Era Baru News >> China News & Culture >> China Update >> Kampanye 'Anti Vulgar' Menyasar Artis Independen
Kampanye 'Anti Vulgar' Menyasar Artis Independen
Ditulis oleh Oleh: Michelle Yu Selasa, 31 Agustus 2010

China - Meskipun Guo Degang telah terkenal sebagai pelawak di China selama bertahun-tahun, belum pernah namanya dipublikasikan secara luas seperti bulan ini.

Pada awal Agustus 2010, hampir setiap stasiun televisi utama, surat kabar, dan situs berita mengeritiknya karena 'vulgar' buku-bukunya diambil dari rak di Beijing, klub komedinya ditutup dan penampilannya di media ditangguhkan.

Pada Mei 2010 lalu, rezim penguasa, partai komunis China mulai melihat dengan seksama acara televisi mengenai permainan berkencan. Mereka menilai bahwa acara tersebut 'vulgar' dalam promosi materialisme dan seksualitas. Oleh karenanya, acara tersebut disensor atau  dibatalkan sama sekali.

Ini adalah awal terbukanya sebuah kampanye 'anti-kevulgaran,' yang diprakarsai oleh rezim komunis China, dan diperkuat melalui media yang dikelola pemerintah serta menyapu seniman kelas bawah seperti Guo Degang.

Penulis China Li Tianxiao berpendapat bahwa tujuan sebenarnya dari kampanye 'anti-kevulgaran' adalah untuk menindak tokoh masyarakat yang tidak hormat pada rezim komunis China.

"Sebagai seniman kelas bawah yang populer sering bertindak mengambil pandangan menyindir pejabat yang korup dan penyalahgunaan kekuasaan politik mereka, Guo membuat target yang sempurna," kata Li.

Perhatian buruk menumpuk pada Guo Degang dimulai dari perselisihan antara Li Yunhe pada 1 Agustus 2010 lalu, murid Guo dan mitra komedinya dengan dua wartawan yang diduga dari Beijing TV (BTV).

Para wartawan membayar kunjungan mendadak ke rumah Guo, yang terletak di sebuah komunitas berpagar dan diminta untuk mewawancarai Guo tentang kontrak pagar dan batas-batas tanah miliknya. Guo tidak ditempat  pada saat itu. Li menolak permintaan wawancara wartawan tetapi menunjukkan izin untuk membangun pagar, yang telah dikeluarkan oleh manajemen properti. Kedua wartawan itu menolak untuk pergi dan kemudian mencoba untuk memaksa masuk ke dalam rumah. Li mendorong mereka, dan memukul salah seorang dari mereka.

Hari berikutnya BTV mengadakan konferensi pers menuntut bahwa Guo meminta maaf secara terbuka. Li sendiri mengatakan menyesal atas kejadian tersebut pada 3 Agustus 2010 lalu. Dua hari kemudian CCTV, siaran corong Partai komunis China, menayangkan 10 menit acara televisi untuk mencela Guo, tanpa menyebut namanya. Dia digambarkan sebagai vulgar dan tidak bertanggung jawab. Dalam waktu singkat media besar lainnya mengikuti, menyamakan kritik keras terhadap Guo, dengan mengingatkan bahasa perjuangan politik masa lalu, seperti 'bajingan,' 'tak tahu malu.'

Guo, lahir di Tianjin pada 1973, mulai belajar kerajinan di usia delapan tahun. Dia mulai dengan pingshu, sebuah bentuk seni bercerita China yang mendominasi gelombang radio pada 1980-an di China. Gaya komedinya menggabungkan tradisi xiangsheng (crosstalk), yang sering menggunakan sindiran untuk membikin malu penguasa.

Setelah serangan media tersebut, Guo dilempar dari pasaran. Pertunjukannya dibatalkan, buku-buku, produk audio dan videonya diambil dari rak,dan blog-nya dihapus.

Pidato Formal Pendahulu Kejadian

Kekuasaan rezim komunis China atas media dan respon cepat dan seragam dari saluran media negara, ada spekulasi luas bahwa apa yang terjadi pada Guo Degang bukan kebetulan.

Insiden ini terjadi segera setelah pidato 23 Juli diberikan oleh pemimpin rezim komunis Hu Jintao. Pidato mengkhususkan tentang bentuk hiburan cabul, mengatakan bahwa itu penting untuk tegas melawan kevulgaran dan  memperkuat ideologi sosialis.

Waktu, konteks dan pendekatan banyak menunjukkan bahwa pembredelan Guo telah didukung atau bahkan diamanatkan oleh rezim.

Peringatan Komunisme

Pada sejarah komunis China sejumlah gerakan politik mulai menyerang karya seni atau seniman. Kerusakan akibat Revolusi Kebudayaan pertengahan hingga akhir 60-an.

Orang-orang  China saat ini, bagaimanapun, tidak serta merta mengikuti gerakan politik seperti mereka 50 tahun yang lalu dan para pengguna internet telah menjadi ahli dalam menemukan celah  'menyerang berita selebriti wartawan.' Ternyata wartawan TV yang dipukul Li bukan seorang reporter sama sekali walaupun ia bekerja untuk BTV. Ketika rekaman video dari kamera pengawas diputar, menunjukkan bahwa ia telah mengungkapkan luka-lukanya secara berlebihan.

Bahkan kritik terhadap Guo di blognya muncul menjadi bagian dari skenario. Menurut laporan harian Guangzhou, postingan tersebut banyak berasal dari perusahaan propaganda online yang disewa untuk memanipulasi opini publik, bahwa seolah-olah pandangan itu dibayar untuk promosinya adalah populer dan menjadi arus utama.

Popularitas Guo tidak  perlu dipertanyakan. Dalam dekade terakhir ia telah menjalankan sebuah perusahaan komedi yang sukses. Seni tradisional yang memberikan pertunjukan langsung setiap hari, suatu keanehan di China modern. Pertunjukkannya telah menarik sejumlah besar penggemar, dan harga tiket terjual cepat. Dalam arti, Guo telah membawa seni tradisional yang sekarat hidup kembali.

Satu hal yang membedakan Guo dari pemain utama lainnya yang didukung oleh rezim adalah sindiran-sindirannya mengenai isu-isu kontemporer.

"Saat ini para pejabat mencuri uang seperti pencuri dan pencuri terorganisir dengan baik seperti pejabat. Polisi melecehkan orang-orang seperti gangster, sementara gangster bertindak sopan dan dapat melakukan semuanya untuk Anda seperti polisi," mengutip keterangan dari pertunjukan Guo, yang telah dikutip dan dikomentari  secara luas oleh pengguna internet China.

Komentator New Tang Dynasty Television (NTD Television) Jason Ma mengatakan popularitas artis-artis seperti Guo mencerminkan preferensi publik untuk hiburan tak ternoda oleh ideologi sosialis.

"Penyebab Pokok  kampanye anti kevulgaran adalah bahwa rezim telah menyadari orang-orang China merasa asing dengan budaya komunis yang dikenakan pada mereka," ujar Ma.

MenurutJason Ma kampanye  anti kevulgaran ini  adalah upaya putus asa rezim untuk merebut kembali pijakannya yang hilang.

"Seni selalu menjadi senjata rezim komunis China untuk memperkuat kontrol pikiran. Tapi ideologi komunis telah kehilangan daya tariknya, bahkan di antara pejabat rezim sendiri. Kampanye  anti kevulgaran ini  adalah upaya putus asa rezim untuk merebut kembali pijakannya yang hilang," tambah Ma.

Pada 14 Agustus 2010 malam, setelah mereda digertak media, Guo kembali membuka balai komedi dan pertunjukannya penuh penonton. Penggemar kembali menyambutnya dengan bunga dan tepuk tangan meriah. (Erabaru/man)