlindungan yang setara dengan vaksin injeksi tradisional.

Juan Pablo Giraldo, seorang profesor di universitas yang memimpin penelitian mengatakan bahwa dalam kondisi ideal, satu tanaman dapat membawa cukup vaksin mRNA untuk satu orang.

Tim peneliti Giraldo sedang menguji teknologi ini pada bayam dan selada. Jika teknologi ini berhasil dikembangkan, tidak hanya COVID-19, tetapi juga vaksin untuk penyakit lain seperti influenza dapat diproduksi dengan cara ini di masa depan. Ini akan menumbangkan pemahaman masyarakat tentang vaksinasi tradisional.

Seorang wanita sedang menggunakan semprotan hidung. (Pixabay)

Secara kebetulan, para ilmuwan Jepang juga sedang mengembangkan vaksin alternatif yang mirip dengan semprotan hidung, dengan harapan masyarakat akan divaksinasi hanya dengan satu semprotan lewat lubang hidung.

Menurut laporan media Jepang, para peneliti di Mie University negara itu telah mempelajari vaksin semprot hidung sejak bulan Maret 2020, dan masa penyimpanannya bisa hingga 6 bulan.

Tetsuya Nozaka, seorang profesor dari Institut Kedokteran di Mie University menunjukkan bahwa, vaksin dapat disemprotkan ke hidung melalui lubang hidung untuk menghasilkan antibodi tanpa perlu suntikan jarum.

Tetsuya Nozaka mengatakan bahwa efektivitas dari vaksin ini mengejutkan mereka. Kemungkinan efek samping seperti demam dan sebagainya sangat rendah.

Namun Tetsuya Nozaka mengungkapkan bahwa biaya komersialisasi vaksin ini bisa mencapai 10 miliar yen atau USD. 9,1 juta. Jika memungkinkan, ia berharap vaksin ini bisa digunakan di seluruh dunia, tidak hanya di Jepang. Dia menambahkan bahwa dirinya berharap vaksin tersebut sudah bisa tersedia dalam 2 tahun ini. (sin)

Share

Video Popular