Erabaru.net. Untuk waktu yang lama, Tibet mungkin merupakan negeri yang paling sentimental sehingga mengundang minat banyak orang untuk berkunjung ke sana.

Meskipun sebagian kecil misteri tentang Tibet sudah terkuak lewat berita maupun propaganda agen perjalanan di Internet, tetapi orang yang penasaran juga tidak berkurang. Mereka ini belum puas sebelum berkunjung ke sana untuk merasakan sendiri sejauh mana sentimental dan keunikan yang ada.

Apalagi Istana Potala di Kota Lhasa, yang masih menjadi tempat ziarah yang ideal di hati banyak orang. Dalam beberapa tahun terakhir, tidak sedikit wisatawan dari mancanegara yang berkunjung ke sana lewat jalur darat Sichuan – Tibet.

Adapun pemandangan alam sepanjang jalur Sichuan – Tibet dan tentang cerita-cerita di sana juga tidak kalah menarik. Apalagi pemandangan yang terlihat setelah kendaraan memasuki wilayah Tibet.

Di kedua sisi jalan yang melintasi padang rumput yang luas, orang bisa melihat sejumlah tenda berwarna putih yang tersebar, lalu untuk apa tenda-tenda tersebut ? Penasaran bukan ?!?

Saat ini kehidupan penduduk setempat sudah semakin membaik, tidak perlu lagi tinggal di dalam tenda-tenda seperti dalam ingatan orang-orang tua dahulu. Sekarang kita bisa melihat deretan rumah tinggal gaya Tibet yang indah di sepanjang jalan.

Ada warga Tibet yang memilih untuk tinggal di menara bergaya Tibet. Tentu saja, beberapa warga di daerah tertentu masih mempertahankan kebiasaan tinggal di tenda, tetapi pertama, tenda tidak didirikan terlalu jauh dari kota, kedua, juga tidak mau dekat dengan jalur lalu lintas. Karena di samping jalur Sichuan-Tibet yang tidak pernah sepi, selain terganggu oleh polusi kendaraan dan debu, juga kebisingan mobil yang lewat.

Secara umum, warga Tibet yang tinggal dalam tenda lebih memilih untuk mendirikan tenda di area pastoral, di mana lingkungan buat hidup lebih enak ketimbang di pinggir jalur lalu lintas. Udaranya pun segar, cocok untuk kehidupan jangka panjang.

Hampir semua tenda Tibet memberi warna putih bersih sebagai dasar, dengan beberapa pola tradisional etnik yang dilukis di bagian atasnya sebagai hiasan. Mereka yang suka tampil simpel dan elegan pun akan menghiasi tendanya dengan bunga dan pita yang pada dasarnya sama dengan mendekorasi rumah.

Namun terkadang terlihat ada tenda berwarna putih yang nyaris tidak didekor, kurang ada aktivitas dan berdiri di pinggir jalan, menarik perhatian wisatawan, dan banyak orang yang penasaran terhadap tenda tersebut. Untuk apa ?

Pertama-tama, ini jelas bukan tenda yang didirikan oleh wisatawan yang ingin berkunjung ke Tibet. Tenda wisatawan berbeda jauh dengan tenda warga Tibet ! Yang pasti, tenda berwarna putih ini adalah milik warga asli Tibet.

Selama ini, Internet telah menggambarkan tenda putih semacam ini sebagai hal yang membuat orang penasaran dengan tulisan-tulisan seperti : Wisatawan diperingatkan supaya tidak coba-coba memasuki tenda ! Jika Anda masuk, akan sangat sulit untuk keluar ! Singkatnya, diwanti-wanti untuk tidak masuk meskipun rasa penasaran semakin tebal.

Rasanya tidak mungkin tenda-tenda ini digunakan oleh penjahat untuk melakukan kejahatannya, apalagi di pinggir jalan yang ramai berlalu lalang kendaraan. Kalaupun ada orang yang memasuki tenda kemudian mengalami bahaya, tentunya tenda-tenda itu sudah dimusnahkan oleh pihak berwenang.

Sebenarnya tenda-tenda tersebut adalah tempat untuk gadis-gadis Tibet berkencan, yang merupakan bagian dari budaya tradisional di wilayah Tibet.

Karena banyak warga Tibet yang tinggal di padang rumput harus hidup dengan berpindah-pindah tempat, sehingga lingkungan personil untuk menjalin hubungan sempit, terutama bagi anak-anak muda warga Tibet yang telah memasuki usia nikah. Akhirnya, secara bertahap hal ini berkembang menjadi budaya di wilayah Tibet.

Gadis Tibet yang berusia di atas 14 tahun, jika sudah memiliki keinginan untuk berkeluarga, orangtuanya akan membantu untuk mendirikan tenda putih, dan anak gadisnya akan menunggu kedatangan calon suami di dalam tenda.

Oleh karena itu, tenda putih ini setara dengan tempat kencan sementara, juga merupakan petunjuk bahwa pria dengan usia yang setara dapat menemui calon pendamping hidupnya di sini.

Tentu saja, tenda ini tidak dapat dimasuki oleh sembarang orang, hanya pria yang disukai gadis itu yang bisa masuk.

Menarik juga untuk membicarakan soal proses kencan buta. Meskipun pihak wanita yang ingin dinikahi, tetapi tidak berarti dia berada di pihak yang lemah. Pihak wanita Tibet justru yang memegang inisiatif kencan, dia juga ingin melihat kondisi calon suaminya untuk mengambil keputusan. Dan ini adalah tradisi, ada akibatnya kalau dilanggar.

Andaikata saja sang gadis tidak tertarik terhadap pria yang mencalonkan diri, maka ia akan secara sopan mempersilahkan pria itu keluar tenda. Jika sang gadis tertarik dengan pria yang mencalonkan diri, itu belum berarti hubungan teman biasa sudah bisa dijalin, masih perlu menjalani satu proses adu kekuatan melalui pertandingan gulat.

Jangan Anda kira bahwa gadis-gadis di padang rumput Tibet kalah bergulat dengan yang pria. Hanya pria yang kuat dan pemberani yang bisa menjadi idaman hati sang gadis.

Adapun bahaya yang dihadapi para turis, satu-satunya adalah ketika Anda tidak dapat menahan rasa ingin tahu lalu menerobos masuk ke dalam tenda, maka besar kemungkinan Anda dianggap sebagai penjahat, kemudian Anda harus bertemu dengan anjing galak jenis Mastif Tibet yang dipakai untuk melindungi keselamatan sang gadis.

Selain itu, alasan ‘sulit untuk keluar kalau masuk dengan sembrono’ adalah karena,

kalau sang gadis tertarik dengan Anda, maka tindakan selanjutnya bisa sangat merepotkan dan panjang. Bahkan jika sang gadis tidak tertarik terhadap Anda, Anda juga akan menerima hukuman.

Bisa jadi Anda dihukum untuk melakukan pekerjaan berat di rumah sang gadis. Tentu saja, Anda juga dapat memilih untuk memanggil polisi, tetapi bahkan jika polisi yang menengahi permasalahan ini, pada akhirnya, Anda akan kehilangan waktu yang berharga dan perubahan suasana hati. “Perjalanan yang semestinya indah kenapa jadi begini ?”

Oleh karena itu, ketika Anda belum sepenuhnya memahami adat istiadat orang Tibet, Anda harus mengekang rasa ingin tahu yang berlebihan, ini selain untuk melindungi diri, tetapi juga rasa hormat terhadap pihak lain.

Biasanya orang akan mempelajari adat istiadat setempat terlebih dahulu sebelum bepergian, terutama menuju daerah tempat berkumpulnya etnis minoritas atau ke luar negeri, karena budaya yang berbeda dipupuk oleh adat yang berbeda, jangan sampai kita menjadi lelucon atau bahkan membuat kesalahpahaman.

Jika kita bisa melakukan persiapan untuk memahami sedikit sebelum bepergian, maka sebagian besar dari situasi yang tidak kita inginkan dapat dihindari.

Kesimpulan

Kita tidak bisa memahami secara menyeluruh budaya bangsa dari negara yang berbeda, tapi setidaknya kita bisa menjaga hati yang toleran dan keinginan untuk menghargai orang lain.(yn)

Sumber: aboluowang

Share
Tag: Kategori: SERBA SERBI

Video Popular