|
Pontianak - Acara pelatihan untuk pelatih berupa Sosialisasi Empat Pilar Bangsa Indonesia Provinsi Kalimantan Barat di Pontianak, Senin (25/4), diwarnai kritik sejumlah peserta yang sebagian besar guru Pendidikan Kewarganegaraan dan dosen.
Guru Madrasah Tsanawiyah Negeri II Pontianak, Suryani, mengkritisi rencana pembangunan gedung baru DPR RI yang akan menghabiskan anggaran sekitar Rp 1,2 triliun.
Menurut dia, gedung tersebut lebih banyak digunakan untuk kepentingan menampung staf ahli masing-masing anggota DPR RI.
"Ternyata staf ahli lebih banyak dibanding jumlah anggota DPR RI," kata dia.
Ia menambahkan, yang bekerja lebih banyak ternyata staf ahli.
"Jadi kami memilih orang yang salah, bukan anggota DPR yang lebih banyak bekerja," kata Suryani dalam acara yang dihadiri Wakil Ketua MPR Lukman Hakim Saefuddin itu.
Ia meminta agar anggota legislatif jangan selalu menyalahkan rakyat dalam berbagai hal yang bersifat keributan.
"Jangan melihat dari yang rakyat saja salah, mereka mencontoh pejabat," kata Suryani.
Ia melanjutkan, sebagai bagian dari lembaga negara, DPR seharusnya paham kenapa saat ini rakyat bersikap seperti itu.
"Ini menunjukkan ada ketidakpuasan, Dewan tidak jeli dan cenderung arogan sehingga kerap menyalahkan rakyat," kata Suryani yang alumni Fakultas Hukum Untan itu.
Sementara Kasiran, guru Madrasah Tsanawiyah I Pontianak menilai sistem presidensial di Indonesia masih abu-abu.
"Tidak ada ketegasan yang nyata," kata dia.
Lukman Hakim Saefudin menyambut baik kritik yang dilontarkan para guru tersebut.
"Kritik harus bisa ditangkap dengan baik, karena kritik sekeras apapun kepada wakil rakyat merupakan wujud kecintaan mereka," kata Lukman Hakim Saefudin, politisi dari Partai Persatuan Pembangunan itu.
Ia berpendapat, kritik itu tidak harus diteruskan secara kelembagaan.
"Karena itu merupakan kritik kepada kami sendiri. Dan yang terpenting harus diambil esensinya," kata dia menegaskan.
Sosialisasi empat pilar tersebut dilakukan selama empat hari. MPR berharap, para peserta setelah ini bisa menebarkan hal-hal yang diperoleh ke semua pihak.
Terlebih lagi, lanjut dia, sebagian besar merupakan guru, dosen, tokoh agama maupun masyarakat.
"Pemahaman mengenai empat pilar bangsa semakin menguat karena ada kecenderungan mulai tercerabut dari nilai luhur yang dimiliki bangsa Indonesia," kata Lukman Hakim Saefuddin.(ant/waa) |