Isabel Van Brugen

Malaysia memanggil Duta Besar Tiongkok untuk kedua kalinya sejak Juni untuk “memprotes” kehadiran kapal-kapal Tiongkok di Zona Ekonomi Eksklusif Malaysia, kata Kementerian Luar Negeri Malaysia pada Senin (6/10/2021). 

Kementerian Luar Negeri Malaysia mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa pihaknya telah memanggil Duta Besar Ouyang Yujing untuk menyampaikan posisi Malaysia dan memprotes kehadiran dan aktivitas kapal-kapal Beijing, termasuk sebuah kapal survei, di Zona Ekonomi Eksklusif Malaysia di lepas pantai timur negara bagian Sabah dan Sarawak.

Tidak jelas kapan kapal-kapal Tiongkok itu terdeteksi di perairan Malaysia, atau berapa banyak kapal-kapal yang terlibat.

“Kehadiran dan aktivitas kapal-kapal ini adalah tidak sesuai dengan Undang-Undang Zona Ekonomi Eksklusif Malaysia Tahun 1984, serta Konvensi Hukum Laut (Unclos) Perserikatan Bangsa-Bangsa Tahun 1982,” kata pernyataan itu.

“Posisi dan tindakan Malaysia yang konsisten didasarkan pada hukum internasional, dalam membela kedaulatan dan hak berdaulat kami di perairan kami,” Kementerian Luar Negeri Malaysia menambahkan.

Kedutaan Tiongkok di Kuala Lumpur tidak segera menanggapi sebuah permintaan komentar.

Sehari sebelumnya, Perdana Menteri Malaysia Ismail Sabri Yaakob telah menegaskan bahwa pemerintah Malaysia tidak akan berkompromi dalam hal kedaulatan Malaysia jika ada ancaman di Laut Tiongkok Selatan. Ia menambahkan bahwa ia telah mengangkat poin yang sama perwakilan-perwakilan nasional beberapa kali ketika ia masih menjabat sebagai Menteri Pertahanan.

“Dalam menentukan posisi dan tindakan Malaysia terkait dengan masalah Laut Tiongkok Selatan yang kompleks dan melibatkan hubungan antar-negara, kepentingan nasional Malaysia akan tetap menjadi yang terpenting,” kata Kementerian Luar Negeri Malaysia.

Minggu lalu, media melaporkan bahwa sebuah kapal survei Tiongkok berada di perairan Malaysia di lepas pantai Sabah, dekat sebubah kapal yang ditugaskan oleh perusahaan energi negara Malaysia Petronas.

Tahun lalu, kapal survei Tiongkok lainnya mengadakan sebuah kebuntuan selama sebulan dengan sebuah kapal eksplorasi minyak yang dikontrak oleh Petronas dalam wilayah Zona Ekonomi Eksklusif Malaysia. Tiongkok kemudian mengatakan kapal survei itu sedang menjalankan kegiatan-kegiatan normal.

Pada  Senin, Kementerian Luar Negeri Malaysia menambahkan bahwa semua hal yang berkaitan dengan Laut Tiongkok Selatan harus diselesaikan secara damai dan konstruktif.

Pada Juni, Malaysia memanggil Duta Besar Tiongkok setelah Angkatan Udara Kerajaan Malaysia mendeteksi pesawat militer di dekat wilayah udara Malaysia.

“Angkatan Udara Kerajaan Malaysia memastikan deteksi 16 pesawat Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat memasuki wilayah udara Zona Maritim Malaysia, dan bahwa 16 pesawat Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat tersebut terbang dekat dengan wilayah udara nasional kita,”  kata Angkatan Udara Kerajaan Malaysia dalam sebuah pernyataan saat itu.

Beijing mengatakan bahwa itu adalah bagian dari pelatihan rutin.  Tiongkok mengklaim hampir semua Laut Tiongkok Selatan yang kaya akan energi,  dilalui oleh perdagangan yang diangkut oleh kapal senilai sekitar USD 3 triliun setiap tahun.

Malaysia, Brunei, Filipina, Taiwan, dan Vietnam memiliki klaim-klaim yang saling tumpang-tindih. Filipina dan Vietnam menuduh Tiongkok melecehkan nelayan-nelayan dan kegiatan-kegiatan energi di perairan Laut Tiongkok Selatan. (vv)

Share

Video Popular