Jack Phillips – The Epoch Times

Pejabat kesehatan di negara bagian Connecticut, Amerika Serikat mengeluarkan peringatan kepada warga setelah virus langka  Eastern Equine Encephalitis (EEE) yang berpotensi mematikan ditularkan oleh gigitan nyamuk terdeteksi baru-baru ini. 

Departemen Kesehatan negara bagian Connecticut, Amerika Serikat menyatakan nyamuk yang ditemukan di kawasan Pachaug State Forest di Voluntown pada Kamis (23/9/2021) dinyatakan positif terkena virus EEE.

Negara bagian itu kemudian mengeluarkan peringatan kepada penduduk di bagian tenggara Connecticut untuk melindungi diri dari gigitan nyamuk.

“Kami mendorong penduduk Connecticut tenggara untuk mengambil langkah sederhana seperti menggunakan obat nyamuk dan menutupi kulit terbuka, terutama saat senja dan fajar ketika nyamuk paling aktif,” kata Komisaris Departemen Kesehatan Masyarakat setempat, Manisha Juthani.

Pengujian mengungkapkan bahwa nyamuk diketahui memakan burung dan mamalia, masing-masing dikenal sebagai culiseta melanura dan ochlerotatus canadensis.

Philip M. Armstrong, seorang ahli virologi, kepada USA TODAY mengatakan, Virus EEE tidak dapat diprediksi dan bervariasi dari tahun ke tahun tetapi pihaknya mendeteksi virus pada nyamuk hampir setiap tahun. 

“Wabah penyakit terjadi setiap 5 tahun sekali di Connecticut. Terakhir kali kami mengalami wabah terjadi pada tahun 2019 dan melibatkan 4 kasus manusia dengan 3 kematian dan 6 kasus di Connecticut timur,” ujarnya. 

Menurut pejabat kesehatan negara bagian, meskipun EEE jarang terjadi, namun dapat menyebabkan penyakit serius.

Departemen Kesehatan Masyarakat setempat mengatakan, Virus tidak dapat ditularkan dari orang ke orang. Risiko penyakit yang ditularkan nyamuk seperti virus EEE,  biasanya meningkat pada akhir musim panas dan awal musim gugur. 

Dikatakan bahwa penduduk di Connecticut tenggara, harus menggunakan obat nyamuk, dan mereka harus mengenakan celana panjang, kemeja lengan panjang, sepatu, dan kaus kaki saat berada di luar ruangan untuk waktu yang lebih lama  atau ketika nyamuk lebih aktif.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS  (CDC)  mengatakan bahwa gejala akibat virus EEE ini termasuk demam, malaise atau tidak enak badan, kedinginan, kejang-kejang, koma, dan muntah.

CDC menambahkan, Virus ini berakibat fatal pada 25 persen hingga 50 persen kasus dan dapat meninggalkan orang lain dengan masalah kesehatan jangka panjang secara signifikan. 

Orang berusia 50 tahun atau lebih dan mereka yang berusia di bawah 15 tahun, berada pada risiko kematian atau keparahan penyakit. 

Tidak ada vaksin atau perawatan khusus untuk EEE. Sebuah peta yang diterbitkan di situs web CDC menunjukkan sebagian besar kasus dilaporkan di New England serta Michigan, Florida, dan Georgia antara 2010 dan 2019.

CDC mencatat, peningkatan kasus EEE terbesar terjadi pada 2019 dengan 38 kasus terkonfirmasi, yakni di sepanjang Pantai Timur dan Amerika Serikat Barat Tengah. Sebanyak 19 orang meninggal dunia  dalam periode waktu itu. (asr)

 

Share

Video Popular