Charlotte Cuthbertson dan Zachary Stieber

Ribuan imigran ilegal yang kebanyakan berasal dari Haiti, menyemut di kolong jembatan internasional  Texas sambil menunggu diproses oleh Border Patrol agents atau Petugas Patroli Perbatasan. Ribuan imigran ini menjadi masalah baru di AS, sejak Joe Biden menjabat sebagai Presiden AS yang banyak merombak sistem imigrasi dan perbatasan.

Berdasarkan pantauan The Epoch Times edisi Amerika Serikat dari lokasi, ribuan imigran ilegal tersebut berada  di lokasi yang penuh dengan sampah, banyak yang duduk atau berbaring di atas selimut. Lainnya berdiri serta mengobrol dengan rekan mereka.

Sheriff Val Verde County, Joe Frank Martinez  pada (16/9/2021) mengatakan, mereka berjumlah 9.000 jiwa termasuk warga negara Haiti, Kuba, dan Venezuela yang  berada di daerah itu.  

Kemudian sebanyak 500 orang lainnya tiba dalam waktu setengah jam sebelumnya, ketika sheriff dan walikota Del Rio, Texas, Bruno Lozano, menggelar konferensi pers di dekat jembatan—hampir terlihat dari Rio Grande, yang berfungsi sebagai perbatasan internasional dengan Meksiko.

Orang-orang yang berkumpul terus meroket dalam waktu kurang dari seminggu, yang semula hanya beberapa ratus orang di kolong jembatan itu pada 9 September.

Walikota Bruno Lozano, mengonfirmasi bahwa 20.000 lainnya sedang dalam perjalanan.

 

“Saya sangat frustrasi. Hal yang saya khawatirkan adalah penyerbuan. Yang saya khawatirkan adalah terorisme, ini tidak aman. Ini tidak dapat dipertahankan, Kami tidak benar-benar mengetahui siapa mereka,” katanya sambil melihat ke arah perbatasan yang terbuka lebar dan jumlah orang yang berjalan bolak-balik melintasinya.

Sementara itu, Gubernur Texas Greg Abbott  mengerahkan Departemen Keamanan Publik Texas dan Garda Nasional Texas untuk “mempertahankan kehadiran mereka di  pintu masuk untuk mencegah penyeberangan,” meskipun tidak jelas seberapa efektif  untuk mengurangi menyemutnya orang-orang dalam jumlah besar. 

Abbot pada 16 September mengatakan, pemerintahan Biden benar-benar kacau dan menangani krisis perbatasan sama buruknya dengan evakuasi dari Afghanistan. 

Ribuan imigran gelap berkumpul di Del Rio, Texas, pada 16 September 2021. (Charlotte Cuthbertson/The Epoch Times)

Lozano mengatakan layanan medis kotanya berkurang. Bahkan, seorang wanita imigran ilegal dilarikan ke rumah sakit pada 15 September untuk melahirkan. Pada 16 September, The Epoch Times menyaksikan Petugas Patroli Perbatasan membawa seorang wanita ke dalam ambulans.

Lozano menyalahkan pemerintahan Biden, khususnya Wakil Presiden Kamala Harris, karena tidak fokus pada perbatasan AS-Meksiko, terutama kota-kota kecil yang bakalan terkena dampaknya, seperti Del Rio. Jumlah orang asing ilegal yang kini  berada di kolong jembatan hampir sepertiga dari penduduk kota tersebut. Ia mengatakan, pihaknya diabaikan dan mereka hanya memprioritaskan pusat kota. 

Sedangkan Sheriff Martinez mengonfirmasi, keberadaan imigran ilegal tidak sedang dalam rangka test COVID-19.

Penegak hukum menambahkan lebih banyak toilet portable di kolong jembatan setiap hari dan stasiun air minum disediakan. Para imigran ilegal sering menyeberangi sungai untuk kembali ke Meksiko untuk mendapatkan makanan dan persediaan.

Imigran ilegal berjalan di dekat area jembatan internasional setelah melintasi Rio Grande (di kiri), dari Meksiko ke Del Rio, Texas, pada 16 September 2021. (Charlotte Cuthbertson/The Epoch Times)

U.S. Customs and Border Protection (CBP)  tidak menjawab telepon atau membalas pesan suara atau email pada 16 September, ketika jumlah imigran ilegal terus membludak. Tidak ada perwakilan CBP yang berbicara pada konferensi pers.

Mark Krikorian, Direktur eksekutif Center for Immigration Studies, sebuah wadah pemikir nonpartisan yang mengadvokasi sistem pro-imigran mengatakan kepada The Epoch Times, kejadian ini benar-benar dapat diprediksi karena Biden pada dasarnya mengundang imigran ilegal.  Sepertinya hanya contoh ekstrem dari apa yang dilihat sejak 20 Januari, yaitu imigran ilegal, menerima tawaran Biden.  Jika berhasil masuk ke Amerika Serikat, maka mereka akan dibiarkan pergi. 

Pejabat administrasi Biden berhenti menggunakan kebijakan pemerintah federal bernama Title 42 yang dibuat selama pandemi COVID-19, untuk memulangkan anak-anak di bawah umur tanpa pendamping, atau anak-anak imigran ilegal.

Imigran ilegal naik bus untuk diangkut ke stasiun Patroli Perbatasan untuk diproses, di bawah jembatan internasional, di Del Rio, Texas, pada 16 September 2021. (Charlotte Cuthbertson/The Epoch Times)

Penerapan Kebijakan Title 42 menurun dalam beberapa bulan terakhir. Pasalnya, Partai Demokrat menekan Biden untuk mengakhiri kewenangan. Pejabat menerapkannya hanya dalam kisaran 44 persen dari imigran ilegal pada bulan Agustus lalu.

Melintasi perbatasan ke Amerika Serikat tanpa surat yang layak adalah ilegal, tetapi setelah orang berhasil masuk, seorang imigran ilegal dapat mengklaim suaka, atau kekhawatiran akan penganiayaan jika mereka dikembalikan ke negara asal mereka. Jika mereka melakukannya, maka sering diloloskan  ke Amerika Serikat. Jika tidak, mereka diproses di bawah Title 8, atau undang-undang federal, biasanya mendapatkan tanggal pengadilan atau diminta untuk hadir di Immigration and Customs Enforcement Office pada hari tertentu. Akan tetapi, sebagian besar tidak muncul.

Ada indikasi, keberadaan sejumlah orang dewasa lajang diizinkan untuk tetap tinggal, terutama warga negara asing yang negaranya telah diberikan jenis perlindungan khusus yang disebut Temporary Protected Status oleh otoritas AS.

Seorang pria Haiti, seorang pria lajang yang menyeberang dengan sekitar 350 imigran ilegal lainnya ke Del Rio dari Meksiko pada bulan Juli, berbicara kepada The Epoch Times setelah memasuki Amerika Serikat. Sekitar sebulan kemudian, dia mengirim sms untuk mengatakan dia berhasil sampai ke Boston dan baik-baik saja.

Agen Patroli Perbatasan dan staf EMS setempat memuat seorang wanita imigran ilegal ke dalam ambulans di Del Rio, Texas, pada 16 September 2021. (Charlotte Cuthbertson/The Epoch Times)

Seorang pria Kuba berusia sekitar 20-an, Eduardo,  kepada The Epoch Times pada minggu ini di sebuah pompa bensin di Del Rio mengatakan bahwa dia sedang menunggu untuk dijemput orangtuanya, yang tinggal di Houston. Dia mengatakan dirinya melakukan perjalanan dari Panama melalui Amerika Tengah sebelum berhasil melewati Meksiko untuk mencapai Del Rio. Ia melakukannya sebagian besar dengan berjalan kaki.

“Tidak ada kebebasan di Kuba,” kata Eduardo yang diturunkan petugas Border Patrol di lokasi itu. 

Jaeson Jones, CEO Omni Intelligence, kepada The Epoch Times mengatakan, pemerintah pasti mengetahui tentang kelompok besar imigran yang sekarang berada di Del Rio.   Apalagi, program intelijen AS memantau Amerika Tengah untuk mendeteksi pembentukan kelompok besar, kata Jones, seorang mantan kapten intelijen dan kontra-terorisme Departemen Keamanan Publik Texas, yang bekerja erat dengan Patroli Perbatasan.

Jones menilai, tidak ada seorang pun di pemerintah federal  mengakui apa yang akan terjadi,  mereka juga tidak melakukan apa pun untuk menguranginya. Ini adalah karavan orang dalam jumlah besar yang tidak dihentikan. Baginya, hal demikian  merupakan validasi dari tingkat kegagalan kepemimpinan  pemerintahan pada saat ini. (asr)

Share

Video Popular