| Tak Tergoyah Oleh Sanjungan dan Hinaan |
| Ditulis oleh Era Baru | Senin, 15 Februari 2010 |
|
Sebait kalimat yang terdiri hanya beberapa patah kata, namun telah mengekspresikan secara mendalam sikap yang sepatutnya dalam menghadapi berbagai hal dan peristiwa, ketenaran dan kepentingan selama menjalani hidup. Sikap tersebut meliputi: tidak bergembira saat memperoleh sesuatu, tidak sedih /murung saat kehilangan sesuatu, tak tergoyah oleh sanjungan maupun hinaan, tak perduli dipertahankan atau dipecat dari jabatan. Dengan demikian baru memungkinkan tercapainya kondisi hati yang tenang dan damai, memandang segalanya ringan secara alami. Xiang Minzhong (948 - 1019), seorang penyair pada Dinasti Song Utara (960 - 1127), dikenal karena integritasnya dan tidak terpengaruh oleh ketenaran atau kekayaan. Suatu hari Kaisar mengeluarkan surat pengangkatan bagi Xiang Minzhong. Ia diangkat sebagai Kepala Pejabat (setingkat Perdana Menteri pada masa kini). Seorang pembantu Kaisar bernama Li Zong'e sedang bertugas hari itu sebagai cendikia kekaisaran. Kaisar Zhenzong berkata kepada Li, "Sejak awal pemerintahan saya, saya belum pernah membuat posisi Kepala Pejabat. Ini adalah pengangkatan yang luar biasa. Minzhong seharusnya merasa senang". Li menjawab: “Saya telah bertugas di sini sepanjang hari, saya juga tidak tahu yang Mulia telah mengeluarkan surat pengangkatan. Saya tidak tahu bagaimana reaksi Minzhong atas pengangkatan ini”. Kaisar berkata: "Di rumah Minzhong hari ini pasti ada banyak tamu yang mengucapkan selamat padanya. Kau pergilah ke sana untuk berkunjung dan melaporkan kembali kepada saya besok. Tapi jangan mengungkapkan bahwa saya yang mengirim anda ke sana." Li Zong’e menunggu sampai Perdana Menteri Xiang Minzhong menyelesaikan tugasnya pulang ke rumah, ia baru datang berkunjung. Sesampai di depan pintu rumahnya, terlihat Xiang baru saja menghantarkan tamunya ke luar halaman gedung. Didepan gedung terlihat sepi tidak ada satupun pengunjung. Li sejak lama berhubungan baik dengan Xiang, dan karena tidak ada pengunjung lain, dia segera masuk dan mengucapkan selamat pada Xiang, "Yang Mulia menunjuk anda sebagai Perdana Menteri hari ini, setiap pejabat negara juga senang, seluruh rakyat merayakan!" Xiang hanya dengan sederhana membenarkan ucapannya, tapi tak berkomentar. Li melanjutkan: "Yang Mulia tidak pernah mengangkat siapapun untuk posisi bergengsi ini sejak awal masa pemerintahannya. Ini adalah suatu kehormatan, kalau bukan berkat kebaikan dan kemuliaan kaisar pada anda, mana mungkin diberi kepercayaan yang demikian? " namun Xiang tidak banyak menanggapi. Li tidak dapat mereka apa yang ada dalam pikiran Xiang. Dia coba mengungkap pejabat-pejabat yang terkenal sepanjang sejarah yang telah menduduki posisi serupa, yang sangat terpuji dalam perbuatan dan moralnya, sehingga mendapat penghormatan dan kepercayaan kaisar. Xiang tetap diam, hanya memberikan tanggapan yang sederhana, sampai akhirnya juga tidak berkata apa-apa. Li mengakhiri kunjungannya dan pulang. Dalam perjalanan keluar, ia meminta para pengikutnya pergi ke dapur Xiang untuk melihat apakah mereka sedang mempersiapkan sebuah pesta untuk menjamu keluarga dan teman-teman dalam rangka merayakan jabatan baru Xiang. Ternyata para pembantu di dapur mengatakan ini hari sepi-sepi saja, tidak banyak orang yang datang. Keesokan harinya Li kembali bertugas di istana. Kaisar Zhenzong bertanya padanya: “Apakah kau telah bertemu dengan Xiang Minzhong semalam?” Li menjawab “Iya”, Kaisar bertanya lagi: “ Bagaimana perasaan hati Minzhong?” Li lalu mengutarakan secara rinci tentang kunjungannya ke Xiang semalam. Kaisar Zhenzong tersenyum seraya berkata: " Xiang Minzhong benar-benar adalah seorang yang tidak terlalu terikat pada kepentingan jabatan, tak tergoyah oleh sanjungan maupun hinaan”. Sejak zaman dahulu, orang selalu menganggap peningkatan jabatan atau perolehan kekayaan sebagai suatu hal yang patut dirayakan. Namun Xiang Minzhong menghadapi pengangkatan posisinya dapat bersikap mawas diri dan tetap tenang, meskipun posisi terhormat tersebut baru diberikan padanya. Sepanjang sejarah kehormatan dan ketenaran diberikan kepada para pahlawan pembela negara. Hanya ketika seseorang memiliki hati yang tanpa ego, bumi dan langit akan menjadi luas dalam pandangannya. Bisa jadi bahwa Xiang Minzhong tidak terlalu banyak memiliki nafsu keinginan pribadi, sehingga ia tidak dibebani oleh pengangkatan jabatan. Sekarang banyak orang hidup sangat lelah di bawah tekanan. Kita cenderung bertanya-tanya mengapa, masyarakat terus berkembang, namun manusia menjadi lebih terbebani, mentalnya semakin kosong, pikirannya mudah bergolak dan merasa frustrasi. Memang, masyarakat sedang terus berkembang dan kelihatannya semakin beradab. Namun, sebuah mudarat dari perkembangan masyarakat adalah membuat manusia kian hari kian terpisah dari alam, manusia membayar nilai ini dengan mengorbankan alam, akhirnya manusia terjerembab dalam lumpur nafsu duniawi dan tidak dapat melepaskan diri, mengejar tata krama di permukaan dan nafsu materi, sehingga tidak tahu lagi apa yang dimaksud keindahan yang sesungguhnya. Daya tarik uang, perebutan kekuasaan, serta pasang-surutnya karir, membuat manusia menguras tenaga dan pikiran untuknya. Urusan tetek-bengek, kesuksesan dan kegagalan, perolehan dan kehilangan, membuat manusia terombang-ambing dalam perasaan gembira, sedih, terkejut, bingung, khawatir, takut ….. . sekali yang dikejar tak dapat terwujud, yang diinginkan tidak berhasil diperoleh, yang diharapkan menjadi sirna, manusia akan kecewa, depresi, bahkan ada orang yang membayarnya dengan nyawa untuk hal ini. Fan Zhongyan (989 - 1052) seorang ahli prosa terkenal dari Dinasti Song Utara, dalam catatannya menulis: "jangan membangun kegembiraan di atas materi, jangan menjadi sedih karena nasib sendiri. Berada di istana kaisar khawatir akan rakyatnya, berada di tempat jauh khawatir akan kaisar. Jadi dia maju khawatir mundur juga khawatir, lalu kapan dia ada rasa gembira? ” Yang benar adalah: dia khawatir sebelum seluruh dunia khawatir, dan ia gembira setelah seluruh dunia gembira. " Ketika seseorang berpikir tentang seluruh dunia, menganggap kelangsungan dunia sebagai tugas di atas pundak nya, maka dia mutlak tidak akan memperhitungkan keuntungan dan kerugian pribadinya lagi. Seperti yang kita lihat praktisi Falun Gong di China hari ini, yang mengalami penindasan berat oleh penguasa komunis China, mereka berperilaku menjadi orang baik sesuai kriteria “sejati-baik-sabar”, malah dijebloskan dalam kamp kerja paksa, dijatuhi hukuman, bahkan diambil organ tubuhnya secara hidup-hidup. Mereka tidak memperhitungkan untung ruginya kepentingan pribadi, dengan perasaan tenang menghadapi hidup dan mati, yang diharapkan semata-mata agar orang-orang di dunia yang dikelabui oleh kebohongan dapat mengerti akan fakta kebenaran Falun Gong, agar mereka punya masa depan yang indah. (Kebudayaan Tionghoa) |
Cari Artikel di Era Baru :
Ingin berita terkini EB muncul di Beranda Anda?
Ayo, gabung bersama ribuan penggemar lainnya!

- Makhluk Laut Misterius (Video)
- Kunyit Dapat Mematikan Sel Kanker
- Biksu Korea Terekam Kamera Saat Merokok dan Berjudi
- Prajurit Angkuh Kalah Perang
- Tim SAR Temukan 10 Jenazah di Lokasi Jatuhnya Sukhoi
- Lapan : Sukhoi Dikepung Awan Menjulang Tinggi
- Bahasa Misterius Ditemukan Dalam Tablet Kuno
- Adat Pemakaman Tradisional China (1)

Dalam kisah sejarah “catatan jendela terpencil” ada sebait kalimat : Tak tergoyah oleh sanjungan maupun hinaan, seperti memandang bunga-bunga mekar dan layu di depan teras; tak peduli dipertahankan atau dipecat dari jabatan, seperti memandang langit yang awannya bergulung-gulung atau berpencaran. Makna dari perkataan ini adalah, dalam tingkah laku dan perbuatan, jika seseorang dapat memandang sanjungan dan hinaan sebagai hal yang biasa-biasa saja, seperti bunga yang mekar dan layu, maka ia baru bisa tak tergoyah olehnya; jika seseorang dapat memandang jabatan yang bertahan atau dipecat sebagai suatu perubahan biasa, sebagaimana awan yang kadang bergulung-gulung kadang berpencaran, maka ia baru bisa tidak menaruh peduli padanya. 


Mozilla Firefox
Comments
RSS feed for comments to this post.