Bagian 1 dari 4 bagian seri The World Summit on Combating and Preventing Forced Organ Harvesting atau Konferensi Tingkat Tinggi Dunia tentang ‘Memerangi dan Mencegah Pengambilan Organ Secara Paksa’

oleh Anders Corr

Rincian yang baru muncul mengenai industri panen organ secara paksa yang bernilai miliaran dolar di Tiongkok,  mengakibatkan sebanyak satu juta kematian, atau lebih, dari donor-donor yang tidak bersedia.

World Summit on Combating and Preventing Forced Organ Harvesting, diadakan antara 17 -26 September, menyatukan para akademisi, pengacara, dan politisi dari seluruh dunia untuk membahas banyak bukti penyalahgunaan transplantasi oleh Partai Komunis Tiongkok, sebagian besar terhadap para tahanan hati nurani.

Tetapi Partai Komunis Tiongkok bukanlah satu-satunya pelaku, menurut para peserta KTT. Bungkamnya  politik, akademik, dan media di Barat sama dengan keterlibatan demi dalih perdagangan. 

Tujuan Partai Komunis Tiongkok adalah mengikis norma persetujuan internasional untuk memaksimalkan keuntungannya dari industri ini harus dihentikan, demikian para peserta berpendapat. 

Dengan lebih tegas berbicara dan membuat undang-undang yang menentang penyalahgunaan tersebut, termasuk melalui sanksi individual terhadap anggota-anggota Partai Komunis Tiongkok  yang paling bertanggung jawab, serta mengakhiri  pelatihan internasional ahli bedah transplantasi dari Tiongkok.

‘Genosida Medis’

Sebanyak 1 juta atau lebih orang telah menjadi korban panen organ secara paksa, apa yang dapat dianggap sebagai genosida medis, menurut para penyelenggara Konferensi Tingkat Tinggi Dunia mengenai Memerangi dan Mencegah Panen Organ Secara Paksa. Pembunuhan itu memenuhi definisi genosida Konvensi Genosida PBB, yang mencakup upaya untuk memberantas tidak hanya ras, tetapi juga agama, ketika ada niat tingkat negara untuk melakukannya.

David Matas menyajikan laporan baru tentang pengambilan organ massal di Tiongkok, di National Press Club di Washington pada 22 Juni 2016. (Lisa Fan/Epoch Times)

Pembunuhan massal terhadap para tahanan hati nurani untuk diambil organ-organnya memiliki dua tujuan untuk Partai [Komunis Tiongkok], menurut David Matas, seorang  pengacara hak asasi manusia internasional dari Kanada. Pembunuhan itu menghilangkan apa yang dilihat Partai Komunis Tiongkok sebagai musuh politiknya.

Carlos Iglesias Jimenez, seorang pengacara hak asasi manusia internasional dari Spanyol, juga setuju. Ia berkata, tujuan Partai Komunis Tiongkok adalah untuk membasmi, untuk melenyapkan secara fisik orang-orang karena keyakinan spiritual orang-orang itu–”para tahanan hati nurani seperti ini adalah umat-umat Kristen, orang-orang Tibet, umat-umat Buddha dan terutama jutaan praktisi Falun Gong. Tujuan prioritas adalah pembersihan dan  pemberantasan para tahanan hati nurani dan hal ini secara logis memiliki pengertian sebuah kejahatan genosida.

Menurut Theresa Chu, seorang pengacara dari Kelompok Pengacara Falun Gong Taiwan, panen organ secara paksa tidak hanya digunakan untuk melakukan pembersihan dan genosida praktisi Falun Gong dan kelompok etnis minoritas, seperti orang-orang Uighur, tetapi juga terlibat dalam keuntungan ekonomi secara besar-besaran dari  transplantasi organ, penjualan organ transnasional, wisata transplantasi, dan perantara organ.

Penyebab panen organ secara paksa di Tiongkok memiliki sebuah akar uang, karena cenderung menghasilkan miliaran dolar pendapatan untuk rumah sakit Tiongkok, dan ratusan juta pendapatan pajak untuk digunakan oleh Beijing. Lord Hunt menyebut praktik tersebut sebagai  “pembunuhan komersial.” 

Ini adalah pembunuhan massal yang dilakukan dalam sebuah skala industri, dengan keterlibatan militer Tiongkok. Pembacaan yang cermat atas bukti dari panen organ secara paksa di Tiongkok terdengar sangat mirip dengan genosida, mengingat hal itu berfokus pada sebuah agama tertentu yang ingin dibasmi oleh negara.

Dr. Declan Lyons di Trinity College menjelaskan bahwa transplantasi organ  diperkirakan menjadi sebuah bisnis bernilai satu miliar dolar per tahun di Tiongkok, hingga 60.000 sampai 100.000 transplantasi terjadi setiap tahun di Republik Rakyat Tiongkok.

Pelanggan transplantasi organ Tiongkok bersifat global. Dr. Huang Shi-wei, dari Taiwan, menjelaskan bahwa selama 20 tahun terakhir, lebih dari 4.000 orang Taiwan pergi ke Tiongkok untuk transplantasi hati atau ginjal.  Selain Taiwan, orang-orang dari Korea Selatan, Jepang, Asia Tenggara, Timur Tengah, dan bahkan negara-negara Barat berbondong-bondong ke Tiongkok untuk menerima operasi-operasi transplantasi setelah tahun 2000.

Dr. Weldon Gilcrease, Direktur Onkologi di Fakultas Kedokteran Universitas Utah, mengatakan bahwa kejahatan massal dan mengerikan semacam ini tidak pernah benar-benar dialami, sebagian besar, dari komunitas medis dalam sejarah.

Dr. Huang Shi-wei menyatakan bahwa dari tahun 2000 hingga 2006, militer Tiongkok mempertahankan bank-bank organ negara, yang menyimpan data mengenai donor-donor organ. Setelah bukti pertama kali diterbitkan pada tahun 2006 bahwa praktisi-praktisi Falun Gong menjadi sasaran untuk pengambilan organ secara paksa, Partai Komunis Tiongkok mulai  secara lebih efektif menyembunyikan praktik tersebut. 

Tahun itu, David Matas dan David Kilgour, seorang mantan anggota Parlemen Kanada, menerbitkan buku mereka berjudul Bloody Harvest: The Killing of Falun Gong for Their Organs. 

Menurut Theresa Chu, seorang wanita bernama Annie membantu mengungkap keberadaan panen organ secara paksa di Tiongkok yang memilih praktisi-praktisi Falun Gong. Annie, mantan istri seorang dokter Tiongkok yang memanen kornea-kornea dari para tahanan Falun Gong yang masih hidup mengungkap kejahatan dan menyebabkan kegemparan global. 

Transplantasi  menyediakan sumber pendapatan utama untuk beberapa rumah sakit di Tiongkok, menurut Dr. Huang Shi-wei Huang, di mana seseorang di Beijing mencatat sebuah peningkatan pendapatan transplantasi dari USD 4,5 juta pada tahun 2006, menjadi USD 30 juta pada tahun 2010. Dr. Huang Shi-wei Huang mengklaim bahwa setelah tahun 2007, orang-orang Uighur dan etnis minoritas lainnya ditambahkan Falun Gong sebagai korban panen organ secara paksa.

Falun Gong dan Orang-Orang Uighur Ditargetkan

Dr. R. Scalettar, mantan Ketua Asosiasi Kedokteran Amerika Serikat, mencatat di Konferensi Tingkat Tinggi bahwa Asosiasi Kedokteran Dunia mengambil sikap menentang panen organ secara paksa,  mencakup menentang apa yang menimpa orang-orang Uyghur, yang dikenali oleh Amerika Serikat dan Inggris sebagai korban-korban genosida. 

“Asosiasi Kedokteran Dunia pada tahun 2020 mengeluarkan sebuah deklarasi untuk mencegah dan memerangi kejahatan-kejahatan yang terkait transplantasi, kata Dr. R. Scalettar. 

Resolusi sebelumnya mengutuk banyak laporan mengenai pelanggaran terus-menerus terhadap standar etika ini oleh Republik Rakyat Tiongkok terhadap orang-orang Uyghur dan praktisi-praktisi Falun Gong yang dipenjara. 

Sebuah koalisi internasional dari lima kelompok nirlaba”– Doctors Against Forced Organ Harvesting  (DAFOH) di Amerika Serikat,  The Taiwan Association for International Care of Organ Transplants (TAICOT), Korea Association for Ethical Organ Transplants (KAEOT), Transplant Tourism Research Association (TTRA) dari Jepang dan CAP Freedom of Conscience dari Prancis mengorganisir acara tersebut.

DAFOH dan tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi, Dr. Torsten Trey, pada  15 September menduga bahwa tujuan Beijing dengan panen organ melebihi batas perbatasan Tiongkok. Hal ini untuk mengikis norma-norma internasional yang membutuhkan persetujuan dari donor-donor organ, kata Dr. Torsten Trey kepada Epoch TV. 

Doctors Against Forced Organ Harvesting (DAFOH) mengadakan acara di University of Arizona di Phoenix, Arizona, pada 19 April 2019. (Lucy Fan/Epoch Times)

Pengikisan semacam itu akan menguntungkan  industri transplantasi organ Tiongkok, yang bergantung pada sebuah pasokan organ secara besar-besaran dan siap pakai  dari para tahanan hati nurani yang masih hidup. 

“Jadi Tiongkok sangat tertarik untuk meruntuhkan sistem ini [etika-etika medis Barat] pada dasarnya untuk membuat panen organ secara paksa sebagai standar umum dalam pengobatan transplantasi,” kata Dr. Torsten Trey.

DAFOH dua kali dinominasikan untuk menerima Hadiah Nobel Perdamaian, dan pada tahun 2019, menerima Penghargaan Keadilan Sosial Ibu Teresa.

Pada tahun 2019, pengadilan London mengenai panen organ secara paksa di Tiongkok mendengar bukti bahwa praktik tersebut tersebar luas dan disetujui oleh negara. Praktisi Falun Gong, yang ingin dibasmi oleh rezim Tiongkok sebagai sebuah keyakinan, dipenjarakan dan dijadikan sumber utama organ-organ, seperti yang diakui oleh banyak orang di Konferensi Tingkat Tinggi Dunia.

Sebuah komponen penting dari keyakinan Falun Gong adalah kejujuran, yang membuat praktisi Falun Gong menjadi sasaran empuk bagi pihak-pihak berwenang Tiongkok, yang hanya mengetuk pintu mereka dan meminta pengakuan bersalah di tempat, menurut sebuah sumber Falun Gong.

Praktisi-praktisi Falun Gong juga menghindari zat-zat, seperti alkohol dan tembakau, yang dapat membahayakan organ-organ mereka, menjadikan praktisi Falun Gong sebagai target optimal dari ahli bedah transplantasi yang bersikap tidak etis.

Pada tahun 1999, ada sebanyak 100 juta praktisi Falun Gong di Tiongkok, menurut media pemerintah Tiongkok. Praktisi Falun Gong dipandang sebagai ancaman bagi negara karena praktisi Falun Gong melebihi jumlah anggota Partai Komunis Tiongkok pada saat itu, dan demonstrasi yang terorganisir yang menentang salah pengertian di media pemerintah Tiongkok. 

Menurut sebuah laporan Human Rights Watch, penganiayaan tersebut dimulai dengan sungguh-sungguh setelah sebuah pengerahan pada 25 April 1999. 

Dari semua laporan, lebih dari 10.000 praktisi Falun Gong, kebanyakan dari mereka berusia setengah baya, berbaris dalam kolom yang teratur sekitar dua sisi Zhongnanhai, kompleks di jantung kota Beijing tempat para pemimpin Tiongkok tinggal dan bekerja. 

Sementara pemerintah Amerika Serikat dan media yang mapan, membayar mahal atas perhatian pada genosida yang dilakukan Tiongkok terhadap orang-orang Uighur, kurang perhatian sedang diberikan kepada sebuah genosida serupa terhadap Falun Gong. Ini dapat dikatakan karena tiga alasan. 

Pertama, Falun Gong dilihat oleh beberapa sarjana sebagai sebuah keyakinan yang relatif baru, yang karenanya menjadi kurang dikenal, dan kurang mendapat simpati, dari anggota-anggota masyarakat. 

Kedua, genosida terhadap orang-orang Uighur menargetkan lebih kepada  agama Islam. 

Ketiga, pihak berwenang Partai Komunis Tiongkok membuat sebuah  dorongan propaganda bersama untuk melabeli Falun Gong dengan istilah “kultus” yang menghina.

Dr. Andre Gattolin, seorang senator dari Prancis, adalah Ketua Dewan Inter-Parliamentary Alliance on China (IPAC). Ia menjelaskan di Konferensi Tingkat Tinggi tersebut bahwa taktik Partai Komunis Tiongkok yang mencoreng Falun Gong sebagai sebuah kultus, adalah efektif dalam debat yang mengerikan di Prancis mengenai transplantasi organ secara paksa. 

Fakta bahwa yang paling sering menjadi korban pengambilan organ secara paksa ini adalah praktisi minoritas-minoritas keyakinan seperti Falun Gong, yang disajikan oleh pemerintah Tiongkok sebagai sebuah kultus, selalu memprovokasi ketidakpercayaan dalam penduduk kita, di mana terkadang pengartian sekularisme yang agak tidak toleran telah berlaku selama lebih dari satu abad, katanya.

 “Tuduhan sektarianisme terdengar seperti sebuah kutukan dan sering mengarah pada penyingkiran tanpa banding. Ini adalah kasus meskipun Misi Antar-Kementerian untuk Kewaspadaan dan Memerangi Penyalahgunaan Sektarian telah menunjuk beberapa kali bahwa Falun Gong tidak termasuk dalam kategori ini.

Misi Antar-Kementerian untuk Kewaspadaan dan Memerangi Penyalahgunaan Sektarian adalah sebuah lembaga pemerintah Prancis yang bertugas menganalisis kultus dan melindungi korban-korban kultus.

“Beijing telah memainkan jurus utama propaganda untuk membungkus Falun Gong dengan sebuah citra yang tidak dapat diterima dan oleh karena itu tidak dapat dipertahankan,” kata Dr. Andre Gattolin. 

Partai Komunis Tiongkok juga berupaya untuk mencap orang-orang Uighur sebagai orang-orang yang terkutuk, melabeli kegiatan  protes orang-orang Uighur yang sah sebagai terorisme meskipun Partai Komunis Tiongkok sendiri adalah teroris, menurut sebuah bacaan otoritatif hukum Amerika Serikat. 

Pengacara hak asasi manusia Amerika Serikat Terri Marsh dan akademisi Universitas Chicago Teng Biao membuat argumen ini dengan tegas dalam sebuah artikel tahun 2020 di Jurnal Risiko Politik, yang mencakup sebuah diskusi mengenai panen organ secara paksa sebagai salah satu jenis terorisme yang dilakukan oleh Partai Komunis Tiongkok.

Perwakilan Amerika Serikat, Steve Chabot (R-Ohio) mencatat bahwa Partai Komunis Tiongkok adalah pelaku kejahatan utama panen organ secara paksa. Sebagai pemimpin Partai Republik di Subkomite Urusan Luar Negeri, Steve Chabot mengatakan ia memantau dengan cermat upaya Beijing untuk membuat kembali dunia dalam citra Partai Komunis Tiongkok. 

Mengingat penindasan brutal Partai Komunis Tiongkok terhadap orang-orang Uyghur dan Tibet, Steve Chabot berkata, Itu seharusnya tidak mengejutkan, kemudian, bahwa Republik Rakyat Tiongkok di bawah kepemimpinan komunis terlibat dalam salah satu praktik paling biadab dalam sejarah manusia–”panen organ secara paksa–”untuk membawa kesehatan dan kekayaan bagi Partai Komunis Tiongkok dan kroni-kroninya. 

Steve Chabot mengatakan bahwa menghadapi penganiayaan yang biadab ini, jumlah praktisi Falun Gong telah berkurang, dan saya khawatir sumber organ-organ untuk Partai Komunis Tiongkok berikutnya mungkin adalah orang-orang Uighur.

Seperti yang diidentifikasi oleh Dr. Torsten Trey, sebuah bahaya bagi Barat adalah Partai Komunis Tiongkok dapat menjadi begitu kuat sehingga mampu mengekspor kurangnya di bidang etika medis secara global.

Steve Chabot menambahkan:  “Sebuah dunia yang sesuai dengan nilai Partai Komunis Tiongkok adalah dunia di mana orang-orang yang tidak menggandeng garis Partai Komunis Tiongkok dapat dimasukkan ke dalam sebuah kamp konsentrasi atau organ-organnya diambil. Itu adalah sebuah visi untuk sebuah dunia yang tidak seorang pun ingin hidup di dalamnya. Dan itulah visi dunia yang kita semua lawan.”

Penghilangan harkat manusia, di mana panen organ secara paksa dilakukan dengan cara yang hampir mode harfiah, merupakan sebuah bagian integral dari kampanye teror dan genosida terhadap Falun Gong yang dilakukan oleh Partai Komunis Tiongkok.

Seseorang tak perlu menjadi seorang pengacara internasional untuk menyadari bahwa penindasan brutal terhadap Falun Gong yang dimulai pada tahun 1999, memenuhi definisi Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai genosida. Dan meningkatnya pariwisata transplantasi ke Tiongkok pada awal tahun 2000-an sesuai dengan awal genosida terhadap Falun Gong. Keduanya adalah terhubung. Panen organ secara paksa terhadap Falun Gong adalah cara-cara genosida yang berorientasi pada keuntungan dan medis. (Vv)

BACA JUGA : Beijing Membungkam Media Global Mengenai Panen Organ Secara Paksa di Tiongkok

BACA JUGA :  Sanksi Partai Komunis Tiongkok untuk Panen Organ Secara Paksa

BACA JUGA :  Melarang Kerjasama di Bidang Sains dan Medis dengan Panen Gen yang Tidak Etis oleh Tiongkok

Anders Corr memiliki gelar sarjana/master dalam ilmu politik dari Universitas Yale (2001) dan doktor dalam pemerintahan dari Universitas Harvard (2008). Ia adalah kepala sekolah di Corr Analytics Inc., penerbit Journal of Political Risk, dan telah melakukan penelitian ekstensif penelitian di Amerika Utara, Eropa, dan Asia. Dia menulis “The Concentration of Power” (akan terbit pada tahun 2021) dan “No Trespassing,” dan mengedit “Great Powers, Grand Strategies.”

Share

Video Popular