| Serial Kota Sam Kok (San Guo) - Bagian 4 |
| Ditulis oleh Penulis : Cai Daya, Ilustrasi : Xiao Suhui (New Epoch Weekly Magazine) | Selasa, 30 Desember 2008 |
Pengabdian Optimal Tampilkan Keluhuran Jiwa.
Han Zhong pada zaman kuno termasuk negara aneksi dimana raja Zhou You (周幽王) mengreasi api menara untuk mempermainkan para adipatinya, hanya demi memperoleh sebuah senyuman da-ri seorang gadis cantik. Bao Si (褒姒) yang kecantikannya membuat geger dinasti Zhou, dan konon berasal dari tempat ini. Pada akhir dinasti Qin (baca: jin) banyak tokoh kuat bermunculan, dan mereka menyepakati bahwa bagi yang memasuki Xian Yang lebih dahulu akan diangkat sebagai raja Guan Zhong. Liu Bang (劉邦) paling awal mencapai Xian Yang, tapi Xiang Yu (項羽) melanggar kesepakatan dan ia mengubahnya menjadi raja Han yang beribukota Han Zhong. Liu Bang tiba di Han Zhong dengan hati tidak rela dan ia bertekad untuk bersaing dengan negara Chu. Tahun itu dinyatakannya sebagai tahun perdana Han Gaozhu (漢高祖, 206 SM), dengan demikian dinasti Han dimulai dari saat itu. Di da-lam kota Han Zhong kini pada jalan Dong Da terdapat bangunan podium Han Kuno, konon itu adalah situs istana raja Han. Tiga jagoan awal dinasti Han sama-sama mengincar Han ZongTiga jagoan dinasti Han awal juga sama-sama telah meninggalkan jejaknya: Sebelum Zhang Liang (張 良) turun gunung, konon bertempat tinggal di bawah gunung Zi Bai di utara kota Han Zhong. Xiao He sewaktu Liu Bang mengirim pasukan ekspedisi ke empat penjuru, bermarkas di Han Zhong, ia menjadi backing yang kuat bagi pasukan Han. Di dalam arena para jenderal, Han Xin (韓信) diangkat sebagai panglima besar Han, yang sejak saat itu memulai pengabdian agung yang penuh dengan jasa berupa tanpa pernah sekalipun kalah. Han Xin menggunakan taktik "terlihat membangun Zhan Dao (棧道,baca: can tao = jalan papan di lereng terjal), tetapi sesungguhnya diam-diam menyerang Chen Cang" dan berhasil menguasai Guan Zhong, sepak terjangnya sepanjang jalan bagaikan bambu yang meledak, hingga mencapai negara Qi-Lu, telah mengokohkan kunci kemenangan bagi pasukan Han. Jalur Zhan Dao adalah pemandangan unik di tanah Tiongkok, diperkirakan pada zaman Zhan Guo (403-221 SM) sudah mulai dibangun, sesudah itu setiap zaman selalu diperbaiki dan ditambah, adalah konstruksi jalan pada tepi jurang terjal yang ditopang dengan rangka penyangga dan pembuatan terowongan (untuk menembus gunung), suatu proyek raksasa diperuntukkan bagi lalu lintas manusia dan kuda. Han Zhong terletak pada sendi jalur utara-selatan, terdapat 7 jalur Zhan Dao, sedangkan Chen Cang yang strategis (kini di dalam kota Bao Ji - propinsi Shan Xi) terletak di leher botol yang menuju Guan Zhong (Jalur Zhan Dao lainnya bernama: Zi Wu, ialah jalan yang dilalui oleh Zhuge Liang ketika keluar dari gunung Qi (祁山). Sesudah Liu Bang tiba di Han Zhong, agar memberikan kesan bahwa ia akan tinggal dengan tentram di sana dan tidak lagi balik ke timur, pernah memerintahkan pemusnahan jalur Zhan Dao. Menanti setelah kekuatannya cukup untuk beradu otot dengan Xiang Yu, ia menyetujui strategi Han Xin, mengutus Fan Kuai memimpin 10.000 tentara zeni untuk merenovasi 250 km Zhan Dao, dengan taktik berteriak di timur tapi barat yang diserang, untuk menga-caukan perhatian pasukan musuh, setelah itu Han Xin memimpin lagi satu pasukan tentara elit melintasi bukit dan gunung, dengan tanpa diduga melakukan serangan mendadak di Chen Chang, dari situ dengan lancar merebut wilayah Guan Zhong. Pejabat setia Zhuge Liang dikebumikan di Han ZhongBeberapa ratus tahun kemudian, seorang jenius militer lainnya yakni Zhuge Liang juga pernah menggunakan strategi yang mirip dalam menuju ke gunung Qi. Kelihaian strategi Zhuge Liang senantiasa menjadi bahan cerita yang digemari orang. Ia bagaimana dengan cemerlang mengenali lebih dulu tipu muslihat yang dipikirkan lawan, sehingga membuat musuh jika mendengar namanya saja langsung kehilangan nyali, juga adalah teka teki yang diteliti oleh generasi penerus tapi tak pernah berhasil dipecahkan. Selain itu Zhuge Liang juga memiliki sebuah Pelajaran Di Depan Kuda yang tersiar luas, yang meramalkan tentang kejadian yang bakal terjadi di masa depan. Ramalan ini sangat singkat dan jelas, hanya 14 pelajaran, setiap pelajaran, meramal sebuah zaman sejarah, juga setiap pelajaran ditata sesuai urutannya. Setiap melewati satu zaman sejarah, maka orang-orang menengok ke belakang bisa menemukan dengan terkejut betapa tepatnya ramalan Zhuge Liang ini. Ditilik dari pelajaran ke satu : "Tak kuasa balik ke langit, mengabdi tuntas dengan sepenuh jiwa, elemen Yin menetap - elemen Yang menjauh, delapan ribu setan wanita". Zhuge Liang sudah tahu sejak awal keberuntungan dinasti Han telah habis, niat Langit telah ditetapkan, meskipun diri sendiri bisa melihat masa depan, tetapi juga tak dapat membalikkan alam semesta, segala jerih payah pasti "Tak kuasa balik ke langit". Namun ia masih harus mendayakan dengan tuntas untuk menopang kerajaan Shu Han (蜀漢), tidak ingin mengecewakan tiga kali undangan dari Liu Bei yang sebelum wafat sempat mengadopsikan anak-anaknya kepadanya dan menunaikan dengan baik misi sejarahnya sendiri. Zhuge Liang pernah 5 kali menyerang kerajaan Cao-Wei (曹魏), akhirnya meninggal dunia di Wu Zhang Yuan, tepi selatan sungai Wei, propinsi Shan Xi. Sesuai dengan yang ia tulis di dalam "Daftar Keluar dari Divisi", demi memulihkan lagi dinasti Han ia telah menguras seluruh kemampuannya untuk "mengabdi tuntas dengan sepenuh jiwa hingga ajal menjemput." Pada tahun 234 SM, Zhuge Liang dikebumikan di atas gunung Ding Jun, selatan kota Mian Xian - Han Zhong. Sekarang ini di atas gunung masih terdapat makam Wu Hou (Wu Hou adalah gelar dari Zhuge Liang), yang bangunannya kebanyakan dipugar pada zaman dinasti Ming dan Qing. Setelah Zhuge Liang wafat, pejabat Huang Hao memegang kendali kekuasaan riil mendikte di sebelah raja penerus Liu Chan, urusan ke-negaraan semakin lama semakin kacau. Orang kerdil menghadang di jalan, boleh dibilang adalah suatu keadaan yang dikatakan dengan "elemen Yin menetap - elemen Yang menjauh". Murid Zhuge Liang, Jiang Wei juga hanya bisa mempertahankan akhir yang mengenaskan. Pada tahun 263 SM, jenderal besar Cao-Wei, Zhong Hui menyerang besar-besaran ke arah selatan, jenderal besar lainnya, Deng Yi ternyata dari kabupaten Wen, propinsi Gan Su kini, mereka mengarungi gunung dan perbukitan, menembus pegunungan, menyerang langsung ke jantung kota Jiang You bagian dari Shu-Han, dan memasuki dataran Cheng Du. Sang raja Liu Chan mendengar pasukan musuh berjarak tidak terlalu jauh lagi, sama sekali ia tidak punya niatan untuk melawan, juga tak pernah membayangkan pasukan besar Jiang Wei masih utuh ditempatkan di garis de-pan, sudah lantas menyerah kalah kepada Cao-Wei, dengan demikian Shu-Han tamat riwayatnya. "Delapan ribu setan wanita" apabila digabung jadi satu adalah sebuah aksara Wei (魏). Jing Zhou: tanah sengketa antara tiga negaraKota (propinsi) Jing Zhou boleh dibilang di dalam masa itu, adalah tempat yang paling sengit diperebutkan oleh ketiga negara zaman Samkok. Di dalam 120 babak di roman sejarah Samkok/San Guo Yan Yi terdapat 2/3 judul bab diantaranya berkaitan dengan Jing Zhou, diantaranya terdapat kisah yang digemari masyarakat, yang kemudian menjadi salah satu peribahasa yang biasa dipakai sehari-hari oleh orang Tionghoa, misalnya "Liu Bei Meminjam Jing Zhou, Meminjam Tidak Dikembalikan" dan "Ceroboh Kehilangan Jing Zhou" dan lain-lain. Di sekitar Jing Zhou sejak zaman kuno terdapat pemukiman di situ, adalah Yu agung (pemimpin legendaris zaman kuno) ketika membagi negara menjadi 9 propinsi dan Jing Zhou menjadi salah satunya. Meskipun semenjak zaman Chun Qiu Zhan Guo senantiasa termasuk wilayah negara Chu, namun Jing Zhou betul-betul ditetapkan sebagai wilayah administratif pemerintahan, adalah pada zaman kaisar Han Wu, ketika negara dibagi menjadi 13 propinsi. Wilayah Jing Zhou sangat luas, membentang di utara hingga selatan sungai Yangtse, di dalam sejarah Jing Zhou memiliki "100 kota dan delapan kabupaten", termasuk seluruh propinsi Hubei dan Hunan sekarang, sebagian wilayah propinsi Henan, Guangdong, Guangxi dan Guizhou. Selain wilayahnya luas dan subur, rakyatnya makmur, geografi dan topografi yang unggul membuat Jing Zhou menjadi posisi strategis bagi bidang kemiliteran yang mudah dipertahankan tapi sulit diserang, berbagai penyebab itulah menjadikannya sebagai target oleh berbagai pihak yang berseteru. Di Jing Zhou, 3 tokoh legendaris di dalam Samkok bersama-sama tampil di satu panggung, memerankan riwa-yat legendanya masing-masing. Di bawah pengaruh seni roman, kharisma Zhuge Liang mengungguli semua orang, demi menonjolkan karakter istimewanya, image Cao Cao dan Zhou Yu lantas disengaja menjadi melenceng, Cao Cao menjadi orang kecil yang culas, Zhou Yu menjadi orang kebanyakan yang berjiwa sempit dan penuh iri dengki sehingga mencelakakan dirinya sendiri. Zhou Yu dengan gigih membalikkan situasi marabahaya dan mengokohkan eksistensi 3 negara.Ditilik dari sudut pandang zaman itu, penilaian terhadap Zhou Yu cukup tinggi. Sebenarnya sesuai catatan sejarah autentik, Zhou Yu seorang yang trampil dan bermoral, tampan dan intelek, rendah hati sekaligus percaya diri, adalah seorang yang mendekati sempurna. Di bawah kewibawaan Cao Cao, negara Dong Wu berada dalam pengaruh pro perdamaian, hanya Zhou Yu seorang dengan gigih membalikkan keadaan bahaya dan tetap teguh dalam melawan superpower serta memimpin Dong Wu dengan kekuatan lebih lemah menghantam yang lebih kuat, di dalam perang Chi Bi (Karang Merah) memperoleh kemenangan mutlak, mengokohkan kondisi 3 negara setara yang saling berhadapan. Sesudah perang Chi Bi, ketiga negara masing-masing menguasai sebagian dari Jing Zhou. Demi melawan Cao Cao dan Liu Bei, Kota Jiang Ling di Jing Zhou dipertahankan oleh Zhou Yu, sayangnya ia meninggal dunia dalam usia muda, mati karena sakit, bukannya seperti yang dikisahkan dalam roman, yakni di perdaya berulang kali sampai marah besar oleh Zhuge Liang akhirnya meninggal. Realitanya, Zhou Yu berjiwa sangat luas, selalu berusaha ramah terhadap setiap orang. Seorang jenderal tua Cheng Pu pernah mengira Zhou Yu sukses dalam usia muda pasti angkuh, maka itu ia meremehkan dan memboikotnya, tetapi Zhou Yu selalu bersikap hormat dan mengalah, pada akhirnya telah membuat haru Cheng Pu, ia mengatakan, "Berhubungan dengan tuan Zhou, bagaikan meminum arak jempolan, tak terasa sudah mabuk dengan sendirinya." (Epochtimes/whs) |
Cari Artikel di Era Baru :
Ingin berita terkini EB muncul di Beranda Anda?
Ayo, gabung bersama ribuan penggemar lainnya!

- Sepatu Hak Tinggi Sebabkan Gangguan Otot Kaki
- Percaya
- Korut Tengah Bangun Reaktor Nuklir Baru
- Chen Guangcheng Terima Paspor Dalam 15 Hari
- Peneliti Terus Selidiki Misteri Gunung Padang
- Cangkok Retina Dengan Tenaga Cahaya
- Surat Terbuka untuk Presiden Obama: Dukungan Falun Gong di China
- Penyebab dari Kegagalan
- Makhluk Laut Misterius (Video)
- Kunyit Dapat Mematikan Sel Kanker
- Biksu Korea Terekam Kamera Saat Merokok dan Berjudi
- Prajurit Angkuh Kalah Perang
- Tim SAR Temukan 10 Jenazah di Lokasi Jatuhnya Sukhoi
- Bahasa Misterius Ditemukan Dalam Tablet Kuno
- Lapan : Sukhoi Dikepung Awan Menjulang Tinggi
- Adat Pemakaman Tradisional China (1)

Han Zhong dan Jing Zhou dua kota-raja kuno pada zaman Samkok ini, bukan hanya menonjolkan sepak terjang 3 jagoan awal dinasti Han yang sangat dominan, juga mengisahkan cerita yang indah tentang Zhuge Liang (諸葛亮), Zhou Yu (周瑜) dan Cao Cao (曹操) tiga orang ini yang beradu kepandaian strategi dalam perang Chi Bi (赤壁, baca: jhe pi = karang merah). 


Mozilla Firefox