Era Baru News >> China News & Culture >> Kebudayaan Tiongkok >> Perubahan Drastis Kuil Shaolin ( 5 Tamat) - Kultivasi Nihil Gantikan Empat Prinsip Kenihilan Shaolin
Perubahan Drastis Kuil Shaolin ( 5 Tamat) - Kultivasi Nihil Gantikan Empat Prinsip Kenihilan Shaolin
Ditulis oleh Epochtimes Minggu, 07 Maret 2010

Dahulu ilmu silat Shaolin sangat populer lantaran mendidik para muridnya menguasai ilmu silat dan berkultivasi jiwa ditambah lagi dengan menjunjung tinggi moralitas. Sekarang institusi Shaolin kungfu terjerumus ke dalam arus komersialisasi. (GETTY IMAGES)Kultivasi agama Budha mengutamakan prinsip: Berpantang—Samadhi—Prajna (kebijakan), menjaga prinsip tersebut adalah prasyarat yang paling mendasar. Namun di Kuil Shaolin moderen telah muncul jurus kembangan berupa: penjualan barang dagangan, lokasi shooting film dan pemilihan tren terbaru.

Kebudayaan Shaolin yang mendalam sejak awal mengultivasi jiwa dan raga serta mementingkan hukum kejiwaan, di bawah pimpinan Shi Yongxin telah sirna tak berbekas. 

Biksu berdagang berebut uang

Jika komersialisasi Shaolin bukan berasal dari biksu yang berprinsip "Empat kenihilan", tetapi ada pada seorang manusia biasa yang bergelimangan dengan dunia fana pasti dibilang hal yang wajar.

Seorang biksu justru berkeinginan hendak mencampakkan "reputasi, keuntungan dan hubungan emosional" di dunia manusia dan melenyapkan "keserakahan, kemarahan dan kebodohan", untuk mengejar peningkatan hati nurani dan kesadaran sehingga pada akhirnya berhasil menjadi kultivator yang berkultivasi menjadi Budha (= sang Sadar).

Dalam bahasa Sansekerta Budha dimaknai sebagai sang Sadar. Coba perhatikan, dari struktur aksara mandarinnya saja bisa dilihat bahwa: Budha (fo), bagian paruh kanannya bermakna "bukan", sedangkan paruh kirinya adalah aksara manusia. Berarti seorang Budha adalah "bukan manusia".

Zaman dahulu begitu seseorang menjadi biksu, langsung dianggap tidak sama dengan manusia biasa; harta benda, kedudukan, kehidupan nyaman, asmara, persahabatan, hubungan kekeluargaan dan lain sebagainya yang dikejar insan manusia, telah ia tanggalkan, hanya dengan demikian ia baru bisa berkultivasi dan berpraktek di dalam agama Budha. 

Biksu tamak harta rugikan diri sendiri dan orang lain

Sepuluh pantangan yang diwariskan oleh sang Budha termasuk: Tidak membunuh makhluk hidup, tidak mencuri dan merampok, tidak berzinah, tidak membual, tidak minum alkohol, tidak bersolek, tidak bersenandung dan berjoget serta ber-audio ria, tidak berbaring di ranjang mewah, tidak makan di luar jam makan yang telah ditentukan dan tidak menyimpan harta benda.

Para biksu tinggi Shaolin selama 1.500 tahun ini tidak ada satu pun yang berani mengubah peraturan tersebut, dengan demikian telah menjamin pewarisan situs kuno berusia ribuan tahun itu. Lantas moralitas dan kehebatan apakah yang diandalkan Shi Yongxin hingga ia berani mengubah pantangan yang menjadi dasar kultivasi dan pelaksanaan tersebut?

Biksu memperbaiki diri juga bertanggung jawab keimanan pengikut

Kini biksu yang berpantang tamak harta sedang memeras otak untuk berbisnis, bagaikan hakim pengadilan pejabat korup telah memimpin KKN dan menerima suap, melek hukum tapi melanggar hukum dan ini termasuk dosa besar. Selain itu seperti kasus para biksu Kuil Guangxiao - Guangzhou, Kuil Haizhuang dan Kuil Nanshan - Provinsi Hainan berjemaah melakukan pelacuran yang kini semakin sering dijumpai di daratan China, karena agama sudah merosot menjadi karir sekuler.

Kerusakan moral umat manusia dan kemerosotan agama zaman ini saling berkaitan erat. Lantaran orang-orang di dalam kuil maupun di luar kuil tidak lagi mempercayai agama, orang-orang telah kehilangan mekanisme peningkatan spiritualitas diri sendiri dan dengan demikian kemerosotan lantas menjadi pasti.

Melanggar pantangan berarti mengacau hukum

Agama Budha terutama berkultivasi "Berpantang—Samadhi—Prajna (kebijakan)", menjaga aturan pantangan adalah kewajiban yang paling mendasar. Budha Sakyamuni sebelum moksa memberi wejangan kepada para murid hendaknya, "Melindungi dan mempertahankan larangan dan pantangan, jangan dilanggar."

Seraya memperingatkan: "Bagi yang melanggar, akan dibenci oleh para makhluk surgawi dan nama buruknya akan tersebar.... Saat ajal sesuai dosanya masuk neraka. Mengalami masa yang teramat panjang baru bisa terbebas dari sana. Kerap terlahir sebagai setan kelaparan (manusia yang tamak) dan berwujud hewan (manusia dengan sifat kebinatangan), berputar-putar tak mampu terlepas dari siklus kehidupan tersebut."

Selain itu Sakyamuni juga meramalkan pada masa akhir dharma (masa zaman moderen sekarang ini), raja iblis bereinkarnasi menjadi biksu ataupun biksuni dan para penganut sekuler pria dan perempuan merusak dan mengacaukan hukum Budha.

Sesuai catatan agama Budha, sang Budha pernah bersusah payah dan berhasil menaklukkan perdebatan para agama dan aliran kepercayaan lain satu persatu, salah satu grandmaster aliran Brahma mengatakan kepada sang Budha: "Saat ini aku tidak mampu menghadapi Anda, namun sesudah ribuan tahun berlalu para anak dan cucu murid silumanku akan mengenakan jubah kalian, membawa kitab suci dan asesoris kalian serta menyusup ke barisan kalian untuk menghancur-leburkan (dari dalam) agama Budha."

Sang Budha setelah mendengarnya tidak menjawab, hanya diam-diam meneteskan air mata. Di dalam "Nirvana Sutra" disebutkan: "Para iblis melakukan perbuatan dosa secara berjemaah, mereka hanya tertarik dan rakus akan harta-benda, tidak melakukan perbuatan bajik dan tidak melakukan perbuatan bermoral."

Akal bulus Kuil Shaolin zaman kini justru adalah tipu daya raja iblis: menggunakan komersialisasi para biksu mereka untuk menyesatkan para umat, menggunakan uang dan materi lainnya untuk menghambat para umat berkultivasi hati dan berbuat kebajikan.

Shi Yongxin dengan julukan PKC adalah raja iblis yang menghancurkan hukum Budha

Sejak "Himpunan Agama Budha China" yang didirikan di daratan China pada 1952, banyak sekali aturan dan pantangan dalam agama Budha yang telah dihapus. Misalnya saja pada zaman kuno, ubun-ubun biksu dan biksuni (yang telah digunduli) harus disulut dengan dupa sebanyak 9 titik, dengan tujuan senantiasa mengingatkan para biksu/biksuni tentang perbedaan mereka dengan manusia biasa. Sedangkan Zhao Puchu ketua himpunan merangkap kader tingkat politbiro PKC (Partai komunis China) telah menghapusnya.

Sesudah Zhao wafat dan dikremasi, tiada satu pun sarira (materi yang tersisa dari kremasi seorang biksu yang telah meninggal) yang terbentuk, hanyalah berwujud segumpal abu hitam.

Pada akhir tahun lalu ada sebanyak 5 petinju juara Muai Thai dari Thailand beramai-ramai mendatangi daratan China hendak mengukur ilmu mereka dengan Shi Yongxin, mereka mengira kungfu kepala biara Shaolin harusnya yang paling hebat. Akhirnya pihak China terpaksa mengerahkan para jagoan dari empat aliran besar: Shaolin, Wudang (Butong), Quanzhen dan Emei, serta mengandalkan jurus tipu permainan wasit baru bisa mengalahkan para pesilat Thailand tersebut.

Bagi yang paham Wushu akan mengetahuinya, hanya mengandalkan gerakan fisik saja tanpa diperkuat dengan ilmu tenaga dalam, hanyalah jurus kembangan yang tak bersubstansi. Yang dibahas di dalam kitab Yi Jin Jing (Muscle Change Classic) hanyalah gerakan permukaan saja. Zaman sekarang siapakah di Kuil Shaolin yang menguasai ilmu Shaolin sesungguhnya yakni: Xi Sui Jing (Marrow Washing Classic). Memperagakan jurus kanuragan semu di manca negara, hanya mengundang tawa dan cemoohan saja.

Kebobrokan Kuil Shaolin tak dapat dipisahkan dari intervensi PKC. Penempatan Shi Yongxin diutus oleh PKC, biksu mendirikan perusahaan (yang belum pernah terjadi sebelumnya di dalam sejarah) juga merupakan ulah PKC dan didukung penuh oleh mereka. "Biksu penerima upah" menerima gaji juga merupakan kebijakan PKC, di balik itu semua adalah PKC dalangnya.

Kini kuil dengan prinsip 4 kenihilan telah bermetamorfosa menjadi 4 Pengendalian, segalanya dikendalikan oleh PKC. Sebetulnya PKC yang penganut atheis barulah dedengkot iblis jahat yang mengingkari hukum Budha dan merusak nurani manusia. Pentolan iblis PKC ini justru menggunakan orang sebangsa Shi Yongxin, menggunakan "kebudayaan tradisional" yang trivial dan pendangkalan ajaran untuk berbalik merusak kebudayaan tradisional yang sejati. 

Mensekulerkan Shaolin

Konsepsi "Langit, Tao, kedewataan, kebudhaan, jiwa, jodoh, kasih, keadilan, tata susila, kearifan, kepercayaan, tulus dan jujur, budaya malu, kesetiaan, balas budi, integritas moral" yang khusus dimiliki orang China, menggemakan kebesaran konfusianisme, budhisme, taoisme yang saling merefleksikan kecemerlangan budaya China.

Kedalaman moralitas yang penuh respek terhadap Langit (Tuhan) dan dewata (malaikat) adalah yang paling diutamakan di kebudayaan China; berpijak pada pendirian dasar atheisme, tak peduli PKC merenovasi berapa banyak kuil dan vihara, mengadakan berapa banyak hari besar kebudayaan, itu hanyalah sedang mengadakan kebudayaan permukaan yang mencuri pilar untuk digantikan dengan pilar lainnya.

Merenovasi pintu dan tampak bangunan tetapi menghancurkan isinya, itulah kebijakan yang sering digunakan PKC untuk mengelabuhi dunia. PKC dengan daya upaya entertainmen untuk memulihkan budaya permukaan guna menutupi pengrusakan sifat asli kedalaman moralitas, metode pencangkokan semacam ini, adalah pengrusakan terhadap kebudayaan tradisional: sehingga orang-orang semakin menjauhi tradisi China yang sesungguhnya dan semakin mencurigai kebenaran yang nyata dari kultivasi. (Wang Hua/New Epoch Weekly Magazine/whs)