| Cerita Duka Warga Kelas Dua Tiongkok |
| Ditulis oleh Erabaru | Selasa, 18 Oktober 2011 |
|
Tingkat urbanisasi Tiongkok yang tinggi, sejauh ini sudah menimbulkan banyak masalah misalnya para pendatang diperlakukan sebagai warga kelas dua. Sebagian dari mereka adalah warga desa yang berangkat ke kota untuk mencari penghasilan yang lebih baik. Kehidupan di perkotaan ternyata tak sebaik yang dibayangkan para pekerja migran Tiongkok. Meski tinggal di kota, warga pendatang ini masih tercatat sebagai penduduk desa yang tergusur. Akibatnya, mereka tidak memiliki sistem pengamanan sosial dan harus membayar mahal hanya untuk memasukkan anak mereka ke sekolah negeri. Sehingga sebagian besar dari mereka memilih untuk tidak menyekolahkan anak-anaknya. Tak seperti orang tua mereka, para generasi kedua pekerja migran ini mulai memahami hak-haknya. Dan mereka mulai merasa frustrasi atas perlakuan yang mereka terima di berbagai kota. Bulan Juni lalu pecah kerusuhan di Provinsi Guangdong di kawasan selatan Tiongkok. Kerusuhan pecah setelah rumor tentang polisi memukuli pedagang kaki lima hingga tewas saat tengah membawa istrinya yang tengah hamil. Sejumlah aksi protes juga pecah di berbagai kota sentra industri yang menunjukkan rasa frustrasi para pekerja migran atas ketidakadilan dan semakin lebarnya jurang pemisah antara si miskin dan si kaya. Gelombang besar urbanisasi Diperkirakan lebih dari 100 juta petani Tiongkok akan pindah ke perkotaan pada 2020 mendatang. Ramalan ini memberikan tantangan baru bagi para perancang perkotaan. Tiongkok kini menghadapi gelombang urbanisasi besar-besaran setelah jutaan pekerja migran membanjiri perkotaan mengadu nasib untuk menjadi buruh. Proses urbanisasi yang kemudian menyediakan tenaga kerja murah ini ternyata membantu Tiongkok berkembang. Baru-baru ini pemerintah merilis laporan bahwa pada 2020 diramalkan penduduk perkotaan akan dipadati sedikitnya 800 juta orang. Ramalan pemerintah ini berdasarkan pada survei populasi migran di 106 kota tahun lalu. Survei itu menemukan bahwa 20% keluarga buruh migran mengeluarkan uang lebih besar dari yang mereka dapatkan. Dan kurang dari setengah keluarga buruh migran yang menyisihkan pendapatan mereka untuk asuransi kesehatan atau dana pensiun. (Erabaru/BBC.Co.Uk/sua) |
Cari Artikel di Era Baru :
Ingin berita terkini EB muncul di Beranda Anda?
Ayo, gabung bersama ribuan penggemar lainnya!

- Sepatu Hak Tinggi Sebabkan Gangguan Otot Kaki
- Percaya
- Korut Tengah Bangun Reaktor Nuklir Baru
- Chen Guangcheng Terima Paspor Dalam 15 Hari
- Peneliti Terus Selidiki Misteri Gunung Padang
- Cangkok Retina Dengan Tenaga Cahaya
- Surat Terbuka untuk Presiden Obama: Dukungan Falun Gong di China
- Penyebab dari Kegagalan
- Makhluk Laut Misterius (Video)
- Kunyit Dapat Mematikan Sel Kanker
- Biksu Korea Terekam Kamera Saat Merokok dan Berjudi
- Prajurit Angkuh Kalah Perang
- Tim SAR Temukan 10 Jenazah di Lokasi Jatuhnya Sukhoi
- Bahasa Misterius Ditemukan Dalam Tablet Kuno
- Lapan : Sukhoi Dikepung Awan Menjulang Tinggi
- Adat Pemakaman Tradisional China (1)





Mozilla Firefox