Bagian 2 dari 4 bagian Seri The World Summit on Combating and Preventing Forced Organ Harvesting atau Konferensi Tingkat Tinggi Dunia tentang ‘Memerangi dan Mencegah Pengambilan Organ Secara Paksa’

oleh Anders Corr

The World Summit on Combating and Preventing Forced Organ Harvesting  atau Konferensi Tingkat Tinggi Dunia mengenai Memerangi dan Mencegah Panen Organ Secara Paksa, menyoroti kebisuan media terhadap salah satu kekejaman terbesar yang terjadi di zaman kita: sebuah industri panen organ secara paksa yang bernilai miliaran dolar di Tiongkok

Partai Komunis Tiongkok  telah menggunakan perannya sebagai pengendali akses untuk kekuatan ekonomi Tiongkok yang sangat besar, dan kampanye pengaruh politiknya di luar negeri. Tak lain, untuk membungkam media global dan mempengaruhi negara serta organisasi internasional di seluruh dunia, mengenai kekejaman hak asasi manusia yaitu panen organ secara paksa. 

KTT Dunia, yang diadakan antara 17 -26 September 2021, tidak hanya menyoroti hal ini, tetapi juga menyoroti apa yang disebut oleh salah satu peserta sebagai diplomasi keheningan.

Terlepas dari bukti yang tidak terbantahkan, Beijing menyangkal bahwa pihaknya saat ini melakukan panen organ secara paksa dan WHO telah mendukung penyangkalan Partai Komunis Tiongkok itu. Tetapi penilaian Organisasi Kesehatan Dunia adalah salah. Menurut Lord Hunt di Inggris, diungkapkan oleh pemerintah Inggris pada tahun 2019 bahwa penilaian WHO adalah berdasarkan penilaian oleh Tiongkok sendiri dan WHO belum melakukan  penilaiannya sendiri terhadap sistem transplantasi organ Tiongkok.

Para penyelenggara KTT Dunia menunjukkan bahwa tekanan Partai Komunis Tiongkok telah mengurangi liputan media mengenai panen organ secara paksa di Tiongkok, yang menyebabkan negara-negara dan organisasi-organisasi internasional dengan sedikit insentif untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mengatasi masalah tersebut.

“Banyak anggota media berita telah gagal melaporkan kekejamanl ini dengan jujur tetapi tunduk pada tekanan Partai Komunis Tiongkok dan malah menerbitkan propaganda berbayar,” tulis para penyelenggara di situs web KTT Dunia.  Masyarakat di seluruh dunia tetap mengabaikan bahaya menjadi terlibat dengan kejahatan panen organ secara paksa.

Pendiri kelompok nirlaba Doctors Against Forced Organ Harvesting (DAFOH) dan tuan rumah Konferensi, Dr. Torsten Trey, menyatakan pada 17 September bahwa KTT Dunia melihat peran media berita dan masalah sensor. Tugas pertama media berita adalah melaporkan fakta dan kebenaran, namun, aspek penting lain dari media adalah untuk menghubungkan orang. Lima belas tahun yang [sejak New York Times mengungkapkan kisah panen organ secara paksa di Tiongkok], media arus utama telah gagal menghubungkan orang-orang di dunia bebas dengan para korban panen organ secara paksa di Tiongkok.  Pemisahan antara pembaca dan korban ini adalah aspek sensor yang sering mengabaikan.

Dr. Torsten Trey mencatat bahwa KTT Dunia adalah sebuah upaya untuk menjembatani kesenjangan antara warganegara dengan korban panen organ secara paksa.

Dr. Weldon Gilcrease, Direktur Onkologi di Fakultas Kedokteran Universitas Utah, mengatakan pada KTT Dunia bahwa bukti panen organ secara paksa yang luas tidak dikenali oleh sebagian besar komunitas medis, dan memang sebagian besar dunia.

Ketika Dr. Weldon Gilcrease berusaha di universitasnya sendiri untuk berhenti melatih dokter Tiongkok untuk belajar transplantasi, dengan alasan bahwa dokter Tiongkok itu kemungkinan akan menggunakan pengetahuan untuk membunuh donor yang tidak bersedia, pemerintah kata Dr. Weldon Gilcrease  menentangnya, mengatakan bahwa tidak ada keraguan bahwa panen organ secara paksa sedang terjadi. Akan tetapi,  mengambil sebuah sikap menentang sebuah negara besar dan kuat seperti Tiongkok dapat membahayakan kelembagaan kami, serta sekolah sarjana dan sekolah pascasarjana tempat kami mengabdi di universitas kami. Dr. Weldon Gilcrease diberitahu bahwa jika kita mengatakan sesuatu [mengenai  kekejaman-kekejaman ini], Tiongkok akan mengirim semua mahasiswanya ke Texas.

Beberapa peserta KTT Dunia lainnya menyerukan diakhirinya pelatihan teknik transplantasi internasional untuk dokter dari Tiongkok. Dr. Andre Gattolin,seorang senator dari Prancis dan Ketua  Inter-Parliamentary Alliance on China (IPAC) mengkritik negara-negara maju yang mengatasnamakan kerjasama medis dan kesehatan yang sakral, telah berlangsung tanpa tindakan pencegahan untuk transfer keterampilan dan teknologi yang telah menyebabkan penyalahgunaan memalukan yang diamati hari ini di Tiongkok.

Dr. Andre  Gattolin mencatat bahwa Prancis telah “secara luas mengambil bagian dalam melatih teknik transplantasi organ yang sangat rumit kepada banyak ahli bedah Tiongkok. Sebagai akibatnya, kepercayaan kami–”yang diberikan terlalu naif”–telah dikhianati. Kami gagal menuntut sebuah hak pengawasan atas apa yang mungkin terjadi, dan mereka yang ditipu atas nama berbagi ilmu dan ilmu kemanusiaan tertentu masih menolak untuk mengakui bagian tanggung jawab mereka.

Carlos Iglesias Jimenez, seorang pengacara hak asasi manusia internasional dari Spanyol, mengatakan pada KTT Dunia bahwa pemerintah Barat dan organisasi internasional  belum cukup tangguh untuk menghadapi Partai Komunis Tiongkok dan mengutuk panen organ secara paksa.

“Kita memiliki banyak contoh mengenai ini, Partai Komunis Tiongkok telah menyusup ke dalam begitu banyak organisasi internasional: Dewan Hak Asasi Manusia PBB, WHO, PBB itu sendiri, menatalaksana untuk memastikan bahwa semuanya berlangsung luput dari perhatian, bahwa semuanya dirahasiakan, bahwa peristiwa ini tidak akan pernah dapat diketahui secara umum dan di depan umum oleh masyarakat dan seluruh  dunia. Dan, mereka berhasil dengan diamnya pemerintah Barat dan lembaga internasional dan organisasi internasional, “ demikian Carlos Iglesias Jimenez.

Menurut seorang pensiunan Brigadir Jenderal Angkatan Udara Amerika Serikat, Robert Spalding, penggunaan imbalan dan hukuman oleh Partai Komunis Tiongkok terhadap prosesdemokrasi internasional dan pertimbangan panen organ secara paksa sama dengan perang politik.

Robert Spalding mengatakan pada KTT Dunia pada 19 September, bahwa perang politik, dalam bentuk pengaruh melalui elit-elit ekonomi, digunakan untuk melumpuhkan demokrasi-demokrasi untuk kekejaman-kekejaman ini.

Robert Spalding berkata, Perang politik digunakan untuk menghilangkan kepekaan, untuk menangkis kritik apa pun mengenai pemahaman akan hal seperti genosida orang-orang Uighur, menerapkan karantina dan kendali terhadap orang-orang Hong Kong, penahanan massal dan panen organ praktisi Falun Gong, dan penindasan langsung terhadap unsur tertentu dalam  populasi Tiongkok, terutama orang-orang yang ditakuti Partai Komunis Tiongkok.

Françoise Hostalier, seorang anggota Parlemen Prancis, menjelaskan bahwa kegagalan untuk mengakui bahwa para pemimpin Tiongkok sedang menjalankan  prinsip yang tidak sesuai moral dan etika adalah karena “Tiongkok adalah sebuah mitra ekonomi yang tidak dapat dihindari, yang semakin sukses di banyak bidang ilmu pengetahuan, dan yang membawa semakin banyak wilayah-wilayah dan negara-negara di bawah kekuasaannya. Ada sebuah risiko yang besar ketika peneliti, dokter, laboratorium,industrialis, dan mahasiswa, melalui pertukaran ilmiah atau ekonomi, akan menemukan dirinya terlibat dalam praktik rekan mereka dari Tiongkok yang tidak manusiawi dan kriminal, yang bertentangan dengan semua etika, tetapi tanpa menyadarinya.

Hermann Tertsch, seorang anggota Parlemen Eropa dari Spanyol, mengkritik media arus utama karena gagal dalam tugasnya untuk meliput kejahatan Partai Komunis Tiongkok. Kriteria dunia media, yang memiliki hegemoni atas komunikasi dunia, adalah kriteria yang semakin didefinisikan dalam satu arah selama 50 tahun terakhir, dan ke arah inilah kejahatan yang dilakukan oleh kediktatoran Tiongkok diperlakukan dengan penuh kebajikan hingga sedemikian rupa.

Hermann Tertsch mengatakan (gambaran kritis) terhadap Partai Komunis Tiongkok setelah menghilang dari network, tidak hanya di network Tiongkok di mana tidak dapat ditemukan mengenai tragedi 32 tahun  lalu [pembantaian Lapangan Tiananmen], [tetapi] juga tidak dapat ditemukan di media Barat, oleh keinginan Tiongkok atau oleh keinginan banyak mitra Tiongkok, seperti yang kita miliki di antara mereka adalah orang-orang yang bertepuk tangan di Davos, orang-orang yang memuji Xi Jinping, raksasa besar pengambil besar perusahaan Big Tech, orang-orang dari network besar, kita semua tahu nama mereka.

Hermann Tertsch melanjutkan dengan mengatakan bahwa kita memanjakan kejahatan Partai Komunis Tiongkok karena manufaktur mereka banyak berada di sana, karena mereka memiliki banyak hubungan ekonomi, karena mereka mengagumi model tersebut, karena mereka ingin sebuah model yang serupa.

Demokrasi di Barat dapat meminta pertanggungjawaban Partai Komunis Tiongkok, menurut Hermann Tertsch, tetapi demokrasi di Barat lebih memilih memihak sebuah rezim globalis besar di mana setiap orang adalah tanpa nama dan dapat dipertukarkan, dan kita dapat mengambil organ dari satu orang dan memberikan organ tersebut kepada seorang penawar yang lebih tinggi atau kepada seseorang yang cocok untuk kita karena suatu alasan.

Kepentingan ekonomi, menurut Hermann Tertsch, menggiring para elit Barat ini  menjadi terlibat dengan Partai Komunis Tiongkok  untuk menyembunyikan keburukan transplantasi, di mana kita tidak tahu berapa ribu tahanan politik, tahanan biasa, praktisi Falun Gong, pembangkang telah menjadi korban.

Dunia memiliki tanggung jawab untuk menghadapi kekejaman panen organ secara paksa. Bahwa hal itu sebagian besar dikenakan pada populasi yang sangat rentan di Tiongkok, yaitu Falun Gong dan kemungkinan juga orang-orang Uighur, dan bahwa populasi ini telah ditargetkan untuk pemberantasan kebudayaan, membawa panen organ secara paksa ke tingkat sebuah cara genosida, per definisi PBB. 

Pasalnya, panen organ secara paksa juga merupakan sebuah prosedur tindakan medis komersial, orang-orang yang mendukung hak asasi manusia menghadapi satu jenis kejahatan yang sama sekali baru terhadap kemanusiaan: genosida medis untuk keuntungan. 

Media arus utama harus melakukan pekerjaan  lebih baik untuk meliput masalah ini, atau media arus utama kehilangan klaim untuk menjadi  suara hati masyarakat yang tidak memihak. (Vv/asr)

BACA artikel sebelumnya :  Panen Organ Secara Paksa di Tiongkok Adalah Genosida Medis untuk Memperoleh Keuntungan

Anders Corr memiliki gelar sarjana/master dalam ilmu politik dari Universitas Yale (2001) dan doktor dalam pemerintahan dari Universitas Harvard (2008). Ia adalah kepala sekolah di Corr Analytics Inc., penerbit Journal of Political Risk, dan telah melakukan penelitian ekstensif penelitian di Amerika Utara, Eropa, dan Asia. Dia menulis “The Concentration of Power” (akan terbit pada tahun 2021) dan “No Trespassing,” dan mengedit “Great Powers, Grand Strategies.”

Share

Video Popular