Setelah Evergrande jatuh ke dalam krisis utang. Kini terus menjual asetnya untuk merealisasikannya. Pada 29 September, Evergrande mengumumkan bahwa mereka menjual saham Bank Shengjing yang dipegangnya kepada perusahaan milik negara, dan merealisasikan RMB 10 miliar. Ada juga berita menyebutkan Komunis Tiongkok mengharuskan perusahaan untuk membeli sebagian besar aset Evergrande untuk mencegah kemungkinan kerusuhan sosial

Luo Ya

Krisis utang Evergrande naik turun.  Komunis Tiongkok akhirnya bersuara. Reuters melaporkan bahwa Beijing menginstruksikan raksasa real esate Jinmao,  China Vanke Co Ltd, China Resources, dan lainnya untuk menegosiasikan pembelian proyek Evergrande. Sumber tersebut mengatakan, beberapa perusahaan BUMN telah mengkaji untuk pembelian aset Evergrande.

Risiko industri real estate Tiongkok menarik perhatian dunia internasional. Dapat dipahami  Komite Kebijakan Moneter Komunis Tiongkok baru-baru ini, menggelar pertemuan rutin pada kuartal ketiga tahun 2021, menyebutkan real estat.

Shi Huawei, mantan manajer keuangan Bank of Communications di Guangzhou mengatakan faktanya, kasus real estate seperti Evergrande bukan hanya terjadi pada saat ini semata.  Hanya saja Evergrande  relatif besar. Masih ada perusahaan kecil sebelumnya yang mana mengalami gagal bayar serupa atau mungkin bangkrut. Tapi, Evergrande mengalaminya karena mungkin sebagai perusahaan real estate terbesar di Tiongkok dan dunia.”

Laporan tersebut mengutip sejumlah otoritas pemerintah dan regulator yang mengungkapkan  Evergrande berada di ambang kebangkrutan, tetapi pemerintah tidak mungkin secara langsung menyelesaikan krisis Evergrande dengan bailout. Pihak berwenang berharap penjualan  aset Evergrande, setidaknya dapat membantu mengatasi kebangkrutan.

Ekonom Taiwan, Wu Jialong percaya penanganan Komunis Tiongkok atas utang Evergrande di bawah kondisi yang dapat dikendalikan, mungkin menggunakan Evergrande sebagai sampel untuk dijadikan sebagai model  dalam menangani krisis utang  di masa depan.

Setelah pembentukan model restrukturisasi utang Evergrande, kata Wujialong, jika Country Garden, Vanke serta real estate lain, atau perusahaan swasta lainnya memiliki masalah serupa, juga dapat diterapkan kebijakan serupa.  Jadi,  otoritas moneter bertindak dengan mempertimbangkan risiko sistem keuangan  perbankan serta harus beradaptasi dengan krisis utang pada masa mendatang.”

Bahkan,  perusahaan Tiongkok yang bangkrut diyakini dapat menerapkan model seperti ini yakni reorganisasi kebangkrutan, reorganisasi aset, dan BUMN langsung mengambil alih perusahaan tersebut.

Ekonom itu memprediksi, peran BUMN adalah menurunkan utang, kemudian menurunkan harga aset, dan kemudian BUMN masuk dengan harga rendah.  Kemudian,  melepaskan diri dari induknya atau spin off, reorganisasi, dan re-listing. Jadi, reorganisasi aset setelah pailit, harus cukup baik untuk menarik investor strategis. Kemudian investor strategis  masuk untuk mengambil alih dan menyelamatkan perusahaan yang bangkrut. Pada akhirnya, negara tidak perlu membayar atau membayar sesedikit mungkin.”

Dengan banyaknya gelembung real estat di daratan Tiongkok, Evergrande hanyalah yang terbesar. Ada juga sejumlah perusahaan real estat lokal lainnya yang memiliki utang dalam jumlah besar. 

Shi Huawei menambahkan, terlepas dari pemerintah, dan bank, mereka juga mengetahui semuanya. Akan tetapi, mereka semua bertindak demi keuntungan mereka masing-masing. Apakah Anda pikir badan pengatur pemerintah, mereka benar-benar tidak mengetahuinya? Tidak mungkin. Dan, bank mana mungkin “Bagaimana mungkin Mereka tidak mengetahui tentang review pinjaman?  Jadi, mereka seperti bermain bersama-sama.”

Menurut “China Real Estate Busines”, sepuluh perusahaan real estat teratas Tiongkok memiliki total utang 10,5 triliun yuan. Evergrande adalah yang pertama, kedua dan ketiga adalah Country Garden dan Vanke.

Wu Jialong menilai, ini sebagai akibat kebijakan stimulus fiskal dan pelonggaran moneter yang dibuat dari era Wen Jiabao. Kemudian,  menyebabkan bisnis real estat mengambil alih dan terus mendukung pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu, masalah real estate bukan hanya masalah bagi Evergrande semata. Ini adalah masalah bagi seluruh industri, karena gelembung real estat yang terlihat di Tiongkok adalah produk dari latar belakang pelonggaran moneter. Oleh karena itu, ledakan Evergrande atau gelembung seluruh real estat, harus disalahkan atas kesalahan kebijakan makro Komunis Tiongkok. Jika tidak ada kebijakan makro sebagai latar belakang, maka perusahaan real estat tidak akan seperti ini.

Menurut analisis Reuters, kasus Evergrande, kini membayangi industri real estate Tiongkok.  Beberapa perusahaan real estate, bahkan berada di bawah tekanan untuk melunasi pinjaman mereka lebih awal. Insiden Evergrande tampaknya berubah dari krisis tunggal menjadi kepanikan industri. (hui)

Share

Video Popular