Jaminan
Ditulis oleh Era Baru Selasa, 15 Juni 2010

Menteri Chu Zhe dan Ratu ZhaoPada tahun 266 SM, raja Kerajaan Zhao wafat. Anak lelaki tertuanya berhasil naik tahta tetapi ia masih terlalu muda untuk memerintah. Jadi, secara de facto kekuasaan ada di tangan Ratu.

Selang beberapa lama, Kerajaan  Qin melancarkan serangan mendadak pada Kerajaan Zhao. Ratu meminta bantuan Kerajaan Qi. Kerajaan Qi setuju untuk menyelamatkan Kerajaan Zhao dengan syarat Ratu harus menyerahkan anak laki-laki termudanya, Pangeran Chang’an sebagai jaminan. Sang Ratu Zhao tidak ingin berpisah dengan anak lelaki kesayangannya, walaupun semua  menteri-menterinya membujuknya untuk menerima persyaratan dari Kerajaan Qi.

Sang Ratu bingung. ” Saya akan meludahi wajahnya jika ada seorang dari kalian yang berusaha mempengaruhi saya lagi!” Sang Ratu berkata dengan penuh kemarahan.

Suatu hari Chu Zhe, seorang menteri senior, datang menghadap Sang Ratu. Sang Ratu sebenarnya tidak berkenan menemui siapapun, tetapi karena pertimbangan senioritas  Chu Zhe, sang ratu merasa tidak enak untuk menolak kedatangannya. Chu Zhe berjalan sangat pelan.

“Mohon maaf, Sang Ratu. Saya tidak bisa berjalan cepat,” kata Chu Zhe. “ Kaki saya sakit, Sang Ratu. Saya datang karena  ada beberapa isu hangat yang terjadi di istana.  Saya berharap Yang Mulia baik-baik saja.”

“Saya baik-baik saja. Hanya saja saya harus menggunakan kursi roda untuk ke sana kemari.”

“Bagaimana nafsu makan Yang Mulia?”

“Saya hanya makan bubur.”

“Saya juga tidak begitu nafsu makan  juga”, sahut Che Zhe. “Tetapi saya memaksakan diri untuk berjalan tiga atau empat li setiap hari. Setelah latihan tersebut, nafsu makan saya kembali normal, dan saya merasa lebih baik.”

“Saya tidak bisa melakukan itu,” sahut Sang Ratu.

“Saya datang untuk memohon kebaikan Yang Mulia. Anak termuda saya memang tak terlalu layak tetapi saya sangat peduli sama dia. Bisakah Yang mulia mengiijinkannya menjadi penjaga istana?”

“Berapa usianya?”

“Lima belas tahun. Saya ingin dia mengabdi kepada Yang Mulia sebelum saya mati.”

“Nampaknya seorang Ayah juga menyayangi anak lelakinya,” ujar Ratu.

“Lebih dari rasa sayang  seorang Ibu!” Chu Zhe menjawab.

“Saya tidak setuju dengan pendapatmu. Seorang ibu menyayangi anak lelakinya lebih dari seorang ayah.”

“Tetapi Saya pikir Yang mulia mencintai putrimu melebihi Pangeran Chang’an.”

“Kamu salah. Saya menyayangi Pangeran Chang’an melebihi putri saya.”

“Baiklah. Jika orang tua menyayangi anaknya, dia pasti mengerti apa yang terbaik bagi kepentingan dan masa depan anaknya. Masih ingat dalam ingatan saya, bahwa Yang mulia sangat sedih ketika menikahkan putrimu dengan Raja Yan. Yang mulia memeluknya dan menangis tersedu-sedu. Kejadian itu juga membuat saya terlarut dalam  kesedihan. Saya tahu Yang mulia sering memikirkan putrimu dan selalu berdoa untuknya. Tapi, bukankah Yang mulia tidak ingin kalau seandainya  dia kembali kesini, dan jika seandainya ia harus kembali, yang berarti itu sama saja ia akan kesepian atau Kerajaan Yan dalam masalah. Yang mulia pasti akan berpikir panjang. Bukankah Yang mulia ingin anak lelaki sang putri atau cucu Yang mulia menjadi raja ?”

“Ya,” sang Ratu setuju dengan pendapat sang menteri senior.

“Mohon dipertimbangkan  pendapat saya, Yang Mulia,” lanjut Chu Zhe,” Apakah Kerjaaan Zhao diperintah oleh keturunan Raja Su yang memerintah disini enam puluh tahun yang lalu?”

“Tidak”, ujar Sang Ratu.

“Apakah Yang mulia pernah mendengar tentang sebuah negeri yang diperintah dengan sukses oleh tiga generasi?”

“Belum.”

“Kenapa itu terjadi? Pemerintah di negara itu melakukan banyak kesalahan, dan anak-anaknya menanggung akibatnya. Itu bukan lantaran anak-anaknya tidak layak memerintah. Tidak. Kesalahannya terletak pada orang tuanya. Dia memberikan anaknya kekuasaan yang agung tetapi gagal memberi kesempatan untuk mengabdikan diri untuk negerinya, berbuat sesuatu demi bangsanya. Walhasil, anak-anaknya mungkin punya kekuasaan, tetapi kekurangan kemampuan dan kredibilitas untuk mempertahankan kekuasannya. Sekarang Yang Mulia memberikan Pangeran Chang’an gelar yang mulia dan wilayah yang luas dan subur, tetapi tidak memperbolehkan dia melakuan sesuatu untuk kepentingan negerinya. Ketika Yang mulia meninggal nanti, bagaimana dia bisa mempertahanan statusnya dan kekayaannya?  Itulah sebabnya kenapa saya berpendapat bahwa Yang mulia tidak melakukan yang terbaik untuk masa depan Sang Pangeran. Itulah sebabnya saya juga berpendapat bahwa Yang mulia lebih peduli pada Tuan putri dari pada Sang Pangeran.”

“Pendapatmu saya terima.”  ujar Sang Ratu setelah meresapi pemikiran sang menteri senior. Ia lalu meneruskan: “Saya menyerahkan segala urusan tentang keberangkatan pangeran Chang’an ke Negeri Qi kepada Anda.”

Pangeran Chang’an dikirim ke Kerajaan Qi sebagai jaminan, dengan diiringi ratusan kereta. Akhirnya, Kerajaan Qi mengirim bala tentaranya untuk membantu negeri Zhao dan memaksa Qin untuk menarik mundur pasukannnya. (Erabaru/isw)