Dua Seniman
Ditulis oleh Era Baru Senin, 09 Agustus 2010

Dahulu kala, ada seorang seniman tua yang memiliki dua orang murid, dengan ketekunan dan bakat yang sama. Seniman tersebut mengajari segala hal yang Ia tahu. Akhirnya mereka berdua pun menjadi terkenal. Mereka bernama Master Zhang dan Master Ding.

Setelah Guru mereka meninggal, Master Zhang dan Master Ding ingin memperdalam ilmu seni mereka. Mereka pun harus berpisah.

“Guru kita dulu memberitahu bahwa kita memiliki kemampuan yang sepadan. Bagaimana kalau kita bawa karya terbaik kita ke sini setelah 5 tahun? Jadi kita bisa melihat dan memutuskan siapa yang lebih baik,” ujar Master Zhang.

“Tentu, itu boleh saja,” jawab MasterDing.

Setelah mengucapkan selamat tinggal, Master Zhang berkeliling dunia, melihat pemandangan terbaik, dan belajar dari berbagai kebudayaan. Lukisannya dibuat satu per satu. Namanya semakin populer, begitu juga harga lukisannya. Master Zhang benar-benar menikmati pencapaiannya. 

“Sekarang belum sampai 5 tahun, tetapi aku meningkat sangat cepat. Sebenarnya, perkembanganku tidaklah mengherankan. Sebaliknya, belum seorang pun menyebut Master Ding. Aku yakin memenangi kontes ini dengan mudah,” pikir Master Zhang.

Setelah 5 tahun berlalu, Master Zhang cukup percaya diri. Dia membawa lukisan terbaiknya ke tempat, di mana mereka seharusnya bertemu. Ketika sampai, Master Ding sudah ada di sana, menyambutnya dengan senyum lebar dan dengan tangan kosong. Master Zhang tidak senang.

"Kita setuju untuk membawa lukisan terbaik kita, dan kamu datang dengan tangan kosong. Bagaimana kita melakukan perbandingan?” kata Master Zhang.

Master Ding melihat rambut temannya yang telah memutih dan menjawab.

"Temanku, bukan maksudku untuk datang dengan tangan kosong, hanya saja Aku tidak memiliki lukisan apapun,” jawab Master Ding.

“Aku bertaruh, ini pasti cuma alasan, Dia takut kalah dalam pertandingan ini. Dia pun bertanya, kenapa Master Ding tidak membawa lukisannya," Master Zhang berpikir.

“Walaupun aku tidak membawa lukisan, Aku dapat menunjukkannya padamu,” jawab Master Ding.

Kemudian Master Zhang mengikuti Master Ding, berjalan keliling kota. Master Zhang sangat terkejut, mengetahui semua lukisan Master Ding tergantung di berbagai gedung di tengah kota. Setiap lukisan selalu lebih bagus dibanding yang sebelumnya.

Kota kecil tersebut nyaman, antik, dan dipenuhi nuansa seni. Awalnya, semua orang di kota tersebut tidak berpendidikan, tetapi sekarang mereka bertabiat dan bersikap sangat halus. Perilaku mereka sama seperti yang digambarkan pada lukisan.

Semua orang menghargai Master Ding dengan penuh hormat. Melihat ini, Master Zhang sedikit iri.

“Apakah mereka menyewamu untuk mengerjakan semua lukisan ini, kamu pasti sangat kaya sekarang?” tanya MasterZhang.

Master Ding tersenyum.

“Ketika kita berpisah 5 tahun yang lalu, Aku berpikir, betapa sulitnya Guru kita mengajar kita. Jadi, Aku memutuskan untuk membalas budi kepada orang-orang di kota ini. Setelah menyelesaikan lukisan pertamaku, mereka sangat menghargai karyaku, dan tergerak oleh keindahannya. Merekapun mengundangku menetap di sini dan melanjutkan lukisan-lukisanku," ujar Master Ding.

Awalnya, mereka takut akan dikenai banyak biaya, tetapi Aku beritahu bahwa semuanya gratis, dan permintaanku hanyalah agar disediakan makanan sehari-hari.

Master Zhang terkejut mendengar bahwa Master Ding melukis dengan gratis.

“Bagaimana kamu bisa sangat bodoh? Kamu seharusnya dapat menghasilkan banyak uang!” kata Master Zhang.

Dengan air mata berlinang  Master Ding berkata.

"Sebenarnya, mereka banyak membantuku.  Awalnya, keahlianku tidaklah begitu bagus, dan  ketika mereka melihat karyaku, mereka tidak tahu cara memujiku, walaupun mereka selalu baik dan tulus. Dengan dukungan mereka, lukisanku menjadi semakin baik. Bagaimana Aku bisa meminta lebih banyak lagi?” jawab Master Ding.

Setelah mendengarnya, Master Zhang merasa malu. Dalam benaknya, nilai sebuah karya seni ditentukan oleh harganya. Semakin tinggi harganya, semakin bernilai karya seni itu.

"Master Ding, kamu telah memenangkan pertandingan 5 tahun ini. Lukisan-lukisanmu tak ternilai dan tidak bisa dibeli dengan uang, sedangkan lukisanku masih bisa dibayar. Lukisanmu bisa membawa perubahan kepada banyak orang, tetapi lukisanku hanyalah bagian dari dekorasi rumah orang-orang kaya. Aku pikir, aku layak kalah, dan Aku telah belajar nilai sejati dari seni. Biarkan Aku belajar darimu! Mari bekerja bersama dan membuat lebih banyak hal indah untuk dunia!” tutur Master Zhang

Mereka berpelukan dan menangis. Dengan Master Zhang di sisinya, Master Ding  tidak kesepian lagi dalam berkreasi. Semenjak itu, seorang seniman terkenal menghilang dari dunia, sedangkan dua seniman bahagia, bekerja dengan harmonis, membawa kegembiraan dan keindahan ke seluruh penjuru dunia. (Erabaru/wid)