|

Kemarau panjang yang sedang berlangsung di China tengah dan timur tidak pernah ada dalam 50 atau 100 tahun yang telah mengeringkan banyak sungai. Provinsi-provinsi Aliran Hilir dekat Dam Tiga Ngarai telah kena imbasnya, Sungai Yangtze menjadi surut, dan danau air tawar terbesar di China hampir kering, mendorong sistem ekologi di wilayah yang luas diambang bencana.
Kegiatan manusia juga kena dampak buruknya. Meyebabkan berkurangnya pasokan air minum dan irigasi, tanaman padi menjadi mati dan kapal-kapal kargo terdampar.
Dan ancaman kepunahan salah satu jenis satwa menjadi sorotan atas semua masalah ini.
Air mata Lumba-lumba Tak Bersirip
Cagar Alam di lingkar Tian-e-Zhou, lahan basah aliran sungai Yangtze di kota Shishou dekat Propinsi Hube China Tengah, adalah tempat bagi lumba-lumba tak bersirip yang terancam punah.
Selama musim berbiak tahun ini, yang berlangsung dari bulan April sampai Juni, kekeringan terburuk dalam 50 tahun telah menyebabkan permukaan air di sebagian besar cadangan air turun hingga kurang dari 10 kaki (3 meter), dan bahkan serendah 6 kaki di beberapa tempat, sangat mengancam kelangsungan hidup lumba-lumba tanpa sirip, Yangtze Daily melaporkan pada 21 Mei.
Manusia juga berkontribusi terhadap kondisi air yang rendah di cadangan air. Meskipun mengambil air yang mengalir dari Yangtze ke cadangan ini adalah sangat dilarang, warga dari desa-desa terdekat mengoperasikan pompa 24 jam sehari untuk memenuhi kebutuhan air mereka sendiri selama musim kemarau.
Tingkat air yang rendah tidak hanya mengancam lumba-lumba ini, tetapi juga membuat mereka agak sedih, menurut laporan media China. Satu laporan menceritakan bahwa ketika staf peneliti di cadangan air memantau salah satu kesehatan mamalia tersebut, seorang wartawan mengambil foto binatang itu dengan air mata menetes dari matanya.
Danau Poyang
Danau Poyang, danau air tawar terbesar China dikatakan mengalami kekeringan terburuk dalam 100 tahun, menampung hanya sepersepuluh tingkat air tahun lalu. Danau-danau di beberapa daerah telah benar-benar kering, dengan retakan tanah selebar empat inci. Mobil sekarang bisa melintas di dasar danau, China National Radio (CNR) melaporkan pada 21 Mei.
Wang Qiaolong yang bekerja di Cagar Alam Danau Poyang selama 28 tahun, mengatakan kepada CNR bahwa kekeringan telah membunuh sejumlah besar tanaman air, ikan, kerang, dan remis, yang pada gilirannya mengancam migrasi burung.
Tanaman Padi Juga dalam Bahaya
Seorang staf pemerintah Kabupaten Poyang mengatakan kepada The Epoch Times bahwa bencana sangat parah dan semua waduk dan danau hampir kering.
"Sungai Yangtze adalah dalam proses pengeringan dan Danau Poyang telah lama kering. ‘Langit’ tidak mengirim hujan, tidak akan ada panen sama sekali. Provinsi Jiangxi merupakan produsen palawija yang penting bagi negara, tapi tahun ini kita sudah tidak menghasilkan apapun," katanya.
Dari 131 pompa irigasi besar dan menengah di kota-kota Nanchang, Jiujiang, dan Shangrao, Provinsi Jiangxi, belum memompa air seperti biasa karena tingkat air yang rendah di Danau Poyang.
Sekitar 878.000 hektar padi kena dampak awal musim Propinsi Jiangxi. Dipertengahan musim panen sekitar 231.000 hektar lahan tidak dapat ditanami karena tidak ada air di sawah, kata media pemerintah pada 21 Mei.
Di Provinsi Hunan, daerah produksi beras terbesar lainnya, 40 kabupaten berada di bawah kekeringan yang parah.
Yang paling terpukul adalah kabupaten Xinhua, dimana 90 persen dari ladang tidak dapat ditanami. (EpochTimes/man) |