| Tidak ada Penderitaan, Tidak akan Mendapatkan |
| Ditulis oleh Era Baru | Rabu, 24 Agustus 2011 |
|
Menurut legenda kuno, terdapatlah satu kuil yang besar – sangat agung dan damai. Satu hal yang kurang dari kuil tersebut adalah tidak adanya patung Buddha yang dapat disembah oleh para pengikutnya. Akhirnya, seorang pemahat terkenal dipanggil untuk memahat patung Buddha.
Pemahat tersebut sangat tersentuh oleh kemurahan hati para pengikut Buddha sehingga dia pergi ke gunung dan memilih sendiri batu untuk dipahat. Pencariannya yang keras berhasil, dia menemukan bongkahan batu yang sesuai dengan keinginannya. Dia kemudian membelah batu itu mnjadi dua bagian dan kemudian mengerjakan satu bagian batu tersebut. Selama pengerjaan tersebut, batu tersebut mulai mengeluh: Pemahat tersebut berkata,”Penderitaan hanya sementara. Jika anda dapat bertahan, akhir dari daya tahan anda, kehidupan baru akan menunggu anda. Percayalah pada saya dan bertahanlah dengan saya.”
Batu tersebut berpikir sebentar dan berkata,”Saya akan mendengarkan anda, tetapi berapa lama lagi anda akan selesai?” Pemahat tersebut meletakkan pahatannya dan menjawab,”Saya baru saja memulai peerjaan saya, dan anda harus dapat bertahan dan melewatinya selama 30 hari. Setelah selesai, jika masyarakat tidak menyukainya, saya masih harus terus mengerjakannya untuk memperbaikinya. Jika mereka senang dengan pekerjaan saya, anda dapat menjadi sebuah patung Buddha.” Pemahat itu kemudian meletakkan pahatannya dan membelah batu tersebut menjadi empat bagian. Kemudian dia meletakkan pecahan batu tersebut sebagai papan injakan di ruang utama kuil. Dia kemudian mengambil setengah pecahan batu sebelumnya dan mulai memahatnya menjadi patung.
Setelah bekerja selama beberapa saat, pemahat tersebut kemudian bertanya kepada batu tersebut,”Apakah anda merasakan sakit?” Batu tersebut menjawab,”Saya merasakan sakit yang sama seperti yang dirasakan oleh batu sebelumnya. Saya berasal dari batu yang sama, jadi penderitaan yang terasa adalah sama, tetapi saya tidak ingin menyerah begitu saja.” Pemahat kemudian bertanya,”Mengapa anda tidak meminta saya untuk memahat lebih pelan?” Batu tersebut kemudian menjawab,”Jika saya meminta hal tersebut, patung yang akan anda pahat tidak akan halus dan rumit. Mungkin perlu diulang lagi. Lebih bagus jika anda dapat mengerjakan pekerjaan anda dengan baik tanpa perlu mengulanginya, dan tidak membuang waktu kita berdua.” Pemahat ini sangat mengagumi tekad batu yang sangat kuat ini dan kembali bekerja dengan gembira. Setelah 30 hari yang penuh penderitaan, batu tersebut akhirnya menjadi sebuah patung yang sangat indah. Patung Buddha tersebut sangat tinggi dan agung. Setelah patung tersebut diletakkan di altar, masyarakat mulai berdatangan terus menerus untuk menyembah patung tersebut, sehingga kuil tersebut dipenuhi oleh dupa yang terus menyala dari hari ke hari. Suatu hari batu injakan yang berasal dari separuh batu mengajukkan pertanyaan kepada patung,”Mengapa anda dapat duduk di sana dan menerima pemujaan dari masyarakat, sedangkan kami harus menderita diinjak injak oleh ribuan orang setiap hari?”
Patung Buddha tersebut menjawab sambil tersenyum,”Alasannya sangat sederhana – tidak membutuhkan usaha yang sangat keras untuk membuat injakan batu. Tetapi saya harus mengalami penderitaan jutaan pahatan untuk menjadi sebuah patung Buddha. Untuk mendapatkan sesuatu, anda pertama-tama harus mengalami penderitaan.” (Erabaru/hui) |
Cari Artikel di Era Baru :
Ingin berita terkini EB muncul di Beranda Anda?
Ayo, gabung bersama ribuan penggemar lainnya!

- Makhluk Laut Misterius (Video)
- Kunyit Dapat Mematikan Sel Kanker
- Biksu Korea Terekam Kamera Saat Merokok dan Berjudi
- Prajurit Angkuh Kalah Perang
- Tim SAR Temukan 10 Jenazah di Lokasi Jatuhnya Sukhoi
- Lapan : Sukhoi Dikepung Awan Menjulang Tinggi
- Bahasa Misterius Ditemukan Dalam Tablet Kuno
- Adat Pemakaman Tradisional China (1)







Mozilla Firefox