Pentungan Kayu
Ditulis oleh Era Baru Jumat, 27 Agustus 2010

Yan Rusia adalah Bupati di Xiangyang masa Dinasti Qing. Dia juga Jaksa Wilayah di kabupaten Wenxi, Shanxi beberapa tahun pada awal Kaisar Gaozong. Yan Rusia suka menyiksa tersangka kriminal untuk mendapatkan pengakuan dan membuat pentungan khusus untuk memukul tulang betis tersangka. Pentungan itu menimbulkan penderitaan tak terlukiskan bagi korbannya.

Istrinya adalah seorang wanita bijaksana dan berpengetahuan. Dia tahu apa yang suaminya lakukan adalah salah dan ia selalu berusaha membujuk suaminya agar meninggalkan metode seperti itu untuk memperoleh pengakuan.

Namun, Yan Rusia benar-benar tidak mendengarkan nasihatnya. Pada tahun berikutnya, Yan Rusia memiliki seorang cucu. Meskipun fisik cucunya kuat, tulang-tulang dari kedua kakinya begitu lembek dan bahkan bagian bawah tubuhnya lumpuh.

Melihat hal ini, istri Yan Rusia berkata kepada suaminya.

"Saya telah memperingatkan Anda  di masa lalu untuk menghentikan perlakuan tersangka seperti itu. Sekarang cucu kita telah mengalami hal seperti ini. Ini adalah Tuhan memberikan peringatan. Jika Anda tidak berubah, akan ada balasan yang lebih besar menunggu Anda !"

Setelah mendengarkan komentar istrinya, Yan Rusia sangat gelisah dan menyesali apa yang telah dilakukannya. Ia kemudian membakar pentungan dan segera memutuskan  tidak lagi menggunakan penyiksaan untuk mendapatkan pengakuan.

Sejak saat itu, ia secara serius mencari bukti untuk menyelesaikan kasus-kasus dan tidak lagi menyiksa tersangka. Tulang cucunya secara perlahan menguat sehingga ia bisa berjalan, berlari dan melompat seperti anak-anak lain seusianya. Yan Rusia sering menggunakan contoh ini untuk  menasihati sesama pejabat agar menahan diri dan tidak menggunakan metode penyiksaan.

Setelah membaca cerita ini, saya berpikir. Tindak kejahatan yang dilakukan oleh leluhur dapat berimplikasi kepada keturunan mereka. Oleh karena itu, pejabat tidak boleh menyiksa tersangka. Karena Yan Rusia menggunakan metode penyiksaan untuk mendapatkan pengakuan, cucunya menjadi lumpuh. Untungnya, ia punya istri bijaksana untuk menasehati perbuatan yang telah dilakukan sehingga cucunya kembali normal.

Di Tiongkok hari ini, banyak petugas mengikuti perintah dari Partai Komunis China untuk menganiaya praktisi Falun Gong. Praktisi yang tak terhitung jumlahnya menjadi sasaran penyiksaan paling brutal, banyak dari mereka yang telah disiksa sampai mati. Saat ini, polisi jahat melakukan kejahatan jauh lebih besar daripada Yan Rusia.

Yan Rusia menghadapi tersangka kriminal, tetapi polisi di China saat ini menyiksa orang baik hati. Berapa besar ganjaran yang akan diperoleh bagi mereka yang berpartisipasi dalam penganiayaan terhadap Falun Gong, bersama dengan keturunan mereka? (Erabaru/art)

 


 

Comments  

 
0 # tikky theodore 2010-09-01 23:25
Falun Gong adalah salah satu pelajaran yg baik, hanya mungkin salah tempat lahirnya.
yang lebih penting lagi,negara ada yg memerintah,diha rapkan semua warga taat pada perintahnya,bag aikan kita bertamu,bukanka h kita harus hormat sama orang yg punya rumah,jika tidak suka ya gak usah datang kerumah itu,demikian juga Falun Gong ,mungkin unt menghindari bentrokan apa salahnya memodifikasi sedikit ajarannya hingga tidak berbenturan dgn peraturan pemerintahnya, sekarang bukan jamannya lagi kita memaksakan kehendak,tapi kita harus bisa beradaptasi,wal au jangan hidup sebagai bunglon.
Reply | Reply with quote | Quote