Era Baru News >> China News & Culture >> China Update >> Dampak Kebijakan 'Satu Anak' China
Dampak Kebijakan 'Satu Anak' China
Ditulis oleh Oleh: John Young Kamis, 26 Agustus 2010

China - Sebuah survei terbaru menunjukkan bahwa tiga perempat dari generasi pertama merasa tidak sanggup mengikuti kebijakan 'satu anak' yang diterapkan di China.

Objek survei adalah generasi pertama China yang lahir di bawah kebijakan tersebut mencapai usia kawin dan dihadapkan dengan tugas sebagai pengasuh tunggal untuk orang tua mereka.

"Sebelumnya, orang-orang punya saudara laki dan perempuan untuk berbagi beban perawatan. Sekarang tinggal pasangan saya dan Saya. Kami juga perlu bekerja dan mencari nafkah," kata Liu Hong, yang tinggal dan bekerja di Beijing, dalam sebuah wawancara dengan China Youth Daily.

Daily melakukan survey online pada 1.612 orang, 40,1 persen diantaranya adalah satu-satunya anak dalam keluarga mereka. Sebagian besar responden (57,3 persen) dilahirkan pada tahun 1980-an dan 28,1 persen lainnya lahir di tahun 1970-an. Lebih  dari setengah (53,4 persen) sudah menikah.

Pasangan menikah dari generasi ini perlu mengurus empat orang tua, baik orang tua dari istri dan suami. Tingginya biaya perumahan menimbulkan masalah bagi mereka semua untuk hidup bersama.

"Kami tidak bisa membeli apartemen terpisah untuk orang tua kami dan kami tidak dapat membawa semua orang tua kami untuk hidup bersama. Bagaimana jika salah satu dari mereka sakit parah? komentar mereka.

Ada sekitar 169 juta orang di atas usia 60 tahun di China, menurut media pemerintah, adalah 12,5 persen dari total penduduk.

Peneliti Zhu Qingfang dari Akademi Ilmu Sosial China mengatakan China menghadapi masalah penduduk manula tumbuh lebih cepat daripada rata-rata dunia dan populasi secara keseluruhan dan lebih cepat daripada pembangunan ekonomi yang dapat mendukung.

Survey tersebut menemukan bahwa 74,1 persen anak-anak yang lahir di tahun 80-an tidak mampu untuk merawat orang tua mereka karena pekerjaan dan kewajiban lainnya.

Lebih dari dua-pertiga ingin memainkan peran lebih besar dalam menjaga orang tua mereka. Setengah dari responden tinggal di kota yang berbeda dari orang tua mereka, sementara hanya lebih dari sepertiga mengatakan mereka tidak percaya panti jompo atau lembaga pelayanan sosial lainnya.

Hanya sebagian kecil dari mereka yang disurvey mengatakan mereka bersedia untuk mendelegasikan tugas memberikan perawatan kepada orang lain: tujuh persen mengatakan mereka akan menyewa pengasuh yang disediakan oleh masyarakat, dan 6,9 persen mengatakan mereka akan membawa orang tua mereka ke panti jompo.

Partai komunis China menerapkan kebijakan keluarga berencana pada tahun 1979, dibuat oleh para insinyur kedirgantaraan di bawah naungan "Marxisme ilmiah" Ada lebih dari 100 juta orang yang lahir di bawah kebijakan 'satu anak' sekarang, dan konsekuensi sosialnya sangat besar. Sebagai contoh, ada 130 laki-laki untuk setiap 100 wanita.

Menurut Yayasan Pengembangan Penuaan China, sekarang ada sekitar 4 juta lembaga pelayanan sosial bagi manula di China, dengan hampir 1,6 juta tempat tidur. Untuk setiap 1.000 manula yang berumur lebih dari 60 tahun,  rata-rata hanya tersedia sembilan tempat tidur. (EpochTimes/man)

 

Comments  

 
+1 # yu 2010-08-30 00:22
kebijakan 1 anak dilakukan untuk menekan tingkat pertumbuhan anak yg tinggi saat ituh. bila tidak akan menyebabkan ledakan penduduk dan pastinya itu berbahaya bukan?
Reply | Reply with quote | Quote