Era Baru News >> China News & Culture >> China Update >> Budaya Teh Tiongkok Kuno
Budaya Teh Tiongkok Kuno
Ditulis oleh Era Baru/Clearwisdom.net Rabu, 13 Oktober 2010

Ada tujuh hal yang dikhawatirkan orang Tionghoa dalam kehidupan sehari-hari mereka, Kayu bakar, beras, minyak, garam, kecap, cuka, dan teh. Meskipun teh yang terakhir dalam daftar, tetap memiliki sejarah yang signifikan dalam konotasi budaya Tiongkok.

Tiongkok adalah asal dari teh dan budaya teh, teh telah menyertai bangsa Tionghoa selama 5.000 tahun. Menawarkan secangkir teh adalah tradisi baik orang Tionghoa, dan mereka telah lama memiliki tradisi menikmati secangkir teh setelah makan.

Menurut legenda Tiongkok, teh ditemukan saat Shennongshi, salah seorang dari Tiga Kaisar Tiongkok dan dokter herbal pertama. Dia berkeliling desa mencari obat-obatan herbal.

Shennongshi memiliki perut yang transparan seperti kristal. Tidak peduli apa yang dia makan, dia bisa melihat dengan sangat jelas melalui perut transparannya.

Suatu hari Shennongshi menemukan jenis tanaman dengan daun hijau dan bunga putih, dia memakan daun tersebut.

Tiba-tiba dia melihat sesuatu yang aneh terjadi di perutnya. Daun tidak hanya bergerak di sekitar perut dan membersihkan semua makanan yang ia makan, tetapi daun itu juga meninggalkan bau harum dalam mulutnya dan rasa kesegaran.

Sejak saat itu, Shennongshi menggunakan daun tersebut untuk menetralkan racun. Dia sangat senang untuk mengetahui pengaruh detoksifikasi daun tersebut. Dia percaya penemuan yang ia beri nama "cha", (teh) telah diberikan Dewa sebagai penghargaan mereka atas kebaikannya dalam mencoba untuk mencari tanaman obat untuk mengobati penyakit masyarakat dalam usia tuanya.

Dari Minum Teh ke Mencicipi Teh

Setelah teh diminum ditemukan dia melewati beberapa tahap perjalanan. Hari ini, air mendidih digunakan untuk membuat teh dari daun teh. Pada zaman kuno, teh digunakan sebagai obat. Orang-orang memotong ranting-ranting dari pohon teh liar, mengambil ujung daun,  mereka rebus kemudian airnya diminum. Ini disebut "bubur teh" atau "teh pahit,"  pembuatan teh  dengan cara ini sangat pahit.

Suasana di sebuah perjamuan teh biasanya khusyuk dan elegan dan mengikuti aturan tatakrama yang ketat.

Pada zaman Dinasti Qin dan Han, orang mengembangkan metode baru untuk mempersiapkan dan menggunakan teh. Sebagai ganti merebus daun teh segar, mereka memanggang daun teh kemudian menggilingnya jadi bubuk. Air mendidih ditambahkan untuk membuat teh. Mereka menambahkan daun kucai, jahe, dan jeruk ke dalamnya dan menyebutnya sebagai "teh panggang."

Budaya teh menjadi populer selama Dinasti Tang. Secara bertahap budaya 'minum teh' menjadi 'mencicipi teh.' Juga populer adalah perjamuan teh yang diadakan di istana kerajaan, di kuil-kuil, dan di antara para cendikiawan.

Suasana perjamuan teh  biasanya hidmat dan anggun dan diikuti oleh peraturan tatakrama yang ketat. Teh yang di sajikan harus yang berkwalitas terbaik dan airnya harus dari mata air yang terkenal. Tempat teh juga harus langka dan berkwalitas tinggi.

Perjamuan teh biasanya diawali oleh seorang yang bertugas untuk mencampur teh, atau  mengawasi pencampuran teh, untuk menghormati para tamu. Kemudian dilanjutkan dengan memperagakan teh, menerima teh, mencium baunya, menjaga warna dari teh dan mencicipi teh. Setelah tiga putaran, orang-orang akan mulai memberi komentar tentang teh itu, memuji kwalitas karakter moral dari tuan rumah, menikmati pemandangan dan berbincang atau menulis puisi atau sajak.

Dao Teh

Pada Dinasti Ming, orang-orang menuangkan air langsung ke dalam poci teh atau secangkir dengan daun teh lepas di dalamnya, membuat minum teh lebih sederhana dan lebih nyaman. Namun, sebagian besar hanya 'minum teh' daripada 'mencicipi teh.'

Ada seorang pria bernama Lu Yu pada Dinasti Tang, setelah bertahun-tahun mengamati  dan meneliti, menulis sebuah buku berjudul 'Cha Jing'. Buku ini meringkas satu perangkat metode, dari menanam teh sampai  memetik teh dan membuat rasa teh serta mencicipi teh.  Ini juga menggambarkan konotasi budaya yang mendalam dari seni teh, memberikan bentuk awal teh Dao. Orang-orang di generasi berikutnya menyebut 'Kebijakan Teh' Lu Yu

Budaya Teh mencerminkan  karakteristik budaya tradisional timur  yaitu suatu kombinasi dari 'teh' dan 'Dao.' Di China kuno ada Dao di semua perdagangan dan profesi, dan orang-orang juga tertarik dalam mengejar Dao. Oleh karena itu, ada juga Dao dalam mencicipi teh.

Dao Teh adalah khusus tentang "keharmonisan, ketenangan, kepuasan, dan kebenaran," dan menganggap "ketenangan" sebagai jalan bagi seseorang yang harus diikuti untuk mencapai keadaan tidak mementingkan diri sendiri. Ketenangan dalam Dao teh China mengacu pada ketenangan di dunia rohani, ketenangan eksternal atau kesunyian. Selama menjaga ketenangan mendalam, kita masih bisa menikmati percakapan, tawa, musik, atau opera.

Budaya Teh adalah sejenis budaya "perantara", dimana teh berfungsi sebagai pembawa untuk meneruskan dan melanjutkan semangat budaya tradisional Tiongkok kuno. Seperti Liu Zhenliang dari Dinasti Tang mengatakan dalam sepuluh kebajikan minum teh, "Teh dapat membawa Dao, dan teh dapat menjernihkan pikiran seseorang." (EpochTimes/man)

Sumber: Clearwisdom.net.