|

Kemegahan Layar Digital Shen Yun
Coba bayangkan pemandangan sungai-sungai kecil pada zaman dahulu di sepanjang aliran Sungai Yangtze, Tiongkok. Bayangan lembut dedaunan dan bunga warna merah muda yang terpantul di atas permukaan sungai, gunung berwarna keungu-unguan yang terlihat di kejauhan.
Lalu bayangkan diri Anda berdiri di puncak ngarai, sambil menatap Tembok Raksasa Tiongkok, yang terlihat seperti menyentuh langit di kejauhan. Asap yang keluar dari menara-menaranya seperti pernah terjadi pada dahulu kala.
Dalam tampilan teatrikal kebudayaan klasik Tiongkok di pentas seni Shen Yun ini, latar belakang digitalnya menghadirkan pemandangan-pemandangan kebudayaan yang bersejarah 5.000 tahun lalu, ke masa modern sekarang ini. Kecanggihan seni teknologi digunakan untuk menggambarkan pemandangan dunia kesenian Tiongkok kuno, termasuk taman-taman Tiongkok klasik dan pemandangan surgawi yang sering digambarkan dalam lukisan-lukisan Buddhis.
Perusahaan tari yang berbasis di New York ini, mengkhususkan diri dalam tarian klasik Tiongkok, tetapi mereka juga memperkenalkan keanekaragaman tarian, busana, dan musik tradisional dari 55 suku bangsa yang hidup di Tiongkok.
Selain mempersembahkan yang kuno, Shen Yun juga mengkreasikan sesuatu yang baru.
Pemenang Academy Award dan Emmy Award untuk production designer film Avatar, Robert Stromberg, menyatakan bahwa layar latar panggung pertunjukan Shen Yun dapat menjadi sebuah “bentuk kesenian baru - gabungan antara penampilan panggung secara langsung dengan proyeksi digital.”
Setelah menyaksikan penampilan Shen Yun di Los Angeles pada Juli lalu, Stromberg mengatakan kepada New Tang Dynasty Television (NTDTV) bahwa layar latar (backdrop) Shen Yun membawakan kesan semacam, sedang “pergi ke teater dan menonton film bioskop dalam waktu bersamaan.”
“Pertunjukannya sangat indah,” kata Stromberg. “Sangat menginspirasi, Saya rasa, saya mungkin telah menemukan beberapa ide baru untuk film Avatar yang berikutnya.”
Stromberg juga mempelajari mengenai pemandangan alam di Tiongkok dan mengagumi keaslian pemandangan layar latar Shen Yun ini. Dia berkata, “Seperti melihat sebuah persembahan tradisional dengan tarian dan latar yang asli - semuanya tampil bersamaan.”
Taman Kuno
Taman-taman Tiongkok, seperti taman kuno yang ditampilkan sebagai latar belakang tari-tarian Shen Yun ini, selalu memiliki makna mendalam bagi orang Tionghoa.
“Tao (Sebuah Jalan, yang memiliki arti Hukum Alam) mengilhami para pengikutnya untuk bisa menyadari secara mendalam proses perubahan alam,” jelas R.S. Johnson dalam bukunya yang berjudul Scholar Gardens of China, yang juga dikutip oleh artikel yang ditulis Kongjian Yu pada 1993 mengenai Taman Tiongkok yang dimuat dalam Arnoldia, majalah Arboretum Arnold, Universitas Harvard.
“Kerendahan hati para Taois dalam menghadapi alam, benar-benar terekspresikan dalam desain lansekap dan bangunannya di kediaman mereka,” tulis Johnston.
Prinsip Yin dan Yang dari aliran Taoisme juga termanifestasikan dalam keseimbangan elemen-elemen dalam tamannya.
“Air dan batu, bayangan dan pencahayaan, di dalam dan luar diseimbangkan untuk memanifestasikan Tao, Jalan Alam Semesta,” jelas Joan Kent Kvitka, direktur pendidikan Taman Tiongkok Klasik Portland di Oregon, dalam sebuah artikel Universitas Negara Bagian Portland.
Pemandangan taman yang melatar belakangi penampilan Shen Yun digambarkan penuh dengan “bangunan yang kaya akan ornamen, bunga-bunga dan pepohonan yang indah, benar-benar tertata dengan sangat sempurna dalam gaya, penempatannya mengandung makna yang sangat dalam.”
Padang Rumput Mongolia
Pemandangan rumput hijau yang berkilau dipisahkan dari pancaran langit biru oleh barisan pegunungan hijau yang terlukis dalam layar latar panggung Shen Yun. Mengiringi penampilan para penari Mongolia, yang gerakannya menyerupai segerombolan kuda yang berlari atau elang yang terbang membumbung tinggi.
Sajak Mongolia yang berusia 1.500 tahun, ditampilkan dalam situs Shen Yun, yang mengilustrasikan keterkaitan sentuhan Mongolia pada layar latar mereka, yakni padang rumputnya. Sajak itu berbunyi: “Langitnya biru, tanah lapang tak berbatas. Ketika angin meniup rerumputan, ternak dan lembunya pun muncul.”
Orang Mongolia “dikenal dekat dengan alam, nyanyian dan tariannya yang hidup, serta keahlian memanahnya yang tiada banding, begitu juga dengan keahlian menunggang kuda,” tulis situs tersebut.
Dari Puncak Himalaya Hingga Hutan Subtropis
Setiap tahun, penampilan Shen Yun selalu mengalami perubahan. Dengan sekitar 20 tarian di setiap kali pertunjukannya, para penari mempersembahkan keluasan sejarah, geografis dan etnis Tiongkok yang beragam.
Penari menggambarkan penduduk Tibet yang hidup di Pengunungan Himalaya, dan juga kehidupan Suku Yi (etnis yang hidup di wilayah selatan Tiongkok) dengan melakukan gerakan tiga langkah ke depan dan satu langkah mundur dalam sebuah gerakan melingkar, hal ini mencirikan “Langkah Memukul Buckwheat”, sebuah gerakan yang diinspirasikan dari musim panen buckwheat (semacam biji-bijian). Tarian ini dipersembahkan dengan latar belakang lahan buckweat yang sedang berbunga, gunung-gunung dan lembah-lembah di Tiongkok Barat Daya.
Shen Yun tampil dengan menghadirkan pengunungan, tebing terjal, lembah, lahan tanah yang subur, hingga hutan hijau subtropis di Asia Tenggara.
Kelompok etnis-etnis itu ditampilkan seperti dalam lingkungan asli mereka, layar latar digitalnya memberikan peran lebih dari sekedar pemandangan latar saja, namun juga mendukung penampilan interaktif pertunjukan tersebut. Sedangkan layar latar yang konvensional identik dengan katrol, tali, dan karung pasir sebagai pemberat.
Sebagai contoh, dalam sebuah tarian kisah klasik Tiongkok yang berjudul Perjalanan Menuju Barat, Si Raja Kera (Kera Sakti) sedang menarik bulan dari langit untuk mendatangkan peri dari istana bulan. Para peri dan makhluk langit turun ke bumi melalui layar digital. Mereka mendarat di panggung, dimana para penari segera menggantikan mereka dari tempat dimana mereka mendarat di layar dan mulai menari, menciptakan sebuah gerak-an tanpa putus dari langit hingga menuju ke panggung.
Shen Yun “menciptakan sebuah atmosfir unik dan dunia yang indah penuh warna,” tutur Wasahide Yanagawase, salah dari begitu banyak seniman efek visual yang paling terkenal di Jepang, kepada Epoch Times setelah menyaksikan penampilan Shen Yun di Tokyo pada 2009 lalu.
“Pemandangan latar tidak hanya serasi dengan para penari di panggung, namun juga tak kelihatan celahnya dalam menghadirkan efek yang menawan itu, mereka juga sangat harmonis dengan setiap isi programnya. Kisahnya dan cara menampilkannya sangatlah menarik. Ini acara bagus yang patut untuk diingat,” kata Yanagawase. (The Epoch Times / ltv)
The Epoch Times menjadi salah satu sponsor utama Shen Yun Performing Arts, yang telah memulai tur pertunjukan keliling dunianya tahun 2012. Untuk mempelajari lebih lanjut tentang Shen Yun Performing Arts dan kebudayaan Tiongkok kuno, atau informasi tiket pertunjukan, silakan kunjungi situs resminya: www.shenyunperformingarts.org |