Era Baru News >> China News & Culture >> China Update >> Pasukan China Masuki Korut
Pasukan China Masuki Korut
Ditulis oleh Oleh: Wen Long & Rona Rui Jumat, 21 Januari 2011

alt

Pada 15 Januari Chosun Ilbo media Korea Selatan (Korsel) melaporkan bahwa pasukan China baru-baru ini memasuki Korea Utara (Korut). Jika benar, ini akan menjadi tentara China pertama yang memasuki semenanjung Korea dalam 50 tahun sejak Perang Korea berakhir.

Langkah ini dianggap sangat tidak biasa, dan menambah ketegangan di Semenanjung Korea.

Meskipun jumlah kekuatan pasukan China yang memasuki Korut belum diketahui, sumber mengatakan bahwa, "Pada tengah malam pada 15 Desember 2010, lebih dari 50 kendaraan lapis baja dan tank China memasuki Hoeryong, Korut menyeberangi Sungai Tumen (Sungai Duman) dari Sanhe, China, dan penduduk Sanhe terbangun oleh deru kendaraan lapis baja," lapor Chosun Ilbo. (http://chinese.chosun.com/big5/site/data/html_dir/2011/01/15/20110115000006.html)

Dalam waktu yang sama, beberapa orang di Dandong, China juga melihat jeep militer memasuki Sinuiju, Korut.

"Kendaraan lapis baja China dapat digunakan untuk menekan kerusuhan, dan jip mungkin digunakan untuk mengontrol para pengungsi melarikan diri dari Korut."

Media Korsel dan China baru-baru ini melaporkan bahwa pekerja China telah menyelesaikan pembangunan pemeliharaan di pelabuhan Rason. Motivasi militer China memasuki Korut bukan untuk tujuan politik ataupun militer, melainkan menjaga fasilitas di pelabuhan dan melindungi pekerja China, kata laporan itu, mengutip kata pejabat Cheongwadae (Gedung Putihnya Korsel).

Rezim komunis China menggunakan kesempatan penempatan tentara di Rason dan mengirim dalam jumlah besar pasukan untuk campur tangan di Semenanjung Korea dengan alasan untuk melindungi warga negara China dalam setiap kerusuhan, Nam Joo-Hong, Duta Besar untuk Keamanan Internasional Korsel dari Departemen Luar Negeri dan Perdagangan mengatakan dalam laporan yang sama.

Seorang sumber mengatakan kepada Dong-A Ilbo Korsel boleh jadi militer China dapat mengirim pasukan ke Pyongyang pada akhir tahun 2010 dengan maksud memberikan bantuan untuk program modernisasi militer Korut, pasukan diperkirakan sebanyak 2 sampai 3 resimen dengan setidaknya beberapa ribu tentara, dan beberapa komandan pasukan menerima pelatihan bahasa Korea dan geografi, menurut laporan sebelumnya oleh laporan Chosun Ilbo pada 20 Oktober, 2010. (http://news.chosun.com/site/data/html_dir/2010/10/20/2010102000337.html?Dep1=news&Dep2=headline1&Dep3=h1_01_rel01)

Dong-A Ilbo menyatakan bahwa meskipun Kim Jong-il masih hidup, Korut sebenarnya ingin mengandalkan pasukan China di Pyongyang untuk melindungi Kim Jong-un selama kekacauan kalau Kim Jong-il meninggal; sumber pemerintah Korsel mengatakan bahwa mengizinkan pasukan China untuk masuk adalah bertentangan dengan prinsip-prinsip otoritas Korut, dan oleh karena itu tidak masuk akal, menurut laporan yang sama.

Opini publik Korsel menyatakan bahwa, penempatan setiap orang China di Korut di tengah ketegangan yang terus berkembang di Semenanjung Korea sangat tidak biasa, dan beberapa pengguna internet Korsel menganggap masuknya pasukan China ke Korut adalah masalah yang lebih serius daripada masalah Korut memiliki senjata nuklir.

Dukungan Korut Terhadap China

Hu Ping dari Majalah Beijing Spring mengatakan kepada The Epoch Times bahwa rezim komunis China mengirim pasukan ke Korut untuk mendukung Kim Jong-il dan putranya.

"Ini akan menjadi tamparan berat buat China, jika Korut runtuh dan bersatu dengan Korsel. Oleh karena itu rezim komunis China dengan sepenuh hati mendukung Korut," katanya.

Dia menambahkan bahwa itu tidak realistis bagi Amerika Serikat dan masyarakat internasional untuk mengharapkan China untuk memainkan peran sebagai bangsa yang serius dan bertanggung jawab dalam urusan internasional.

Rezim China tidak mungkin menginformasikan kepada Amerika Serikat mengenai aliansi militernya dengan Korut selama periode sensitif menjelang kunjungan Hu Jintao ke Amerika Serikat, kata komentator politik, Wen Zhao selama wawancara dengan The Epoch Times.

Wen mencurigai Kim Jong-il berada dalam kesulitan jika rezim China mengirim pasukan ke Korut. Kim khawatir bahwa jika ia meninggal anaknya akan membutuhkan perlindungan pasukan China untuk "melewati masa rapuh dan periode yang tidak jelas karena banyak huru-hara."

Wen juga berkomentar bahwa rezim China tidak berani secara terbuka menyatakan atau mengakui bahwa pasukan China telah memasuki Korut.

Komentator politik lainnya, Chen Pokong, menyatakan bahwa Korut telah memprovokasi Korsel dengan serangkaian tindakan militer; Kim Jong-il takut bahwa Amerika Serikat dan Korsel sangat mungkin menyatukan kekuatan untuk melawan Korut Oleh karena itu Kim, tergantung pada tentara China untuk memperkuat rezimnya dalam setiap krisis.

Selain itu, jika rezim Kim runtuh, rezim China mungkin menjadi sasaran berikutnya Amerika Serikat; sehingga merasa perlu untuk pamer kekuatan militer di semenanjung Korea dan mengirim pesan bahwa tidak akan duduk dan menonton jika rezim Kim berada dalam bahaya.

Saat ini aliansi yang terdiri dari Amerika Serikat, Jepang dan Korsel tumbuh lebih kuat, dan armada yang terdiri dari tiga kapal induk AS, ditempatkan di Asia Timur.

Presiden Korsel, Lee Myung-bak menyatakan baru-baru ini bahwa, tahun ini merupakan tahun yang penting bagi penyatuan semenanjung Korea. Penyebaran pasukan China di Korut niscaya akan menyulitkan situasi di Semenanjung Korea, dan menambahkan lebih banyak variabel yang tidak dikenal untuk rencana 'reunifikasi' Lee Myung-bak. (EpochTimes/dia)