| Blogger China Buka Mulut di Hong Kong |
| Ditulis oleh Oleh: Lin Yi & Guan Shiming | Kamis, 29 Juli 2010 |
|
"Triple Doors" debut novel Han, yang diterbitkan pada waktu yang sama ia menyerah mencoba masuk ke perguruan tinggi, mengungkap isu-isu dalam sistem pendidikan China. Khususnya dikagumi oleh "generasi pasca China 80's," penulis 27 tahun ini menerbitkan buku pertamanya ketika di bangku SMP. Peringkat kedua pada 2010 dalam daftar majalah Times, dari 100 orang paling berpengaruh, Han juga adalah seorang blogger China yang paling populer sekaligus seorang pembalap mobil profesional. Pada sambutannya, Han mengangkat topik sensor sastra di China. "Bukan kekuasaan pemerintah yang langsung mensensor karya sastra. Organisasi-organisasi belum tentu mensensor karya anda, mereka hanya pergi ke penerbit dan melakukan kejahatan melalui tangan orang lain," katanya. Menyulam BenangMenjawab pertanyaan tentang bagaimana penulis dapat menghindari "menyeberangi garis" di China, Han bergurau bahwa pertanyaan yang relevan adalah bagaimana untuk menghindari menginjak garis pada pijakan pertama. "Bahkan, di negara manapun, konstitusi harus berfungsi sebagai patokan garis dasar. Namun di China, cara konstitusi difungsikan, adalah dengan waktu, bukan melewati waktu. Ketika itu terjadi, media harus menetapkan standar," ungkap Han. Menurutnya setiap pekerja media memiliki cita-cita-nya. "Akhirnya saya kira akan tidak ada garis, karena semuanya hanya bisa menahan sejumlah beban, jika terlalu berat, aka terputus dengan sendirinya," ujar Han. Han menyampaikan kepada hadirin bahwa ia pernah ingin menjadi seorang jurnalis karena dapat memberdayakan dirinya untuk mengekspos hal-hal buruk dalam masyarakat. "Belakangan saya sadar menjadi jurnalis tidak akan berhasil, karena ada editor di atas saya, dan lebih tinggi lagi masih ada lagi editor. Lalu saya merasa menjadi penulis memiliki kebebasan yang relatif lebih banyak, jadi saya mulai menulis," kisahnya. Ketika ditanya apakah ia prihatin dengan keselamatannya sendiri? keluarganya, situasi dan keselamatannyai? "Ya, saya punya, karena saya khawatir maka saya tidak akan dapat kembali ke China," jawabnya. Dia menekankan bahwa ia lebih suka tinggal di China, tetapi, jika ia harus tinggal di pengasingan, ia akan memilih Hong Kong atau Taiwan. "Saya tidak ingin politik, saya benci untuk masuk dalam literatur dan seni yang saya cintai," kata Han. Sebuah Toleransi Kota BudayaHan menyatakan bahwa ia membela Hong Kong dari para kritikus yang mencap Hongkong sebagai 'kota tanpa budaya.' Menurutnya sebuah kota yang telah menghasilkan banyak film-film yang baik, tidak mungkin menjadi kota tanpa kebudayaan. Lebih jauh lagi, ia harus toleran terhadap budaya yang berbeda. "Saya berterima kasih kepada kota ini karena telah dilindungi dan melindungi banyak sastrawan dan penulis, terutama mereka yang berasal dari daratan," tambah Han. Banyak penggemar antri menunggu tanda tangan dan berfoto setelah acara. (EpochTimes/man) |
Cari Artikel di Era Baru :
Ingin berita terkini EB muncul di Beranda Anda?
Ayo, gabung bersama ribuan penggemar lainnya!


- Video Kekerasan ABG di Bali Banjir Kecaman
- Misteri Piramida di Gunung Sadahurip
- Badai Matahari Lenyapkan Elektron Dalam Sabuk Radiasi Bumi (Video)
- Hanya Sebulan 50 Bencana Menimpa Indonesia
- Astronom Temukan Planet Layak Huni
- Dibalik Rahasia Orang Sukses
- Udumbara Bunga Surgawi
- Tahun Naga, Tahun Perubahan

Hong Kong - Salah seorang penulis China yang paling berpengaruh, Han Han, menghadiri sebuah konferensi pers di sebuah pameran buku di Hong Kong pada 22 Juli lalu. Hampir seribu penggemar berkumpul untuk melihat sekilas ikon budaya populer.





Mozilla Firefox