oleh Anders Corr

Pada Agustus, otoritas pendidikan Shanghai melarang sekolah dasar untuk memberikan ujian akhir bahasa Inggris. Hal itu mengejutkan banyak warganegara Tiongkok, yang melihat bahasa Inggris, dan akses internasional jika menguasai bahasa Inggris, adalah penting untuk pembangunan ekonomi Tiongkok. Banyak orang mungkin melihat bahasa Inggris sebagai paspor mereka ke luar negeri. 

Partai Komunis Tiongkok memiliki rencana lain untuk mereka, dan bahasa Barat yang ingin mereka gunakan. Tidak hanya  keterampilan bahasa diambil penduduk tersebut, tetapi semakin banyak, warganegara Tiongkok tidak bisa mendapatkan paspor dan memperpanjang paspor.

Warganegara Tiongkok harus waspada akan kemungkinan buruk yang akan terjadi, dan jika memungkinkan, beremigrasi bersama dengan keluarga mereka dan kekayaan apa pun yang dapat mereka dapatkan dari Tiongkok. 

Tentu saja, banyak warganegara Tiongkok yang telah melakukannya selama bertahun-tahun, terutama setelah pembantaian Lapangan Tiananmen pada tahun 1989.

Secara global, sementara jumlah penutur bahasa Inggris adalah sebanyak 1,131 miliar orang, yang sedikit lebih banyak dari penutur bahasa Mandarin, yaitu 1,117 miliar orang, sebuah proporsi yang jauh lebih besar dari penutur bahasa Inggris telah mempelajari bahasa Inggris sebagai bahasa kedua. 

Penutur bahasa Prancis, sebanyak 280 juta orang, memiliki sebuah  persentase pelajar non-pribumi yang lebih besar, terkait dengan bahasa Inggris. Bahasa ketiga yang paling sering digunakan di dunia adalah bahasa Spanyol, sebanyak 545 juta orang, kebanyakan adalah penutur asli.

Seiring waktu, jumlah pelajar bahasa Barat yang jauh lebih besar akan mengubah dunia menjadikan bahasa Inggris sebagai sebuah bahasa untuk para elit di bidang diplomasi dan bisnis internasional. Hal ini sudah berjalan dengan baik, termasuk di Uni Eropa, yang tidak lagi mencakup Inggris, dan Organisasi Kerjasama Shanghai, yang membutuhkan bahasa Inggris untuk berkomunikasi dengan diplomat India dan diplomat Pakistan.

Beberapa orang mungkin berpikir bahwa di puncak globalisasi pengaruhnya sendiri dan posisi kekuasaannya, rezim di Beijing akan secara strategis mendidik para warga negaranya dalam bahasa Inggris, sehingga para warga negaranya dapat lebih mudah memengaruhi politik-politik dunia, dan mengekstrak teknologi dari kampus dan bisnis dunia.

The New York Times, dalam artikel  9 September oleh Li Yuan, mengutip seorang pengacara nasionalis di Shanghai yang mempermasalahkan kebijakan anti-Inggris dari sebuah perspektif pro-Beijing. ˜Kapan orang Tiongkok dapat berhenti belajar bahasa Inggris? sang pengacara bertanya, lalu menjawab pertanyaannya sendiri: ‘Kapan Tiongkok menjadi pemimpin di bidang teknologi tercanggih dan dunia perlu mengikuti Tiongkok.’ Kalau begitu, ‘sang pengacara menulis, otang-orang asing ‘dapat datang untuk belajar bahasa Mandarin.'”

Tetapi, rezim Tiongkok dapat mendapatkan teknologinya dengan cara lain, misalnya, melalui pembelian atau pencurian dunia maya dari para ilmuwan, akademisi, dan pebisnis secara global. Orang-orang asing yang ramah ini biasanya naif terhadap niat Partai Komunis Tiongkok, dan bersemangat untuk menghasilkan pendapatan dari sumber apa pun, termasuk para pejabat pemerintah Tiongkok dan bisnis-bisnis Tiongkok. Jadi orang-orang asing ini membiarkan dirinya rentan terhadap bujuk rayu akan uang dan keterlibatan ilmiah.

Beijing tidak menanggapi argumen bahwa Tiongkok dapat mempengaruhi dunia melalui kekuasaan lunak yang sejati, yang membutuhkan keterbukaan, transparansi, dan dengan demikian, kerentanan. 

Beijing harus menjatuhkan tamengnya, termasuk pembatasan terhadap berbagi ilmu pengetahuan dan informasi politik Tiongkok, dan membuka internet Tiongkok secara lebih umum. Tameng Beijing yang paling efektif terhadap dunia adalah Tembok Api Besar Tiongkok. 

Beijing tidak akan melucuti Tembok Api Besar Tiongkok dan membuat dirinya menjadi rentan terhadap hasil pendidikan politik terhadap masyarakat Tiongkok, yang kemudian kemungkinan akan menjadi anti-Partai Komunis Tiongkok dan menjadi sebuah ancaman bagi kekuasaan Partai Komunis Tiongkok.

Risiko tersebut adalah terlalu besar, terutama ketika hadiah itu adalah sangat jauh. Dunia sama sekali tidak mengadopsi model Maois yang menjadi sandaran rezim Tiongkok untuk kekuatan lunak yang nyata. 

Oleh karena itu, berpaling dari pendidikan massal dalam bahasa Inggris adalah tidak hanya diperlukan, tetapi sebuah bagian yang dapat diterima dari strategi Partai Komunis Tiongkok untuk “melindungi” dan dengan demikian lebih baik mengeksploitasi warganegaranya sendiri. 

Penduduk Shanghai, yang paling kosmopolitan di Tiongkok, tidak perlu berbahasa Inggris jika mereka tetap bertahan, dan orang-orang asing dijauhkan. Dengan demikian Beijing tidak memerlukan  universitas Barat, band pop Korea, dan merek pakaian luar negeri yang berjualan di Tiongkok. Memang, sekarang semua berada di bawah tekanan rezim Tiongkok, yang melihat universitas Barat, band pop Korea, dan merek pakaian luar negeri sebagai kemewahan yang berbahaya.

Dengan demikian Partai Komunis Tiongkok berbalik melawan penduduknya sendiri yang berjumlah 1,4 miliar, untuk menjadikan penduduknya itu sebagai pusat gravitasi untuk kekuatannya sendiri, sambil mengirim utusan ke seluruh dunia sebagai tombak Partai Komunis Tiongkok, untuk mengekstraksi politik, ekonomi, dan kekuatan teknologi dari negara-negara lain. Gabungan strategi tameng dan tombak ini adalah metode dan sumber pertumbuhan kekuasaan Partai Komunis Tiongkok. 

Perusahaan di dalam negeri Tiongkok, yang menggunakan bahasa Mandarin, adalah lebih mudah untuk dikendalikan daripada perusahaan Barat. Dengan mendorong perusahaan tersebut untuk berdagang satu sama lain, perusahaan tersebut mempertahankan pengeluaran konsumen Tiongkok untuk memperkuat pekerjaan, ekonomi, dan perpajakan di Tiongkok, secara internal. 

Tiongkok bukanlah sebuah negara kecil yang banyak mengandalkan impor barang konsumsi, bahan makanan, investasi, atau infrastruktur. Tiongkok dapat memproduksi sendiri, dan melalui sebuah ekonomi yang independen, melindungi diri dari sanksi Amerika Serikat dan sekutu Amerika Serikat atas masalah seperti hak asasi manusia.

Benteng Tiongkok memiliki sumber tenaga kerja manusia, dan pasokan makanan dari pajak yang melimpah. Mentalitas benteng Xi Jinping ini tidak akan menghapus pengaruh yang tidak liberal yang dapat dimiliki Tiongkok di dunia. 

Para pejabat pemerintah dan “miliarder” Tiongkok, yang merupakan para penjaga gerbang untuk penyediaan akses pasar yang dipilih dan ditargetkan di Tiongkok, atau miliaran investasi di luar bidang itu, masih dipersilakan untuk berkeliling dunia. Tiongkok dapat memperoleh teknologi apa pun yang dibutuhkannya, atau menggunakan pengaruh politik, termasuk melalui penyuapan yang dianggap perlu untuk perluasan kekuasaan Partai Komunis Tiongkok.

Dengan demikian dunia adalah tiram Partai Komunis Tiongkok, karena Partai Komunis Tiongkok punya uang untuk pembelian, dan modal, teknologi, dan kendali tenaga kerja yang diperlukan untuk mempertahankan di pusatnya, segala jenis kekuatan informasi atau politik yang dibutuhkan Partai Komunis Tiongkok.

Oleh karena itu, untuk memengaruhi dunia, Partai Komunis Tiongkok tidak membutuhkan bahasa Inggris. Partai Komunis Tiongkok dapat membeli pemimpin dunia, sama seperti Partai Komunis Tiongkok membeli penerjemah-penerjemah bahasa Inggris. 

Strategi tameng dan tombak Tiongkok memperoleh elit  melalui perangkap uangnya, yang berbeda dari strategi Barat untuk memengaruhi populasi secara keseluruhan untuk suatu hari nanti mendemokratisasi Tiongkok.

Untuk memengaruhi Tiongkok, kita perlu mengakses orang-orang Tiongkok dan berbicara dengan bahasa Mandarin. Tetapi strategi Barat ini tidak ada gunanya jika Partai Komunis Tiongkok pada saat yang sama dapat melindungi populasinya, termasuk dengan mengurangi pendidikan bahasa Inggris. (Vv)

Anders Corr memiliki gelar sarjana/master dalam ilmu politik dari Universitas Yale (2001) dan gelar doktor dalam bidang pemerintahan dari Universitas Harvard (2008). Ia seorang kepala sekolah di Corr Analytics Inc., penerbit Journal of Political Risk, dan melakukan penelitian ekstensif di Amerika Utara, Eropa, dan Asia. Dia menulis “The Concentration of Power” (akan terbit pada tahun 2021) dan “No Trespassing,” dan mengedit “Great Powers, Grand Strategies.”

Share

Video Popular