Zhu Ying

Untuk memerangi epidemi virus Komunis Tiongkok (COVID-19), negara-negara di seluruh dunia meluncurkan segala upaya seperti vaksinasi skala besar. Namun demikian, SARS-CoV-2 yang menyebabkan epidemi ini juga terus bermutasi. Beberapa hari  lalu, beberapa ahli memperingatkan bahwa ada beberapa mutasi penting pada strain varian R.1 baru yang ditemukan. Varian ini memiliki kemampuan  yang lebih kuat untuk meloloskan diri dari vaksin. Saat ini, puluhan ribu orang di seluruh dunia  terinfeksi dengan varian ini. 

Varian R.1 dari virus Komunis Tiongkok atau  SARS-CoV-2  diyakini  ditemukan di Jepang pada akhir tahun lalu. Setidaknya 10.000 orang di seluruh dunia telah didiagnosis dengan virus ini. 

Beberapa waktu  lalu, virus Delta  menyebar lebih cepat dan lebih luas telah menarik perhatian negara-negara di seluruh dunia. Sedangkan munculnya galur varian R.1 ini, belum banyak menarik perhatian publik.

Namun demikian, pada 22 September, sebuah berita mengejutkan muncul di Amerika Serikat. Sebuah wabah infeksi massal terjadi di fasilitas perawatan di Kentucky. Dari 46 orang yang terinfeksi penyakit tersebut, 22 orang  menerima dua dosis penuh vaksin, dan mereka terinfeksi Varian Strain R.1.

Menurut sebuah laporan yang dikeluarkan oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), insiden infeksi massal di panti jompo Kentucky terjadi pada Maret tahun ini. Saat itu, ada 83 warga dan 116 tenaga medis di fasilitas perawatan tersebut, di antaranya 26 orang penghuni dan 20 orang staf dipastikan terinfeksi virus varian R.1. Sebanyak 22 orang terinfeksi telah menerima dua dosis vaksin penuh. 

Kasus ini menunjukkan bahwa keefektifan vaksin yang ada, dalam mencegah  varian R.1 mungkin sangat berkurang. Hal demikian menimbulkan lebih banyak perhatian dan kekhawatiran publik tentang galur varian ini.

Menurut Newsweek, hingga saat ini, termasuk Tiongkok, India, Amerika Serikat dan banyak negara di Eropa Barat, kasus infeksi strain varian R.1 telah ditemukan di 37 negara di seluruh dunia. Adapun di Amerika Serikat, ditemukan di 47 negara bagian. Secara total 399 orang didiagnosis dengan strain mutan ini.

Saat ini, jumlah orang yang terinfeksi strain ini di dunia masih relatif kecil, dibandingkan jumlah orang yang terinfeksi strain mutan lain seperti Delta, sehingga World Health Organization (WHO) belum memasukkan virus varian R.1 sebagai virus variant of concern (VOC) atau Varian yang diwaspadai. Akan tetapi, para ahli medis terus melacak kasus terkait  untuk mempelajari apakah harus dimasukkan dalam daftar yang harus diwaspadai.

Laporan penelitian CDC menunjukkan bahwa virus varian R.1 memiliki “mutasi protein lonjakan ganda” (multiple spike protein Mutation), menunjukkan bahwa jenis virus ini mungkin lebih mudah untuk menghindari antibodi yang dihasilkan oleh alam atau vaksinasi. Ini berarti, kasus infeksi terobosan dapat meningkat di masa depan. Bahkan, penyebaran virus juga meningkat.

Namun demikian, laporan penelitian CDC juga menunjukkan bahwa dalam kasus fasilitas perawatan Kentucky, penghuni panti jompo yang divaksinasi memiliki kemungkinan 87% lebih kecil untuk mengembangkan gejala setelah terinfeksi R.1 dibandingkan mereka yang belum divaksinasi. Proporsi pasien juga lebih rendah daripada pasien yang tidak divaksinasi. Hal ini menunjukkan bahwa vaksinasi dinilai masih dapat mengurangi kemungkinan timbulnya gejala, sakit parah, atau kematian setelah terinfeksi virus varian R.1. (hui)

Share

Video Popular