Petr Svab

Ribuan perawat dan tenaga kesehatan lainnya di seluruh Negara Bagian New York, Amerika Serikat kehilangan pekerjaan atau diberhentikan dari pekerjaan karena mereka menolak untuk mematuhi mandat Negara Bagian New York untuk menerima vaksinasi untuk melawan COVID-19

Mulai berlaku pada 27 September, mandat vaksin telah menyebabkan kekurangan staf, meskipun beberapa sistem rumah sakit besar di Negara Bagian New York telah mengatakannya pihaknya menjaga kesinambungan pelayanan.

Kantor Gubernur New York, Kathy Hochul  menyatakan,  per  27 September, 92 persen pekerja rumah sakit di Negara Bagian New York telah menerima setidaknya satu dosis vaksin, berdasarkan data awal yang dilaporkan negara bagian itu sendiri.

Hal tersebut akan menyebabkan puluhan ribu pekerja rumah sakit dijadwalkan untuk pemutusan hubungan kerja, meskipun beberapa penyedia layanan kesehatan menunjukkan bahwa pihaknya memberi beberapa waktu kepada pekerjanya untuk tetap menerima vaksinasi dan kembali bekerja.

Mandat tersebut menyebabkan beberapa gangguan di bagian utara Negara Bagian New York.

Strong Memorial Hospital di Rochester mengumumkan jeda dua minggu untuk beberapa prosedur yang elektif.

“Pasien dapat memperkirakan waktu tunggu yang lebih lama untuk perjanjian rutin, beberapa pekerja akan diminta untuk mengambil tanggung jawab baru, dan penutupan tempat tidur sementara dimungkinkan,” kata Universitas Rochester, yang mengelola Strong Memorial Hospital, dalam sebuah pernyataan, yang mencatat layanan darurat dan perawatan kritis akan terus berlanjut.

Pusat Medis Daerah Erie di Buffalo menangguhkan operasi bedah terhadap pasien rawat inap secara elektif dan  berhenti menerima pasien perawatan intensif dari rumah sakit lain karena Pusat Medis Daerah Erie bersiap untuk memecat ratusan pekerja yang tidak menerima vaksinasi, kata juru bicara Peter Cutler kepada Reuters.

Northwell Health, pemberi kerja perawatan kesehatan terbesar di Negara Bagian New York dengan dua puluh empat rumah sakit dan 76.000 staf, menunjukkan bahwa tidak semua pekerja yang tidak menerima vaksinasi segera dipecat.

Northwell Health memberitahukan semua anggota tim yang tidak menerima vaksinasi bahwa mereka tidak lagi memenuhi mandat Negara Bagian New York, demikian perkataan juru bicara Jason Molinet kepada The Epoch Times.

“Kami  memulai sebuah proses untuk mengeluarkan semua anggota tim yang menerima vaksinasi, menggunakan sebuah  pendekatan yang direncanakan dengan hati-hati yang keduanya mempertahankan kesinambungan perawatan di semua fasilitas kami dan memastikan keselamatan semua pasien kami,” tulis Jason Molinet dalam sebuah penyataan email.

Jason Molinet menolak untuk mengklarifikasi apakah itu berarti beberapa pekerja yang tidak menerima vaksinasi diizinkan untuk tetap bekerja untuk saat ini. 

“Maaf, tidak ada pembaruan di luar pernyataan itu,” kata Jason Molinet.

Lebih dari 91 persen anggota staf di NYC Health + Hospitals, sistem rumah sakit jaring pengaman yang dikelola New York City, menerima vaksinasi, seorang pejabat di NYC Health + Hospitals mengatakan kepada The Epoch Times. Itu masih menyisakan lebih dari 3.000 orang yang tidak  menerima vaksinasi, yang dirumahkan tetapi tidak dibayar namun bebas untuk kembali bekerja jika mereka berubah pikiran mengenai vaksinasi.

Sistem tersebut belum melihat gangguan layanan dan tidak mengharapkan apa pun, ujar Kepala NYC Health + Hospitals, Mitchell Katz, selama konferensi pers 28 September bersama dengan dengan Walikota New York City Bill de Blasio.

Di New York-Presbyterian Hospitals, salah satu sistem rumah sakit terbesar di Amerika Serikat, masih ada kurang dari 220 pekerja yang tidak menerima vaksinasi dari 48.000 pekerja dengan berlalunya tenggat waktu, demikian pernyataan Presiden dan Kepala Eksekutif Steven Corwin  kepada CBS News.

Rumah Sakit St. Barnabas di wilayah The Bronx, New York City,memiliki kurang dari 100 dari 3.000 pekerjanya yang masih belum menerima vaksinasi, turun dari lebih dari 600 pekerja satu minggu lalu, ujar juru bicara Steve Clark  kepada The Epoch Times. Pihaknya memberi tenggat waktu hingga  4 Oktober pukul 6 pagi untuk mendapatkan dosis pertama vaksin sebelum dipecat.

“Hilangnya pekerja ini, yang saat ini diberhentikan, tidak mempengaruhi perawatan pasien atau penjadwalan staf, kata Steve Clark melalui email. Pada Minggu sebelumnya  dihabiskan dalam sebuah upaya intensif untuk berkomunikasi dengan supervisor dan staf mengenai  mandat tersebut.

Di Samaritan Health di utara New York, lebih dari 90 persen dari lebih dari 2.000-staf yang kuat menerima vaksinasi dan sekitar 6 persen lainnya diberikan pembebasan dari mandat tersebut per tanggal 27 September siang, juru bicara Leslie Distefano mengatakan kepada The Epoch Times. Pekerja yang melanggar mandat tersebut dirumahkan dua minggu. Jika mereka tidak menerima vaksinasi saat itu, mereka akan dipecat. Mandat tersebut tidak menyebabkan gangguan yang signifikan terhadap pelayanan, kata Leslie Distefano.

Kathy Hochul mengumumkan keadaan darurat pada tanggal 27 September untuk menangani potensi kekurangan staf. Pada 25 September, ia mengatakan  siap untuk mengaktifkan anggota National Guard yang memiliki pelatihan medis untuk menggantikan pekerja kesehatan.

Ia mengatakan, para penyedia dapat mempekerjakan pekerja berlisensi di negara bagian lain dan negara-negara lain, serta lulusan baru dan pensiunan profesionall perawatan kesehatan.  (Vv)

 

Share

Video Popular